![]() |
| KAI telah sukses menggelar uji coba intensif penggunaan B50 pada lokomotif dan kereta pembangkit. Hasil awal menunjukkan performa positif dan siap diimplementasikan. (Foto: istimewa) |
GEBRAK.ID JAKARTA – Pemerintah resmi akan memberlakukan mandatori bahan bakar biodiesel B50 secara nasional pada 1 Juli 2026. Kebijakan strategis ini bertujuan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong transisi ke energi berkelanjutan, terutama di sektor transportasi.
Sebagai garda terdepan transportasi publik berbasis rel, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI telah sukses menggelar uji coba intensif penggunaan B50 pada lokomotif dan kereta pembangkit. Hasil awal menunjukkan performa positif dan siap diimplementasikan.
Hasil Uji Coba: Performa Optimal di Lokomotif dan Genset
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa uji coba telah dilakukan secara bertahap dan terukur sejak pertengahan April 2026. Pengujian dilakukan di dua titik utama dengan hasil yang memuaskan:
1. Depo Sidotopo (Surabaya): Fokus pada performa engine lokomotif dan konsumsi bahan bakar.
2. Depo Kereta Yogyakarta: Pemantauan ketat pada konsumsi bahan bakar genset kereta pembangkit dengan interval uji berkala setiap 300 jam operasi.
"Uji coba penggunaan B50 pada lokomotif dan genset kereta api dilakukan secara bertahap dan terukur, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keandalan, dan kinerja operasional," ujar Direktur Pengelolaan Sarana dan Prasarana PT KAI, Heru Kuswanto, dikutip dari RRI.co.id, Minggu (31/5/2026) .
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, menambahkan bahwa uji dinamis pada lokomotif CC206 15 12 untuk KA Sembrani relasi Surabaya Pasar Turi–Gambir (30 April - 1 Mei 2026) menunjukkan bahwa biodiesel B50 dapat digunakan tanpa mengganggu kinerja operasional lokomotif .
Langkah Strategis: Hemat Devisa hingga Rp 154 Triliun
Implementasi B50 bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga ekonomi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa dengan B50, Indonesia tidak lagi melakukan impor solar terhitung mulai 1 Juli 2026 .
Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara secara signifikan. Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, mengkalkulasi bahwa penghematan devisa bisa mencapai Rp 154 triliun per tahun. Angka ini naik signifikan dibandingkan penghematan saat implementasi B40 yang sebesar Rp 134 triliun .
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga memastikan bahwa alokasi CPO (Crude Palm Oil) untuk B50 tidak akan mengganggu pasokan minyak goreng nasional. Dengan total produksi CPO nasional yang terus meningkat (ekspor naik dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton), alokasi untuk B50 sekitar 5-6 juta ton masih dalam batas aman dan meninggalkan surplus .
Emisi Lebih Rendah, Udara Lebih Bersih
Dari sisi lingkungan, peralihan ke B50 akan semakin menekan emisi karbon. Selama tahun 2025, penggunaan B40 pada layanan Kereta Api Jarak Jauh telah menghasilkan emosi karbon sebesar 127.315.192 kg CO₂e untuk 47,4 juta pelanggan.
Sebagai perbandingan, moda kereta api jauh lebih ramah lingkungan dibanding kendaraan pribadi. Rata-rata emisi kereta api hanya berkisar 15-40 gram CO₂ per penumpang-kilometer, sementara kendaraan pribadi dapat mencapai 120-250 gram CO₂ per penumpang-kilometer.
Dengan B50 yang memiliki campuran nabati lebih tinggi, emisi gas rumah kaca diperkirakan akan turun lebih drastis lagi, mendukung target Net Zero Emission.
Pemerintah bersama PT KAI, Kementerian ESDM, dan LEMIGAS terus melakukan evaluasi mendalam hingga Oktober 2026 . Namun, hasil uji coba awal yang positif menunjukkan bahwa Indonesia siap menorehkan sejarah baru dalam kemandirian energi.
Dari lokomotif Surabaya-Jakarta hingga kereta pembangkit Yogyakarta, B50 telah membuktikan diri sebagai bahan bakar masa depan yang kuat, hijau, dan siap menggantikan solar impor.
(berbagai sumber)
