Editor: Devona R
Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono. (Foto: setkab.go.id)
GEBRAK.ID -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi melebur 11 politeknik vokasi di bawah naungannya menjadi satu institusi baru bernama Institut Kelautan Indonesia (IKI) atau Ocean Institute of Indonesia (OII). Langkah ini diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia kelautan dan perikanan yang lebih kompetitif di tingkat global.
Penyatuan tersebut ditandai dengan terbitnya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP) Nomor 50 Tahun 2026 dan Nomor 51 Tahun 2026.
Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, gagasan menyatukan seluruh politeknik vokasi sebenarnya telah dirancang sejak lama. Ia mengaku telah mengunjungi seluruh kampus vokasi KKP di berbagai daerah untuk melihat langsung kondisi fasilitas, sistem pendidikan, hingga kualitas pembelajaran.
Dari hasil peninjauan itu, Trenggono menilai banyak fasilitas pendidikan yang sudah tidak lagi mengikuti perkembangan industri. Karena itu, diperlukan pembenahan secara menyeluruh, mulai dari kurikulum hingga target lulusan.
"Saya ingin semuanya disatukan dan diubah secara menyeluruh, mulai dari kurikulum pendidikannya hingga tujuan akhirnya. Saya ingin ukuran keberhasilan lulusannya benar-benar jelas," kata Trenggono saat peresmian Institut Kelautan Indonesia di Gedung Mina Bahari III, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026).
Menurut Trenggono, seluruh mahasiswa di kampus vokasi KKP memperoleh pembiayaan penuh dari negara. Oleh sebab itu, kualitas lulusan harus mampu bersaing di pasar kerja internasional dan menjawab kebutuhan industri kelautan modern.
"Karena pendidikan ini dibiayai 100 persen oleh negara, hasilnya juga harus memiliki kualifikasi yang luar biasa. Sistem pendidikannya harus disesuaikan dengan perkembangan industri," ujar Trenggono.
Trenggono menilai sektor ekonomi biru Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Bahkan, industri kelautan dan perikanan di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China telah berkembang menjadi bisnis bernilai miliaran dolar yang membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tinggi.
Karena itu, lulusan Institut Kelautan Indonesia tidak hanya dituntut menguasai keterampilan vokasi, tetapi juga memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, KKP akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Pertanian Bogor (IPB), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Trenggono mencontohkan budidaya rumput laut yang telah lama berkembang di Indonesia, namun hingga kini masih didominasi metode tradisional. Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset, ia berharap lahir inovasi dan industri pendukung yang mampu meningkatkan nilai tambah sektor kelautan nasional.
Dengan berdirinya Institut Kelautan Indonesia, pemerintah berharap sistem pendidikan vokasi kelautan menjadi lebih terintegrasi, modern, dan mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing di industri maritim dunia.
(Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan)