Editor: Zaky AH
Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (20/5/2026) pagi. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (20/5/2026) pagi. Mata uang Indonesia ini tercatat melemah 37 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp17.743 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.706 per dolar AS.
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut kini memicu kekhawatiran pasar sekaligus memunculkan perdebatan di kalangan ekonom terkait langkah yang akan diambil Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Fokus pasar kini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan siang ini. Sejumlah ekonom menilai bank sentral menghadapi dilema besar antara mempertahankan pertumbuhan ekonomi atau menaikkan suku bunga demi menyelamatkan rupiah.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen layak dipertimbangkan dalam situasi saat ini.
Menurut Riefky, tekanan terhadap rupiah sudah terlalu besar dan membutuhkan respons lebih agresif dari bank sentral. “Prioritas utama BI saat ini harus berfokus pada stabilisasi rupiah,” ujar
Riefky mengungkapkan Indonesia masih menghadapi arus modal keluar atau capital outflow dari pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN) dalam beberapa pekan terakhir.
Data menunjukkan arus keluar dana asing dari pasar saham mencapai 15 juta dolar AS sepanjang pertengahan April hingga awal Mei 2026. Sementara itu, pasar obligasi juga mencatat outflow sekitar 0,4 miliar dolar AS sebelum akhirnya kembali mencatat inflow terbatas.
Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Tetap Tertekan
Riefky juga menyoroti cadangan devisa Indonesia yang terus tergerus akibat intervensi pasar valas yang dilakukan Bank Indonesia.
Dalam empat bulan terakhir, lebih dari 10 miliar dolar AS cadangan devisa disebut telah digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup efektif karena mata uang domestik masih terus melemah.
Menurutnya, performa rupiah termasuk yang terburuk di antara mata uang negara berkembang sepanjang tahun ini.
Selain faktor global seperti penguatan dolar AS, kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia juga dinilai ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah.
“Investor mulai mencermati keberlanjutan fiskal Indonesia, termasuk soal tax ratio yang masih rendah,” kata Riefky.
Ekonom Berbeda Pendapat soal BI-Rate
Meski demikian, tidak semua ekonom sepakat suku bunga harus dinaikkan.
Kepala Ekonom Bank Central Asia atau BCA, David Sumual, menilai BI masih memiliki ruang mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen karena inflasi masih berada dalam proyeksi bank sentral.
Namun, ia mengingatkan potensi kenaikan harga BBM subsidi dapat menjadi faktor yang memicu percepatan inflasi sehingga memaksa BI menaikkan suku bunga lebih cepat.
Pandangan serupa juga disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman.
Menurut Rizal, menaikkan suku bunga memang bisa membantu meredam tekanan rupiah dan menjaga kepercayaan pasar. Namun di sisi lain, langkah itu berisiko menekan kredit, konsumsi, hingga sektor riil yang mulai melambat.
“Langkah yang paling realistis kemungkinan BI masih menahan suku bunga sambil memperkuat intervensi valas, SRBI, dan pengelolaan likuiditas,” ujar Rizal.
Sementara itu, ekonom pasar global Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai penguatan rupiah sebenarnya masih bisa ditempuh tanpa harus menaikkan suku bunga acuan.
Myrdal menekankan pentingnya optimalisasi devisa hasil ekspor serta penguatan surplus perdagangan untuk menjaga pasokan dolar AS di dalam negeri.
Pasar Tunggu Keputusan BI
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia di tengah tekanan eksternal dan meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan serta musim haji.
Keputusan suku bunga BI pada pekan ini diperkirakan akan menjadi penentu arah rupiah dalam jangka pendek, sekaligus menjadi sinyal penting bagi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.
(Berbagai Sumber)
Jangan Terlewatkan Kali Pertama dalam Sejarah: Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS! Pemerintah Baru Bergerak Setelah Pasar Panik