1,1 Juta Sarjana Menganggur, Wamendikti Ungkap Masalah Besar Pendidikan Tinggi Indonesia

Fenomena tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi kembali menjadi sorotan. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA – Fenomena tingginya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi kembali menjadi sorotan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mengungkapkan bahwa sekitar 1,1 juta sarjana di Indonesia tercatat belum mendapatkan pekerjaan sepanjang 2025.

Pernyataan tersebut disampaikan Fauzan dalam Employer Forum 2026 yang digelar Universitas Indonesia (UI) di Jakarta. Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar jumlah lulusan yang terus bertambah, melainkan adanya kesenjangan antara ijazah yang dimiliki dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.

"Ijazah memang dimiliki, tetapi banyak yang masuk ke dunia yang ambigu. Mereka memiliki gelar akademik, namun kompetensinya belum cukup untuk menjawab persoalan nyata yang ada di lingkungan sekitarnya," ujar Fauzan dalam forum tersebut, Rabu (24/6/2026).

Fauzan menilai kondisi tersebut menjadi alarm bagi dunia pendidikan tinggi nasional. Sebab, perguruan tinggi sejatinya tidak hanya bertugas meluluskan mahasiswa, tetapi juga memastikan mereka memiliki kemampuan yang relevan dengan perkembangan industri dan kebutuhan masyarakat.

Menurut Fauzan, masih banyak institusi pendidikan yang menerapkan pola pembelajaran lama dan belum mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat. Akibatnya, lulusan yang dihasilkan kerap mengalami kesulitan saat memasuki pasar kerja.

"Pendidikan tinggi kita masih menggunakan pendekatan lama. Padahal perubahan lingkungan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat harus menjadi dasar dalam menyusun sistem pendidikan," kata Fauzan.

Fauzan juga menyoroti perubahan besar yang terjadi di dunia kerja. Jika dahulu perusahaan berlomba-lomba mencari talenta terbaik dari kampus, kini situasinya berbalik. Jutaan lulusan justru harus bersaing ketat untuk mendapatkan kesempatan bekerja.

Fauzan mengungkapkan bahwa banyak perusahaan masih memandang lulusan perguruan tinggi sebagai tenaga kerja yang "siap dilatih", bukan "siap bekerja". Kondisi tersebut membuat industri harus mengeluarkan biaya tambahan untuk meningkatkan keterampilan para lulusan baru.

"Di kampus kita sering mengatakan lulusan siap kerja. Namun ketika masuk industri, mereka masih dianggap perlu pelatihan tambahan sebelum benar-benar produktif," jelas Fauzan.

Sebagai solusi, Fauzan mendorong perguruan tinggi membangun Center of Excellence (CoE) atau pusat keunggulan yang dirancang bersama dunia industri. Melalui konsep tersebut, kampus dapat membuka kelas-kelas profesional yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pasar kerja.

Misalnya, kelas profesional di sektor perikanan, teknologi, kesehatan, hingga bidang-bidang strategis lainnya yang memiliki peluang kerja tinggi. Dengan model pembelajaran yang terhubung langsung dengan industri, lulusan diharapkan memiliki kompetensi yang lebih siap pakai.

Lebih jauh, Fauzan berharap perguruan tinggi Indonesia tidak hanya menghasilkan pencari kerja, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat global. Menurutnya, keberadaan tenaga profesional Indonesia di berbagai negara dapat menjadi aset strategis yang memperkuat posisi Indonesia di bidang ekonomi, teknologi, kesehatan, hingga geopolitik.

"Saya membayangkan banyak profesional Indonesia berada di berbagai negara dan menduduki sektor-sektor strategis. Ketika itu terjadi, Indonesia akan dikenal dunia karena kualitas sumber daya manusianya," tutup Fauzan.

Tingginya angka pengangguran sarjana menjadi pengingat bahwa tantangan pendidikan saat ini bukan hanya mencetak lulusan sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan di era persaingan global.

(Sumber: Kemendiktisaintek)