Wisatawan Mancanegara Kagumi Indonesia: Bukan Cuma Alam dan Kuliner, tapi Budaya Tertib di Stasiun hingga Perlintasan KA

Sejumlah wisatawan mancanegara berjalan di peron stasiun kereta api (KA) di Indonesia. (Foto: Tangkapan layar WA)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA — Indonesia ternyata tidak hanya meninggalkan kesan lewat keindahan alam, kuliner, atau keramahan masyarakatnya. Hal-hal sederhana yang sering dianggap sepele, seperti budaya antre di stasiun, tertib saat menunggu kereta, hingga menghormati pengguna ruang publik lain, diam-diam ikut membentuk pengalaman wisatawan mancanegara selama berada di Tanah Air.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah wisatawan asing yang memilih menggunakan layanan kereta api (KA) untuk menjelajahi berbagai kota di Pulau Jawa dan Sumatra.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat sebanyak 180.670 wisatawan mancanegara menggunakan layanan kereta api jarak jauh sepanjang Januari hingga April 2026. Khusus April 2026, jumlah penumpang wisatawan asing bahkan mencapai 51.565 orang dan menjadi angka tertinggi sepanjang tahun ini.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan pengalaman wisatawan selama berada di Indonesia seringkali terbentuk dari suasana kecil yang mereka lihat secara langsung di ruang publik.

“Wisatawan biasanya mengingat suasana yang mereka rasakan selama berada di sebuah negara. Dari cara masyarakat menunggu kereta api, suasana di stasiun, sampai bagaimana orang saling menghargai di ruang publik. Hal-hal seperti itu yang sering membekas dalam ingatan mereka,” ujar Anne, Kamis (14/5/2026).

Budaya Tertib Jadi Pengalaman Wisata Tersendiri

Menurut Anne, kereta api kini bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata di Indonesia.

Dalam perjalanan antarkota, wisatawan bisa menyaksikan langsung dinamika kehidupan masyarakat sehari-hari, mulai dari suasana stasiun, kawasan perkotaan, hingga lingkungan di sekitar jalur rel. Di situlah budaya tertib masyarakat Indonesia ikut memberikan kesan tersendiri.

Pemandangan sederhana seperti pengguna jalan yang berhenti di perlintasan sebidang saat kereta melintas, penumpang yang memberi kesempatan orang lain turun lebih dulu, hingga masyarakat yang tetap tertib di tengah keramaian stasiun menjadi pengalaman sosial yang jarang disadari namun membekas bagi wisatawan asing.

“Perlintasan sebidang menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga keselamatan perjalanan bersama,” kata Anne.

Anne menambahkan, ketika masyarakat mau menunggu dengan tertib dan mendahulukan perjalanan kereta api, suasana itu menciptakan rasa aman dan nyaman yang turut dirasakan wisatawan.

Wisatawan Asing Mulai Gemar Naik Kereta di Indonesia

Meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara pengguna kereta api menunjukkan bahwa moda transportasi ini mulai menjadi bagian penting dari pariwisata Indonesia.

Selain dinilai praktis dan nyaman, perjalanan kereta juga memberikan pengalaman berbeda karena wisatawan bisa melihat langsung kehidupan masyarakat lokal selama perjalanan berlangsung.

Sejumlah stasiun besar menjadi titik keberangkatan favorit wisatawan asing sepanjang Januari hingga April 2026. Stasiun Gambir menjadi stasiun dengan jumlah wisatawan asing tertinggi mencapai 29.013 pelanggan. Disusul Stasiun Yogyakarta sebanyak 26.365 pelanggan dan Stasiun Bandung dengan 15.780 pelanggan.

Selain itu, wisatawan asing juga banyak menggunakan layanan dari Stasiun Pasar Senen, Surabaya Gubeng, Semarang Tawang, Malang, Surabaya Pasar Turi, Cirebon, hingga Solo Balapan.

Fenomena ini menunjukkan perjalanan kereta api perlahan menjadi bagian dari gaya wisata baru di Indonesia, terutama bagi turis yang ingin menikmati suasana lokal secara lebih dekat.

Kesan Positif Indonesia Datang dari Hal Sederhana

Anne menilai kesan positif wisatawan seringkali muncul bukan dari hal besar, melainkan dari pengalaman sederhana yang mereka alami secara langsung.

Ada wisatawan yang merasa nyaman karena suasana stasiun tertib meski ramai. Adapula yang mengaku kagum melihat masyarakat tetap menghormati aturan keselamatan di ruang publik.

Menurutnya, pengalaman kecil seperti itulah yang kemudian menjadi cerita saat wisatawan kembali ke negaranya masing-masing.

“Ketika wisatawan merasa nyaman selama perjalanan dan melihat suasana masyarakat yang tertib, kesan positif itu biasanya akan mereka ceritakan kepada orang lain,” ujar Anne.

Anne menambahkan, cerita positif dari wisatawan asing secara tidak langsung ikut membangun citra Indonesia di mata dunia.

Karena itu, budaya tertib di ruang publik dinilai bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi juga bagian penting dari wajah pariwisata Indonesia modern.

Di tengah meningkatnya mobilitas wisatawan global, pengalaman nyaman selama perjalanan bisa menjadi faktor yang membuat turis ingin kembali datang ke Indonesia.

(Sumber: PT KAI)