![]() |
| Di balik perang Iran, bisnis pertahanan menjadi bisnis yang paling meraup untung besar. (Foto: istimewa) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA – Konflik bersenjata antara Iran, AS, dan Israel yang pecah sejak akhir Februari 2026 tidak hanya memicu kekacauan geopolitik, tetapi juga menciptakan kekayaan luar biasa bagi segelintir perusahaan global. Di saat harga pangan dan BBM meroket di Indonesia, empat sektor strategis justru meraup keuntungan milyaran dolar.
Berikut adalah 7 perusahaan paling diuntungkan dari Perang Iran 2026 yang terbagi dalam empat sektor: Minyak, Pertahanan, Mobil Listrik (EV), dan Energi Terbarukan.
1. SEKTOR MINYAK & GAS: Untung dari Volatilitas Harga
Ironisnya, meskipun perang dipicu oleh isu energi, perusahaan migas besar justru mencatat laba tertinggi dalam satu dekade. Mereka diuntungkan oleh margin perdagangan yang melebar akibat kekhawatiran pasokan dari Selat Hormuz.
Perusahaan Keuntungan (Kuartal I 2026)
• Shell (Inggris/Belanda) Laba US$6,92 miliar (Rp 120,8 triliun) – naik 35% YoY BBC Indonesia
• BP (Inggris) Laba US$3,2 miliar (Rp 55,8 triliun) – berkat divisi perdagangan BBC Indonesia
• TotalEnergies (Prancis) Laba US$5,4 miliar (Rp 94,2 triliun) – naik hampir sepertiga BBC Indonesia
Divisi perdagangan komoditas (trading desk) dari Shell dan BP mampu membaca flukutasi harga minyak mentah (WTI sempat menembus US$120 per barel) dan mengamankan pasokan dari kawasan non-Timur Tengah seperti AS dan Venezuela.
2. SEKTOR PERTAHANAN: Pemasok Utama Senjata Perang Modern
Jika minyak adalah "darah" perang, maka perusahaan pertahanan adalah "tulang punggung" industri perang. Saham-saham mereka melonjak bahkan sebelum rudal pertama diluncurkan.
Perusahaan Produk Andalan Kinerja Saham 2026
• Lockheed Martin (AS) Jet F-35, rudal PAC-3 Naik 33% – tertinggi sepanjang masa
• RTX / Raytheon (AS) Rudal Tomahawk, sistem Patriot Naik 8-10% stabil di tengah perang
• Northrop Grumman (AS) Pesawat siluman B-21, drone Naik 25% sejak Januari
• Palantir (AS) AI perang (Maven System) Lonjakan 17% dalam sebulan
Fakta menariknya, Lockheed Martin baru saja mengamankan kontrak darurat USD 4,7 Miliar (Rp 78 triliun) dari Pentagon untuk mempercepat produksi rudal pencegat yang habis digunakan di Laut Merah.
3. SEKTOR MOBIL LISTRIK (EV): Momen Emas Produsen China
Lonjakan harga BBM global secara drastis mengubah perilaku konsumen. Masyarakat dunia berbondong-bondong meninggalkan mobil berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik. Produsen China adalah pemenang terbesarnya.
• BYD (China)
· Ekspor Maret 2026: Melonjak 140% secara tahunan (YoY).
· Target 2026: Mengekspor 1,3 juta unit EV ke Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.
· Penyebab: Harga BBM di Eropa yang tembus €2 per liter membuat BYD Atto 3 laris manis.
• Geely & Chery (China)
· Menyusul di posisi kedua dan ketiga eksportir EV. Ekspor gabungan keduanya naik 70% YoY pada April 2026.
Dampak ke Indonesia, Menteri Perindustrian mencatat kenaikan permintaan mobil listrik China di dalam negeri hingga 45% selama Maret-Mei 2026, meskipun infrastruktur pengisian daya masih terbatas.
4. SEKTOR ENERGI TERBARUKAN: "Green Rush" di Tengah Krisis
Konflik ini menjadi katalis pahit yang memaksa negara-negara Eropa dan AS mempercepat transisi energi. Investor keluar dari saham fosil yang volatil dan beralih ke saham hijau.
Perusahaan Produk Keuntungan
• NextEra Energy (AS) Pembangkit listrik tenaga surya & angin Saham naik 17% sepanjang 2026
• Vestas & Orsted (Denmark) Turbin angin lepas pantai Laba melonjak, pesanan menumpuk
• Octopus Energy (Inggris) Panel surya & pompa panas Penjualan panel surya naik 50% sejak akhir Februari
Lonjakan harga bensin juga ikut meningkatkan permintaan kendaraan listrik. Momen emas ini dimanfaatkan dengan sangat baik oleh para produsen otomotif, khususnya dari China, untuk menangkap peluang pasar global.
Siapa yang Rugi?
Meskipun keempat sektor di atas meraup cuan besar, perang ini menjadi krisis nyata bagi:
· Industri padat energi (pabrik baja, plastik, tekstil) di China dan Eropa: Biaya produksi naik 30-40%.
· Negara berkembang pengimpor minyak seperti Indonesia, India, dan Turki: Subsidi BBM membengkak, defisit APBN melebar.
· Kelas menengah ke bawah di seluruh dunia: Inflasi pangan dan transportasi menekan daya beli.
Perang Iran 2026 membuktikan bahwa krisis geopolitik bukan malapetaka bagi semua orang. Bagi investor ritel di Indonesia, diversifikasi ke ETF pertahanan global (seperti ITA) atau saham energi terbarukan domestik (jika ada) mulai dilirik.
Namun, tetaplah waspada karena valuasi saham pertahanan saat ini disebut sudah terlalu mahal (overvalued) oleh analis Morgan Stanley.
(berbagai sumber)
