Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku terkejut setelah mengetahui pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero) sempat berada pada level yang mengkhawatirkan pada pertengahan tahun 2026. Temuan itu muncul dalam evaluasi pemerintah terhadap sistem ketenagalistrikan nasional setelah terjadi gangguan pasokan listrik di sejumlah wilayah Pulau Jawa.
Menurut Bahlil, kebutuhan batu bara PLN untuk mengoperasikan pembangkit listrik sepanjang tahun mencapai sekitar 154 juta metrik ton. Angka tersebut sebenarnya masih dapat dipenuhi melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) yang mewajibkan perusahaan tambang memasok sebagian produksinya ke pasar domestik sebelum melakukan ekspor.
"Dari skema DMO, pasokan yang tersedia untuk PLN seharusnya berada di kisaran 180 hingga 190 juta metrik ton," ujar Bahlil dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Berdasarkan hasil evaluasi Kementerian ESDM, hingga pertengahan tahun PLN telah menerima sekitar 141 juta metrik ton batu bara. Namun, pemerintah menemukan adanya potensi gangguan pasokan yang membuat cadangan bahan bakar pembangkit sempat mendekati batas minimum operasional.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat lebih dari separuh pembangkitan listrik nasional masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara. Ketika stok menurun, risiko gangguan pasokan listrik dan pemadaman bergilir dapat meningkat, terutama di wilayah dengan konsumsi energi tinggi seperti Jawa dan Bali.
Bahlil menegaskan pemerintah akan mengevaluasi tata kelola distribusi batu bara dari hulu hingga hilir. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kewajiban DMO berjalan efektif dan kebutuhan energi dalam negeri tetap menjadi prioritas dibandingkan ekspor.
Selain itu, Kementerian ESDM juga akan memperkuat sistem pemantauan stok batu bara secara real-time agar kondisi serupa tidak kembali terjadi. Pemerintah menilai ketersediaan cadangan energi primer merupakan faktor penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.
Di sisi lain, PLN memastikan operasional pembangkit saat ini berada dalam kondisi aman. Perseroan menyebut pasokan batu bara terus mengalir dari perusahaan tambang yang telah memenuhi kewajiban DMO, sehingga kebutuhan pembangkitan listrik masyarakat tetap dapat terpenuhi.
Pengamat energi menilai peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan besar terhadap batu bara masih menyisakan tantangan dalam pengelolaan rantai pasok. Oleh karena itu, percepatan diversifikasi energi dan pengembangan sumber energi baru terbarukan dinilai penting untuk meningkatkan ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.
Pemerintah menargetkan pengawasan pasokan energi primer semakin diperketat pada semester kedua 2026 guna memastikan tidak ada lagi gangguan yang berpotensi memengaruhi layanan kelistrikan bagi masyarakat maupun sektor industri.
(berbagai sumber)
