Paceklik Gelar Ronaldo Berlanjut Setelah Al-Nassr Ditekuk Gamba Osaka 0-1 di Final AFC Champions League Two

Megabintang Al-Nassr asal Portugal, Cristiano Ronaldo, kembali menelan kekecewaan. (Foto: X.com)

Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID; JAKARTA — Stadion Al-Awwal Park, Riyadh, seharusnya menjadi panggung penobatan. Di hadapan puluhan ribu pendukung yang berseragam kuning-biru, Al-Nassr menguasai segalanya: bola, wilayah, dan harapan. 

Namun, ketika peluit panjang berbunyi pada Minggu (17/5/2026) dini hari WIB, Cristiano Ronaldo justru berjalan tertunduk melewati papan skor yang memajang angka paling kejam dalam sepak bola: 0-1 untuk Gamba Osaka.

Final AFC Champions League Two 2025/2026 ini bukan sekadar kekalahan. Ia adalah cermin yang memantulkan ironi terdalam dari petualangan Ronaldo di Timur Tengah: seorang megabintang dengan 900 lebih gol sepanjang karier yang tak kunjung mampu mengangkat satu trofi mayor pun bersama klub yang menggajinya hampir setengah miliar euro.

Ketika Satu Gol Menggugurkan Sebuah Narasi

Sejak awal laga, narasi yang terbangun sudah terang: ini adalah malam milik Al-Nassr. Tampil di kandang sendiri, armada Jorge Jesus langsung menggebrak. Abdulrahman Ghareeb nyaris mencetak gol pada menit ketujuh, namun tendangan mendatarnya ditepis kiper muda Gamba Osaka, Rui Araki. Empat menit berselang, giliran Joao Felix menguji ketangguhan sang penjaga gawang, tetapi lagi-lagi Araki berdiri kokoh.

Namun sepak bola punya logikanya sendiri yang kerap tak peduli pada statistik penguasaan bola. Pada menit ke-30, sebuah umpan terobosan Issam Jebali merobek garis pertahanan Al-Nassr. Deniz Hummet, striker berkebangsaan Turki yang kurang dikenal di panggung Eropa, menerima bola, memutar tubuh, dan melepaskan tembakan akurat ke sudut bawah gawang Bento. Gol. 1-0. Sunyi sejenak menyelimuti Al-Awwal Park.

"Saya senang bisa mencetak gol dan membantu tim. Saya gugup menonton babak kedua, tapi yang terpenting kami menang. Sekarang saatnya merayakan," ujar Hummet yang harus ditarik keluar saat jeda karena cedera.

Dominasi tanpa Gigi

Apa yang terjadi di sisa 60 menit adalah studi kasus tentang dominasi yang mandul. Al-Nassr memonopoli penguasaan bola, menciptakan lebih banyak peluang, tetapi selalu mentok di tembok pertahanan Gamba Osaka yang disiplin. Klub Jepang itu bertahan dalam blok rendah yang rapat, membuat setiap inci ruang di kotak penalti terasa seperti medan perang.

Ronaldo nyaris menyamakan kedudukan jelang turun minum. Menerima umpan silang dari Joao Felix, sundulan kerasnya hanya melambung tipis di atas mistar. Ekspresi frustrasi mulai terlihat di wajah kapten Portugal itu—dan semakin jelas ketika Felix kemudian menghantam tiang gawang pada menit ke-77.

Situs statistik Sofascore kemudian memberi Ronaldo rating 5,9, salah satu yang terendah di timnya. Angka yang ganjil bagi pemain yang telah mencetak puluhan gol sepanjang musim, namun juga mencerminkan realita pahit: dalam laga yang paling menentukan, megabintang itu tak mampu menjadi pembeda.

Puasa Gelar yang Kian Panjang

Fakta yang mungkin mengejutkan banyak orang: sejak bergabung dengan Al-Nassr pada Desember 2022, Ronaldo baru mengangkat satu trofi—Piala Champions Arab 2023—yang ironisnya tidak masuk dalam catatan resmi FIFA maupun AFC karena berstatus turnamen undangan.

Kekalahan dari Gamba Osaka ini menambah daftar final yang gagal dimenangkan Al-Nassr sejak kedatangan CR7. Total sudah 13 turnamen berlalu tanpa satu pun gelar mayor mampir ke lemari trofi klub. Empat di antaranya adalah final yang berakhir dengan kekalahan—dan Ronaldo ada di lapangan pada setiap momen pahit itu.

Pelatih Jorge Jesus tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Ini adalah pertandingan final, dan hanya satu tim yang bisa menang. Kami tidak bermain bagus dalam 30 menit pertama, tetapi setelah itu, kami mengendalikan permainan. Lawan mencetak gol dari satu tembakan dan mengejutkan kami dengan penampilan mereka yang luar biasa," ujarnya seperti dikutip dari Al Riyadiyah.

Satu Peluru Tersisa

Namun, kisah musim 2025/2026 bagi Al-Nassr belum sepenuhnya tamat. Klub ibu kota ini masih memuncaki klasemen Saudi Pro League dengan 83 poin, unggul dua angka dari rival abadi Al-Hilal—dan hanya menyisakan satu pertandingan: laga kandang melawan Damac pada Kamis (21/5/2026).

Bagi Ronaldo, ini adalah peluru terakhir. Jika berhasil, trofi liga akan menjadi gelar liga domestik ketujuhnya di empat negara berbeda—sebuah pencapaian yang akan menambah narasi keabadiannya. Namun jika gagal, musim ini akan dikenang sebagai yang paling menyakitkan: lima hari setelah kehilangan trofi Asia, Al-Nassr kehilangan gelar liga domestik yang sudah di depan mata.

Apa pun yang terjadi pada Kamis nanti, satu hal sudah pasti: Cristiano Ronaldo tidak sedang berperang melawan lawan di lapangan. Ia sedang berperang melawan waktu, ekspektasi, dan narasi yang kian sulit dibelokkan—bahwa di tanah Arab, sang legenda justru kehilangan tajinya.

(Sumber: AFC)

Posting Komentar untuk "Paceklik Gelar Ronaldo Berlanjut Setelah Al-Nassr Ditekuk Gamba Osaka 0-1 di Final AFC Champions League Two"