GEBRAK.ID -- Di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, semangat literasi justru tumbuh dari sebuah ruang baca sederhana di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lasan Baca kini menjadi tempat anak-anak belajar membaca, bercerita, hingga membangun rasa percaya diri lewat metode belajar yang menyenangkan.
TBM yang berdiri pada 2024 itu perlahan menjadi oase pendidikan bagi anak-anak desa. Suasana belajar di sana jauh dari kesan kaku. Anak-anak diajak bermain, mendengar dongeng, berdiskusi, hingga belajar membaca melalui pendekatan yang lebih dekat dengan dunia mereka.
Pegiat literasi sekaligus guru SMPN 3 Malinau Selatan Hilir, Zsazsa Suharningtyas, mengatakan TBM Lasan Baca lahir dari kegelisahan melihat masih adanya anak-anak yang belum lancar membaca, bahkan hingga jenjang SMP.
“Kami menemukan masih ada murid kelas tiga SD bahkan SMP yang belum bisa membaca. Itu yang menjadi motivasi kami bergerak,” ujar Zsazsa dalam gelar wicara “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara” di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut Zsazsa, tantangan geografis di Malinau memang tidak mudah. Sebagian wilayah masih sulit dijangkau, sementara akses terhadap buku dan fasilitas belajar juga terbatas. Namun kondisi itu tidak membuat para relawan menyerah.
Mereka justru mencoba menghadirkan konsep belajar yang lebih menyenangkan agar anak-anak tertarik datang ke TBM. Pendekatan belajar sambil bermain dipilih karena dinilai lebih efektif membangun minat baca.
“Kami mengubah konsep belajar menjadi belajar sambil bermain dan bercerita agar anak-anak merasa senang,” kata Zsaszsa.
Perubahan positif mulai terlihat. Salah satu anak binaan yang sebelumnya kesulitan membaca dan selalu berada di peringkat bawah di sekolah, kini berhasil masuk 10 besar terbaik di kelasnya.
“Puji Tuhan, sekarang anak tersebut bisa masuk dalam peringkat 10 besar terbaik,” ungkap Zsazsa dengan haru.
Saat ini, TBM Lasan Baca memiliki sekitar 65 anak aktif yang didampingi 12 relawan. Mereka bekerja secara sukarela dengan satu tujuan sederhana, yakni menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak desa.
Selain dukungan relawan, keberadaan buku bacaan bermutu dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melalui Perpustakaan Nasional RI juga dinilai membantu meningkatkan minat baca anak-anak.
Menurut Zsazsa, buku-buku tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat sehingga lebih mudah dipahami dan disukai. “Cerita-ceritanya dekat dengan kehidupan lokal dan sangat disukai anak-anak,” ujarnya.
Kegiatan gelar wicara tersebut diselenggarakan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Program INOVASI sebagai bagian dari penguatan Gerakan Literasi Nasional.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menilai kisah dari Malinau membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti membangun budaya literasi.
Hafidz menyebut praktik baik di daerah perbatasan itu dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia dalam memperkuat pendidikan berbasis kolaborasi masyarakat.
“Malinau menunjukkan bahwa dengan keterbatasan justru lahir inovasi dan kreativitas yang luar biasa,” kata Hafidz.
Data terbaru juga menunjukkan perkembangan signifikan gerakan literasi di Malinau. Jumlah Taman Bacaan Masyarakat meningkat dari hanya lima unit pada 2020 menjadi 96 unit pada 2026. Sementara jumlah pegiat literasi melonjak dari 11 orang menjadi sekitar 768 orang.
Bagi para relawan TBM Lasan Baca, perubahan itu menjadi bukti bahwa gerakan kecil dari desa terpencil pun dapat memberi dampak besar.
“Prinsip kami adalah melayani dengan hati untuk mengubah keadaan di desa. Kami percaya, meski dari daerah terpencil, kami tetap bisa ikut berperan membangun Indonesia yang lebih baik,” kata Zsazsa menandaskan.
(Sumber: Humas Kemendikdasmen)
