Tak Lagi Makan Tabungan, Fenomena Makan Utang Melanda RI: Transaksi Paylater Melonjak 86,7 Persen!

Tak lagi makan tabungan, masyarakat Indonesia kini sudah sampai tahap memprihatinkan, makan utang (Foto: freepik) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA – Setelah sebelumnya dikenal dengan istilah "makan tabungan", kini masyarakat Indonesia mulai dilanda fenomena baru yang lebih mengkhawatirkan yaitu makan utang. Data terbaru per Februari 2026 menunjukkan lonjakan drastis penggunaan layanan paylater dan pinjaman online (pinjol) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lonjakan Transaksi Paylater Hingga 86,7%

Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total utang peer-to-peer (P2P) lending atau pinjol telah menembus Rp 100,69 triliun pada Februari 2026. Angka ini melonjak 25,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Lebih mencolok lagi, data dari PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat pertumbuhan transaksi buy now pay later (paylater) sebesar 86,7% secara tahunan (yoy) , mencapai Rp 56,3 triliun hingga akhir Februari 2026.

Ekonom: Bukan Pertanda Baik, Masyarakat Makin Terjepit

Ekonom senior dari INDEF, Tauhid Ahmad, menilai data ini sebagai sinyal mengkhawatirkan. "Makin lama makin tinggi. Artinya masyarakat makin banyak utang. Ini bukan pertanda baik karena kebanyakan untuk kebutuhan konsumtif, bukan produktif," ujarnya kepada detikFinance, Senin (11/5/2026).

Tauhid menjelaskan, yang paling berbahaya adalah beban bunga yang menyertai utang tersebut. Akibatnya, banyak masyarakat terjebak dalam pola "gali lubang tutup lubang", menyelesaikan satu utang dengan utang baru.

"Baru selesai, dia sudah pinjam yang lain. Ini membuat kondisi keuangan masyarakat makin tidak sehat," tegas Tauhid.

Dari Makan Tabungan Menjadi Makan Utang

Fenomena ini terjadi di tengah tidak tumbuhnya signifikan tabungan masyarakat, khususnya yang saldonya di bawah Rp 100 juta. Menurut Tauhid, kelompok menengah ke bawah kini tidak lagi mengandalkan tabungan yang menipis, melainkan utang untuk bertahan hidup.

"Justru yang tabungannya sedikit atau tidak punya tabungan kemungkinan menjadi konsumen terbesar pinjaman online," pungkasnya.

Masyarakat RI kini beralih dari "makan tabungan" ke "makan utang" untuk menutupi kebutuhan harian. Lonjakan transaksi paylater hingga 86,7% menjadi bukti nyata tekanan ekonomi yang tengah melanda.

(berbagai sumber) 

Posting Komentar untuk "Tak Lagi Makan Tabungan, Fenomena Makan Utang Melanda RI: Transaksi Paylater Melonjak 86,7 Persen!"