Rupiah Kembali Tertekan, Sentuh Rp18.066 per Dolar AS pada Perdagangan Jumat Pagi

Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah pada awal perdagangan Jumat (5/6/2026) pagi. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: Zaky AH

GEBRAK.ID; JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah pada awal perdagangan Jumat (5/6/2026) pagi. Mata uang Indonesia ini tercatat melemah 17 poin atau sekitar 0,09 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sehingga berada di level Rp18.066 per dolar AS.

Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.049 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang masih membayangi sejumlah mata uang negara berkembang di tengah kuatnya sentimen global.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global. Penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir masih menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Setiap sinyal terkait kebijakan moneter AS biasanya berdampak langsung terhadap pergerakan arus modal global dan nilai tukar berbagai mata uang dunia.

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, serta pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap positif menjadi faktor penopang yang dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dalam jangka menengah.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya juga menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan yang tersedia. Langkah stabilisasi dilakukan untuk memastikan pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi nasional.

Pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi sejumlah sektor, terutama yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor atau transaksi berbasis dolar AS. Sebaliknya, sektor berorientasi ekspor dapat memperoleh keuntungan dari melemahnya nilai tukar karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun Amerika Serikat, yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya. (*)