Skandal Joki UTBK 2026 Terbongkar, Mayoritas Incar Fakultas Kedokteran

 

Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mengungkap mayoritas peserta yang menggunakan jasa joki pada UTBK SNBT 2026 ternyata mendaftar ke fakultas kedokteran. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; JAKARTA – Praktik perjokian dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 kembali menjadi sorotan. Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) mengungkap mayoritas peserta yang menggunakan jasa joki ternyata mendaftar ke fakultas kedokteran.

Temuan ini terungkap setelah panitia mendeteksi puluhan indikasi kecurangan selama pelaksanaan UTBK 2026 di berbagai daerah.

Ketua Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, mengatakan sebanyak 27 kasus penggunaan joki berhasil diidentifikasi. Dari jumlah tersebut, tujuh pelaku diketahui sempat hadir langsung di lokasi ujian.

Kasus-kasus tersebut kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian oleh masing-masing pusat UTBK tempat kejadian berlangsung.

“Semua proses pelaporan dilakukan oleh pusat UTBK masing-masing karena pelanggaran terjadi di lokasi ujian yang berbeda-beda,” ujar Eduart usai konferensi pers pengumuman hasil SNBT 2026 di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Menurut Eduart, pihak panitia nasional masih melakukan rekapitulasi seluruh kasus sebelum menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan pelaporan secara kelembagaan oleh Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Teknologi AI dan Face Recognition Bongkar Jaringan Joki

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, mengungkap praktik kecurangan tahun ini berhasil ditekan berkat penggunaan teknologi pengenal wajah atau face recognition berbasis kecerdasan buatan (AI).

Menurut Brian, sistem tersebut mampu mendeteksi wajah peserta yang diduga pernah mengikuti ujian pada tahun-tahun sebelumnya dengan identitas berbeda.

Panitia memanfaatkan database foto peserta UTBK dari beberapa tahun terakhir untuk mencocokkan identitas peserta yang mengikuti ujian tahun ini.

“Karena kita mensinyalir pelaku kecurangan berasal dari kelompok tertentu dan orangnya itu-itu saja, maka database lama kita gunakan untuk mencocokkan wajah peserta,” kata Brian.

Brian menjelaskan, sistem AI mampu membaca kejanggalan data secara otomatis. Misalnya, ketika ditemukan wajah peserta yang pernah tercatat mengikuti UTBK beberapa tahun sebelumnya.

“Itu sudah menjadi tanda aneh. Tidak mungkin seseorang ikut ujian yang sama berkali-kali dalam rentang beberapa tahun dengan data berbeda,” ujar Brian.

Orang Tua Jadi Sasaran Sindikat

Tak hanya membongkar praktik joki, panitia SNPMB juga menemukan adanya jaringan terorganisasi yang secara aktif menawarkan jasa masuk PTN secara ilegal kepada orang tua calon mahasiswa.

Brian menyebut jaringan tersebut memang sengaja dibentuk untuk memanfaatkan tingginya persaingan masuk perguruan tinggi, terutama di program studi favorit seperti fakultas kedokteran.

“Ada satu jaringan yang berhasil dibongkar. Mereka memang menawarkan jasa kepada orang tua calon mahasiswa untuk membantu masuk secara ilegal,” ungkap Brian.

Brian pun mengingatkan para orang tua agar tidak tergoda menggunakan cara-cara curang demi meloloskan anak ke perguruan tinggi negeri.

Menurut Brian, pendidikan seharusnya menjadi ruang membangun integritas dan masa depan generasi muda, bukan justru dicederai praktik kecurangan sejak awal proses seleksi.

“Pendidikan itu membangun masa depan. Tidak mungkin dibangun dengan proses yang melanggar integritas,” tegas dia.

Persaingan Ketat Picu Praktik Curang

Fenomena perjokian UTBK diduga semakin marak karena tingginya persaingan masuk PTN. Tahun ini, jumlah peserta UTBK-SNBT mencapai lebih dari 871 ribu orang, sementara kuota yang tersedia hanya sekitar 286 ribu kursi.

Program studi kedokteran selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu jurusan paling kompetitif dengan tingkat keketatan sangat tinggi di berbagai universitas negeri.

Karena itu, pemerintah menegaskan akan terus memperkuat sistem keamanan seleksi nasional agar proses penerimaan mahasiswa baru berlangsung jujur, adil, dan transparan.

Selain penggunaan AI dan face recognition, panitia juga memperketat pengawasan di lokasi ujian dengan metal detector serta standar operasional pengawasan yang lebih ketat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

(Sumber: SNPMB)