Mobil Listrik Bekas Makin Diburu, Penjualan Mobil Diesel Justru Lesu Usai Harga BBM Naik

Tren pasar otomotif bekas mulai mengalami pergeseran signifikan. (Foto ilustrasi: Gebrak.id)
Editor: Zaky AH

GEBRAK.ID; JAKARTA – Tren pasar otomotif bekas mulai mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya mobil berbahan bakar diesel menjadi primadona di pasar kendaraan bekas, kini konsumen justru mulai beralih memburu mobil listrik bekas atau electric vehicle (EV) karena dinilai lebih hemat dan efisien.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), terutama nonsubsidi, disebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan perilaku konsumen tersebut.

Sejumlah pelaku usaha mobil bekas mengakui permintaan kendaraan listrik bekas dalam beberapa bulan terakhir meningkat cukup tajam dibandingkan segmen mobil konvensional.

Penjual kendaraan bekas daring, Fariz Czaesariyan, mengatakan tren kendaraan listrik bekas kini sedang menjadi incaran banyak pembeli, terutama mereka yang mencari kendaraan operasional harian dengan biaya penggunaan lebih rendah.

“Untuk sekarang jelas segmen EV bekas yang lagi digandrungi banyak calon pembeli. Karena harga BBM yang juga cenderung naik,” ujar Fariz, dikutip dari Antara di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Menurut Fariz, salah satu daya tarik utama mobil listrik bekas adalah harga jualnya yang turun cukup tajam dibanding kondisi baru. Situasi itu justru membuka peluang bagi konsumen untuk mendapatkan kendaraan listrik dengan harga yang lebih terjangkau.

“Nilai depresiasi EV bekas lumayan tinggi dan itu menjadi daya tarik lebih bagi calon pembeli,” kata Fariz.

Fariz menjelaskan, kendaraan listrik bekas di kisaran harga Rp120 juta hingga Rp180 juta saat ini menjadi segmen yang paling banyak dicari. Mayoritas pembeli menjadikan mobil listrik sebagai kendaraan kedua untuk kebutuhan mobilitas dalam kota.

Selain faktor efisiensi energi, biaya perawatan kendaraan listrik yang relatif lebih rendah dibanding mobil konvensional juga menjadi pertimbangan konsumen.

Di sisi lain, kondisi berbeda justru dialami pasar mobil bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE). Segmen kendaraan berbahan bakar diesel disebut mengalami perlambatan penjualan cukup signifikan.

Fariz mengaku pasar mobil bekas konvensional di rentang harga Rp200 juta hingga Rp300 juta saat ini terasa jauh lebih sepi dibanding beberapa bulan sebelumnya. “Untuk sekarang, di segmen mobil ICE bekas di rentang harga Rp200 juta sampai Rp300 jutaan sangat terasa sepi,” ungkapnya.

Kondisi serupa juga dirasakan pemilik showroom Khayangan Garage, Juan Darmawan. Ia menyebut penjualan mobil bekas di tempat usahanya turun cukup drastis dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Juan, sebelumnya showroom miliknya mampu menjual lima hingga delapan unit mobil per bulan. Namun kini, menjual empat unit saja sudah menjadi tantangan tersendiri.

“Sekarang-sekarang ini paling banyak empat unit, itu juga sudah susah banget,” ujar Juan.

Juan menilai kendaraan diesel menjadi segmen yang paling terdampak akibat kenaikan harga BBM. Konsumen disebut mulai mempertimbangkan ulang biaya operasional kendaraan harian yang semakin tinggi. “Yang jelas mobkas diesel lagi jatuh penjualannya karena imbas BBM naik,” kata dia.

Meski demikian, pelaku usaha menilai kondisi tersebut masih merupakan bagian dari dinamika pasar otomotif yang terus berubah mengikuti situasi ekonomi masyarakat.

Selain harga BBM, menurunnya daya beli juga disebut memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli kendaraan. Banyak masyarakat kini lebih memilih menahan pengeluaran besar dan memprioritaskan kebutuhan pokok sehari-hari.

Tren peningkatan minat terhadap mobil listrik bekas berpotensi terus berlanjut apabila harga BBM tetap tinggi dan infrastruktur kendaraan listrik semakin berkembang.

Apalagi, pemerintah dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong percepatan ekosistem kendaraan listrik nasional melalui berbagai insentif dan pembangunan stasiun pengisian daya.

Situasi tersebut membuat pasar mobil listrik bekas diprediksi menjadi salah satu segmen yang paling berkembang di industri otomotif Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

(Sumber: Antara)

Jangan Terlewatkan: Rekomendasi Mobil Bekas Irit BBM Paling Rasional di Tengah Kenaikan Harga BBM, Mulai dari Agya hingga Raize