BBPPMPV BMTI Luncurkan Green Office dan Green Culture, Siapkan Model Pendidikan Vokasi Berkelanjutan untuk Indonesia

Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI) Kemendikdasmen resmi meluncurkan Program Green Office dan Green Culture yang bertumpu pada lima pilar strategis untuk membangun budaya kerja hijau dan berkelanjutan di Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (4/6/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID; CIMAHI – Komitmen menciptakan lingkungan kerja yang ramah lingkungan sekaligus mendukung pendidikan vokasi berkelanjutan terus diperkuat oleh Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI). Institusi di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu resmi meluncurkan Program Green Office dan Green Culture yang bertumpu pada lima pilar strategis untuk membangun budaya kerja hijau dan berkelanjutan.

Peluncuran program berlangsung di Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (4/6/2026), dan dilakukan langsung oleh Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin.

Program ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap implementasi Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 15 Tahun 2026 tentang Gerakan Nasional Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.

Lima Pilar Green Office dan Green Culture

Kepala BBPPMPV BMTI, Baharudin, menjelaskan bahwa program tersebut dibangun melalui lima pilar utama yang saling terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Kelima pilar tersebut meliputi:

1. Konservasi Energi
2. Pengelolaan Limbah
3. Konservasi Air
4. Kesehatan dan Budaya Kerja
5. Ruang Terbuka Hijau

"Ini adalah bagian dari upaya kami untuk mengembangkan ekosistem pembelajaran berbasis living laboratory guna mendukung pendidikan vokasi yang berkelanjutan," ujar Baharudin.

Menurutnya, konsep living laboratory memungkinkan peserta didik, guru, maupun tenaga kependidikan belajar langsung dari praktik nyata yang diterapkan di lingkungan kerja.

Kembangkan Energi Terbarukan hingga Mesin Pengolah Sampah

Dalam peluncuran program tersebut, BBPPMPV BMTI juga memperkenalkan berbagai inovasi yang telah diterapkan di lingkungan kampus vokasi tersebut.

Di sektor energi, BBPPMPV BMTI mengembangkan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), serta konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Ketiga sumber energi terbarukan itu digunakan sebagai substitusi sebagian kebutuhan listrik yang sebelumnya bergantung pada pasokan PLN.

Sementara di bidang pengelolaan limbah, lembaga ini membangun Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPSS) dengan sistem pemilahan tiga fraksi. Tidak hanya itu, BBPPMPV BMTI juga mengoperasikan mesin pirolisis yang mampu mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif.

Upaya pelestarian lingkungan juga dilakukan melalui pembangunan 20 unit sumur resapan dan biopori di kawasan BBPPMPV BMTI yang memiliki luas lebih dari 130 ribu meter persegi. Langkah tersebut bertujuan menjaga ketahanan hidrologi sekaligus meningkatkan konservasi air.

Selain infrastruktur fisik, penguatan budaya kerja juga dilakukan melalui penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), edukasi lingkungan secara berkelanjutan, hingga pelaksanaan pelatihan internal mengenai pengelolaan limbah terpadu.

Pendidikan Vokasi Harus Melahirkan Kesadaran Lingkungan


Tatang Muttaqin memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang telah dikembangkan BBPPMPV BMTI. Menurutnya, isu lingkungan saat ini menjadi tantangan global yang harus mendapat perhatian serius dari seluruh institusi pendidikan.

"Hari ini salah satu isu yang paling banyak dibahas adalah isu lingkungan. Kita harus menjaga lingkungan karena pemanasan global memberikan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia," ujar Tatang.

Tatang menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berfokus mencetak lulusan yang memiliki keterampilan kerja, tetapi juga harus membangun kesadaran lingkungan yang kuat.

"Pendidikan tidak cukup mencetak lulusan yang terampil bekerja saja, tetapi harus mampu melahirkan manusia yang memiliki kesadaran bahwa lingkungan itu penting untuk dijaga bersama," kata Tatang.

Efisiensi Anggaran dan Lingkungan Bisa Berjalan Bersamaan

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha BBPPMPV BMTI, Heri Sutanto, menilai berbagai program ramah lingkungan yang dijalankan telah memberikan dampak nyata terhadap operasional lembaga.

Pemanfaatan energi terbarukan mampu membantu menekan biaya listrik, sedangkan pengelolaan sampah dan konservasi air berkontribusi pada efisiensi biaya operasional lainnya.

"Optimalisasi layanan BBPPMPV BMTI tetap dapat berjalan dengan baik tanpa mengurangi kualitas pelayanan meskipun dalam kondisi anggaran yang terbatas," ujar Heri.

Ke depan, BBPPMPV BMTI berharap model Green Office dan Green Culture yang telah diterapkan di Cimahi dapat direplikasi oleh sekolah-sekolah menengah kejuruan (SMK) di berbagai daerah sehingga mampu memperkuat ekosistem pendidikan vokasi yang berkelanjutan, adaptif terhadap perubahan iklim, serta lebih peduli terhadap lingkungan.

(Sumber: Kemendikdasmen)