GEBRAK.ID; BADUNG – Pemerintah terus mempercepat pemerataan kualitas pendidikan nasional melalui penguatan teknologi digital hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Komitmen itu ditegaskan Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam pembukaan Tanwir II Pemuda Muhammadiyah 2026 di Bali, belum lama ini.
Program digitalisasi pendidikan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan global sekaligus memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan nasional tidak boleh berjalan jauh dari realitas sosial masyarakat. Menurut Sekum PP Muhammadiyah ini, sistem pendidikan harus hadir sebagai solusi atas berbagai tantangan bangsa, mulai dari ketimpangan akses hingga kualitas sumber daya manusia.
“Pendidikan kita harus membumi, hadir di tengah rakyat, dan mampu memberikan solusi atas berbagai problematika. Kita ingin membangun generasi yang tidak hanya menjulang dalam prestasi global, tetapi tetap memiliki integritas dan nasionalisme yang kokoh sebagai kader bangsa,” ujar Abdul Mu’ti.
Abdul Mu'ti menjelaskan, Kemendikdasmen kini memfokuskan langkah pada transformasi digital di kawasan 3T seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah juga menggandeng berbagai pihak, termasuk tenaga profesional dan alumni penerima beasiswa, untuk turun langsung memberikan edukasi digital kepada siswa dan guru di daerah terpencil.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga pendampingan teknis agar pemanfaatan perangkat digital dapat berjalan efektif di lingkungan sekolah.
Sekolah di Papua dan NTT Mulai Dilengkapi Teknologi Modern
Dalam kesempatan yang sama, Wapres Gibran Rakabuming menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur pendidikan modern agar kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah dapat diperkecil.
Gibran menyoroti mulai diterapkannya penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) di sejumlah sekolah wilayah Papua dan NTT.
Menurut Gibran, teknologi pendidikan modern tidak boleh hanya dinikmati sekolah-sekolah di kota besar, tetapi juga harus menjangkau daerah yang selama ini sulit mendapatkan akses pendidikan berkualitas.
“Kita ingin memastikan program pendidikan menyentuh area-area yang selama ini sulit dijangkau. Digitalisasi melalui alat-alat pendidikan modern harus bisa dioperasikan dan dimanfaatkan secara maksimal oleh guru dan siswa di wilayah 3T,” tegas Gibran.
Selain penguatan digitalisasi di pendidikan dasar, pemerintah juga mulai mendorong pengembangan keterampilan tingkat tinggi atau high skill pada jenjang pendidikan menengah. Langkah tersebut dinilai penting untuk menghadapi perubahan dunia kerja global yang semakin kompetitif.
Pemerintah melihat bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi kekuatan apabila didukung kualitas SDM yang unggul, produktif, dan melek teknologi. Karena itu, pemerataan akses pendidikan berbasis digital menjadi salah satu strategi utama menuju target Indonesia maju.
Transformasi digital di wilayah 3T memang menjadi tantangan besar karena masih adanya keterbatasan jaringan internet, distribusi tenaga pengajar, hingga sarana pendukung lainnya. Namun langkah percepatan yang dilakukan pemerintah dinilai dapat menjadi pondasi penting dalam mengurangi kesenjangan pendidikan nasional.
Melalui kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap setiap anak Indonesia, tanpa memandang lokasi geografis, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas dan mampu bersaing di tingkat global.
(Sumber: Humas Kemendikdasmen)

