Editor: Endro Yuwanto
Forum CPRN Summit 2026 di Jakarta menghasilkan komitmen baru untuk memperkuat akses pendidikan bagi anak disabilitas, masyarakat adat, dan pelajar wilayah terpencil. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
JAKARTA – Upaya mewujudkan pendidikan yang adil dan inklusif bagi seluruh anak di Asia Tenggara kembali menjadi sorotan dalam Southeast Asia Ministers of Education Organization (SEAMEO) Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 9-11 Juni 2026.
Forum yang mempertemukan pembuat kebijakan, peneliti, akademisi, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara Asia Tenggara itu menegaskan satu pesan penting: tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal dalam memperoleh hak pendidikan yang berkualitas.
Isu tersebut menjadi semakin relevan karena hingga kini masih banyak kelompok rentan yang menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan, mulai dari anak penyandang disabilitas, masyarakat adat, hingga pelajar yang tinggal di daerah terpencil.
Sebagai tuan rumah bersama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama SEAMEO Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (CECCEP) mendorong lahirnya berbagai rekomendasi kebijakan yang berbasis riset dan kebutuhan nyata di lapangan.
Salah satu agenda penting dalam forum tersebut adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara SEAMEO dan Global Partnership for Education Knowledge and Innovation Exchange Europe, Middle East and North Africa, Asia and Pacific (GPE KIX EMAP) Hub. Kerja sama ini diharapkan mampu mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi kebijakan pendidikan yang dapat diterapkan secara langsung di sekolah dan ruang-ruang belajar.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menilai kolaborasi lintas negara menjadi modal penting dalam memperkuat kualitas pendidikan di kawasan.
Menurutnya, hubungan yang dibangun selama bertahun-tahun antara peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan telah menciptakan fondasi kuat bagi lahirnya berbagai inovasi pendidikan.
"Hubungan yang terbangun melalui kerja sama, diskusi yang jujur, dan rasa saling menghormati merupakan infrastruktur kebijakan yang sangat berharga," ujar Suharti.
Suharti menambahkan, riset kebijakan sering kali berjalan jauh dari sorotan publik, namun memiliki dampak besar dalam menentukan masa depan pendidikan generasi muda.
Semangat kolaborasi tersebut juga ditegaskan Direktur SEAMEO Secretariat, Datuk Habibah Abdul Rahim. Menurutnya, kerja sama yang ditandatangani pada momentum peringatan 60 tahun SEAMEO menjadi langkah strategis untuk memperluas akses terhadap praktik-praktik pendidikan terbaik di kawasan.
"Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat memperkuat pembelajaran lintas negara dan menghadirkan sistem pendidikan yang lebih responsif serta inklusif bagi seluruh murid di Asia Tenggara," kata Habibah.
Komitmen serupa datang dari Direktur GPE KIX EMAP Hub, José Luís Benito Canêlhas. Ia menegaskan bahwa pengembangan pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan global, melainkan harus bertumpu pada pengalaman dan keahlian lokal yang telah terbukti berhasil.
Menurut José Luís, Indonesia dan sejumlah negara mitra lainnya memiliki banyak praktik baik yang layak diperkuat dan diperluas.
"Tujuan kami adalah mengangkat keahlian yang sudah ada di negara-negara ini. Kami bekerja bersama para pakar dan institusi yang setiap hari berupaya menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka," ujar José Luís.
CPRN Summit 2026 diharapkan tidak hanya menghasilkan laporan penelitian atau rekomendasi akademik semata. Lebih dari itu, forum ini menjadi wadah untuk merumuskan kebijakan yang konkret, inklusif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di tingkat akar rumput.
Kolaborasi regional yang terus diperkuat menunjukkan bahwa negara-negara Asia Tenggara memiliki visi yang sama dalam membangun masa depan pendidikan. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, komitmen bersama tersebut menjadi harapan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang maupun kondisi sosialnya, memiliki kesempatan yang setara untuk belajar dan meraih cita-cita.
Pesan utama dari pertemuan ini pun sederhana namun kuat: pendidikan yang berkualitas harus dapat diakses oleh semua, dan tidak boleh ada murid yang tertinggal.
(Sumber: Kemendikdasmen)