ESDM Buka Suara soal Pemadaman Listrik di Jabodetabek, Bantah Dipicu Krisis Batu Bara

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah kabar yang menyebut pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk kawasan Jabodetabek, terjadi akibat menipisnya stok batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID; JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah kabar yang menyebut pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk kawasan Jabodetabek, terjadi akibat menipisnya stok batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Penegasan itu disampaikan menyusul munculnya spekulasi di masyarakat setelah gangguan listrik terjadi di beberapa daerah dalam sepekan terakhir dengan durasi yang bervariasi. Selain Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, keluhan serupa juga dilaporkan muncul dari sejumlah wilayah lain seperti Cianjur, Semarang, Madura, dan beberapa daerah lainnya.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan bahwa kondisi pasokan batu bara nasional masih aman dan tidak menjadi penyebab terjadinya pemadaman listrik yang belakangan dikeluhkan masyarakat.

"Tidak ada batu bara menipis," kata Anggia saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Menurut Anggia, gangguan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah lebih disebabkan oleh persoalan teknis pada sistem ketenagalistrikan, bukan karena kekurangan bahan bakar untuk pembangkit.

Anggia menjelaskan pemerintah telah berkoordinasi dengan PT PLN (Persero) guna memastikan gangguan serupa tidak kembali terjadi dan pelayanan listrik kepada masyarakat tetap berjalan optimal.

"Kalau ada isu-isu yang akan ada pemadaman, itu juga tidak benar. Dipastikan tidak benar,"* tegas Anggia.

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran publik yang mengaitkan gangguan listrik dengan isu pasokan batu bara nasional. Apalagi sebelumnya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat menyampaikan rencana relaksasi kuota produksi batu bara sebagai respons terhadap dinamika harga komoditas global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Namun demikian, ESDM memastikan kebijakan relaksasi tersebut bukan karena adanya ancaman kekurangan stok batu bara dalam negeri.

Anggia menegaskan proses penyusunan dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan tambang batu bara juga tetap berjalan normal. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.

"Apalagi Pak Menteri juga sudah menyampaikan terkait RKAB ini ada relaksasi yang dilakukan secara bertahap. Jadi tidak ada masalah terkait stok batu bara," ujar Anggia

Sebagai informasi, batu bara masih menjadi tulang punggung pasokan energi nasional. Sebagian besar kebutuhan listrik Indonesia masih ditopang oleh PLTU yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar utama.

Karena itu, isu mengenai ketersediaan stok batu bara kerap menjadi perhatian publik, terutama ketika terjadi gangguan listrik di sejumlah wilayah. Namun pemerintah memastikan kondisi pasokan energi primer untuk pembangkit listrik nasional saat ini masih dalam kondisi terkendali.

Dengan adanya klarifikasi dari Kementerian ESDM, masyarakat diharapkan tidak terpengaruh oleh informasi yang menyebut pemadaman listrik disebabkan oleh krisis batu bara. Pemerintah menegaskan gangguan yang terjadi murni bersifat teknis dan tengah ditangani bersama PLN agar tidak terulang kembali.

(Sumber: ESDM)