Dari Wilayah Perbatasan Indonesia-Malaysia, Gerakan Literasi di Malinau Tumbuh Pesat hingga Jadi Sorotan Nasional

Gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara” yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen bersama Program INOVASI, kemitraan pendidikan Indonesia-Australia, Kamis (21/5/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID; MALINAU – Di tengah keterbatasan akses dan tantangan geografis wilayah perbatasan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, justru menunjukkan perkembangan literasi yang mencuri perhatian. Dari daerah yang sebagian besar masih dikelilingi hutan dan hanya bisa dijangkau lewat jalur sungai maupun perjalanan darat panjang, gerakan membaca tumbuh lewat kolaborasi masyarakat hingga tingkat desa.

Kisah Malinau itu menjadi sorotan dalam gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara” yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen bersama Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan pendidikan Indonesia-Australia.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan pengalaman Malinau membuktikan bahwa keterbatasan wilayah bukan alasan untuk tertinggal dalam pembangunan pendidikan dan budaya baca.

“Orang sering menganggap wilayah perbatasan atau daerah 3T memiliki banyak keterbatasan. Tetapi Malinau justru memperlihatkan bahwa dari keterbatasan lahir inovasi dan kreativitas luar biasa,” ujar Hafidz, di Kantor Badan Bahasa, Jakarta, pada Kamis (21/5/2026).


Menurut Hafidz, literasi menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Ia menegaskan pendidikan dan literasi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

“Literasi bukan hanya soal bisa membaca dan menulis, tetapi bagaimana seseorang memahami informasi, berpikir kritis, dan membangun pengetahuan,” kata Hafidz.

Hafidz juga mengungkapkan capaian Kalimantan Utara dalam Indeks Kegemaran Membaca berada di atas rata-rata nasional. Pada 2025, indeks nasional tercatat 54,8, sementara Kalimantan Utara mencapai angka 58,89.

Angka tersebut dinilai bukan hasil instan, melainkan buah dari gerakan bersama yang dibangun secara konsisten, terutama di Kabupaten Malinau.

Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Maylenty Wempi, mengatakan keberhasilan gerakan literasi di daerahnya lahir dari keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, komunitas, hingga keluarga. “Gerakan literasi di Malinau bukan hanya tugas pemerintah. Semua ikut mengambil peran,” ujarnya.

Menurut Maylenty, keluarga menjadi pintu awal untuk membangun budaya membaca di masyarakat. Karena itu, pendekatan berbasis keluarga dan budaya lokal terus diperkuat agar masyarakat lebih mudah terlibat.

Malinau memiliki tantangan tersendiri karena merupakan wilayah luas dengan keberagaman budaya dan 11 suku asli. Namun kondisi itu justru dijadikan kekuatan dalam membangun gerakan literasi berbasis kearifan lokal. “Kami sadar pendekatan budaya dan bahasa lokal penting agar masyarakat merasa dekat dengan gerakan literasi,” katanya.

Perkembangan gerakan membaca di Malinau terlihat dari meningkatnya jumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan pegiat literasi dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2020, jumlah TBM di wilayah tersebut meningkat dari hanya lima unit menjadi 96 unit pada 2026.

Tak hanya itu, jumlah pegiat literasi juga melonjak drastis dari 11 orang menjadi sekitar 768 orang.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor mampu memperkuat ekosistem literasi secara berkelanjutan, bahkan di wilayah yang memiliki keterbatasan akses.

Pemerintah berharap praktik baik dari Malinau dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun budaya membaca dan pendidikan yang lebih inklusif di seluruh Indonesia.

(Sumber: Humas Kemendikdasmen)