![]() |
| Pimpinan Brigade Al-Qassam, Izz al-Din al-Haddad, dilaporkan gugur dalam serangan udara Israel di Kota Gaza, Palestina. (Foto: Istimewa) |
Editor: A. Rayyan K
GEBRAK.ID -- Ketegangan di Gaza, Palestina, kembali memanas setelah Hamas mengonfirmasi gugurnya salah satu pimpinan Brigade Al-Qassam, Izz al-Din al-Haddad, dalam serangan udara Israel di Kota Gaza.
Serangan yang terjadi pada Jumat (15/5/2026) malam itu tidak hanya menewaskan al-Haddad, tetapi juga istri dan putrinya, serta sejumlah warga sipil Palestina lainnya. Total sedikitnya tujuh orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Hamas mengecam keras operasi militer Israel dan menyebut serangan tersebut sebagai tindakan “pengecut” serta bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya sempat dibahas di Gaza.
“Serangan ini menegaskan karakter kriminal dan fasis Israel,” tulis Hamas dalam pernyataannya.
Pemerintah Israel sebelumnya mengeklaim bahwa operasi tersebut memang menargetkan al-Haddad, yang disebut sebagai salah satu tokoh penting di Brigade Al-Qassam.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut al-Haddad sebagai salah satu arsitek serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang besar di Gaza.
Serangan udara dilaporkan menghantam kawasan Remal di bagian barat Kota Gaza. Berdasarkan laporan sumber medis di Gaza, tiga warga Palestina tewas setelah kendaraan sipil dihantam rudal, sementara empat korban lainnya meninggal akibat serangan terhadap bangunan permukiman.
Korban tewas disebut termasuk tiga perempuan dan seorang bayi. Selain itu, puluhan warga lainnya mengalami luka-luka akibat ledakan besar yang mengguncang kawasan padat penduduk tersebut.
Laporan jurnalis Al Jazeera dari Gaza menggambarkan situasi di lokasi kejadian berlangsung kacau. Kobaran api besar terlihat melalap bangunan permukiman dan memaksa puluhan warga meninggalkan area serangan demi menyelamatkan diri.
Warga sekitar juga dilaporkan berusaha mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan di tengah suara ledakan dan kepulan asap tebal.
Kematian al-Haddad diperkirakan akan semakin meningkatkan eskalasi konflik antara Hamas dan Israel yang hingga kini belum menunjukkan tanda mereda.
Hamas menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam atas kematian salah satu komandannya tersebut. Kelompok itu bahkan mengancam akan memberikan balasan yang disebut “menyakitkan” terhadap Israel.
Sementara itu, situasi kemanusiaan di Gaza terus menjadi perhatian dunia internasional. Berbagai organisasi kemanusiaan sebelumnya telah memperingatkan dampak besar konflik berkepanjangan terhadap warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak.
Serangan terbaru ini kembali memicu kekhawatiran akan meningkatnya jumlah korban sipil di tengah konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda tercapainya kesepakatan damai permanen antara kedua pihak. Upaya mediasi internasional pun terus dilakukan guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Israel menegaskan operasi militernya akan terus berlanjut dengan alasan memburu para pimpinan Hamas yang dianggap bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap wilayah Israel.
Konflik yang terus berlarut ini kembali menunjukkan betapa rapuhnya situasi keamanan di Gaza, di mana warga sipil kerap menjadi pihak paling terdampak dari bentrokan bersenjata antara kedua kubu.
(Sumber: Al Jazeera)
