Kampus di Jabar-Banten Diminta Tinggalkan Prodi “Sepi Peminat Kerja”, LLDIKTI: Jangan Sampai Lulus Malah Menganggur

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV, Dr Lukman. (Foto: realitapublik.com)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; BANDUNG -- Perguruan tinggi di Jawa Barat dan Banten mulai diminta lebih realistis dalam membuka program studi (prodi). Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten mengimbau kampus segera beralih dari prodi yang dianggap sudah jenuh dan minim peluang kerja demi menekan angka pengangguran intelektual.

Imbauan tersebut disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Dr Lukman, menyusul semakin besarnya tantangan dunia kerja dan ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dengan kebutuhan industri.

Menurut Lukman, langkah yang dimaksud bukan penutupan mendadak terhadap program studi tertentu, melainkan dorongan agar kampus melakukan penyesuaian secara bertahap terhadap kebutuhan pasar kerja masa kini.

“Kami hanya mengimbau move on atau hijrah. Kita harus realistis. Banyak prodi yang ketika mahasiswanya lulus justru bingung harus bekerja di mana karena lapangan pekerjaannya sudah sangat terbatas,” kata Lukman di Bandung, Minggu (10/5/2026).

Lukman menilai perguruan tinggi tidak bisa lagi sekadar membuka program studi hanya karena memiliki dosen dan fasilitas pendukung. Kampus, kata dia, juga wajib mempertimbangkan masa depan mahasiswa setelah lulus kuliah.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons atas sinyal dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terkait evaluasi terhadap program studi yang dinilai sudah tidak relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan zaman.

Menurut data LLDIKTI Wilayah IV, saat ini terdapat sekitar 3.051 program studi di wilayah Jawa Barat dan Banten. Dari jumlah tersebut, sekitar sembilan persen mengalami perubahan atau fluktuasi organik setiap tahunnya, baik berupa pembukaan prodi baru maupun penyesuaian lainnya.

Lukman menjelaskan, dinamika perubahan program studi merupakan hal wajar dalam dunia pendidikan tinggi. Ia bahkan mendorong kampus untuk mulai mengalihkan sumber daya manusia dan sarana prasarana dari prodi lama ke prodi baru yang lebih prospektif.

“Perguruan tinggi jangan hanya berpikir yang penting punya SDM dan sarana. Yang paling penting adalah memikirkan apakah lulusannya nanti benar-benar punya peluang kerja atau tidak,” ujar Lukman.

Saat ditemui di Kampus Universitas Pasundan, Lukman mencontohkan bahwa transformasi prodi harus dilakukan secara perlahan agar tidak mengganggu proses akademik mahasiswa yang sedang berjalan.

Fenomena “prodi jenuh” sendiri mulai menjadi perhatian serius di berbagai daerah. Sejumlah program studi dinilai menghasilkan lulusan terlalu banyak sementara kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut stagnan atau bahkan menurun akibat perkembangan teknologi dan digitalisasi.

Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja justru meningkat di bidang-bidang baru seperti kecerdasan buatan, data sains, energi terbarukan, bisnis digital, keamanan siber, hingga industri kreatif berbasis teknologi.

Karena itu, LLDIKTI berharap kampus mulai berani melakukan inovasi kurikulum dan membuka program studi yang lebih adaptif terhadap perubahan industri global.

Langkah tersebut dinilai penting agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat mencetak ijazah, tetapi juga mampu melahirkan lulusan yang relevan, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja masa depan.

(Sumber: LLDIKTI)


Posting Komentar untuk "Kampus di Jabar-Banten Diminta Tinggalkan Prodi “Sepi Peminat Kerja”, LLDIKTI: Jangan Sampai Lulus Malah Menganggur"