Editor: Devona R
Strategi kendaraan listrik yang dinilai keliru memicu gejolak di tubuh Honda. Mantan petinggi perusahaan bahkan disebut turun tangan meminta CEO Toshihiro Mibe mengundurkan diri. (Foto: Honda)
GEBRAK.ID – Gejolak besar tengah melanda perusahaan otomotif asal Jepang, Honda. Di tengah tekanan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang semakin ketat, sejumlah mantan petinggi perusahaan dikabarkan berupaya mendesak Chief Executive Officer (CEO) Honda, Toshihiro Mibe, untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Laporan yang beredar menyebutkan bahwa kelompok senior Honda menilai Mibe bertanggung jawab atas sejumlah keputusan strategis yang dianggap merugikan perusahaan, termasuk komitmen besar terhadap kendaraan listrik yang berujung pada kerugian sekitar 15,7 miliar dolar AS atau setara Rp282,4 triliun.
Situasi memanas setelah Honda memutuskan membatalkan tiga proyek kendaraan listrik yang sebelumnya direncanakan meluncur di pasar Amerika Utara. Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa perusahaan tengah melakukan evaluasi besar terhadap arah bisnis elektrifikasinya.
Menurut laporan Carscoops, Kamis (11/6/2026), sejak akhir 2025 sejumlah mantan eksekutif Honda yang telah pensiun rutin menggelar pertemuan tertutup untuk membahas kondisi perusahaan. Dalam forum tersebut, mereka menyoroti sejumlah persoalan yang dinilai muncul selama kepemimpinan Mibe.
Salah satu kritik utama adalah minimnya perhatian terhadap pasar China yang saat ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan kendaraan listrik dunia. Para senior Honda juga menilai strategi EV yang dijalankan perusahaan terlalu agresif dan tidak selaras dengan kondisi pasar yang berkembang.
Bahkan, kritik tajam juga diarahkan pada gaya kepemimpinan Mibe. Beberapa mantan petinggi menuding CEO Honda tersebut lebih banyak memberikan perhatian pada aktivitas sponsorship golf dibandingkan fokus terhadap persoalan bisnis inti perusahaan.
Puncaknya terjadi pada April 2026 ketika mantan CEO Honda berusia 90 tahun, Nobuhiko Kawamoto, mendatangi kantor pusat Honda dan secara langsung meminta Toshihiro Mibe untuk mundur. Namun permintaan itu ditolak.
"CEO tidak melihat kondisi di lapangan atau mendengarkan pelanggan, dan tidak pergi ke genba," ujar salah satu pihak yang mengkritik kepemimpinan Mibe. Dalam budaya bisnis Jepang, genba merujuk pada lokasi nyata tempat aktivitas utama perusahaan berlangsung, seperti pabrik, dealer, maupun ruang pamer.
Meski mendapat tekanan dari kalangan senior, posisi Mibe hingga kini masih relatif aman. Ia memperoleh dukungan dari komite nominasi dewan direksi yang kini diisi lebih banyak direktur independen sebagai bagian dari reformasi tata kelola perusahaan di Jepang.
Sejak menjabat CEO pada 2021, Mibe menghadapi tantangan besar dalam mengarahkan transformasi Honda menuju era elektrifikasi. Sebagai bentuk tanggung jawab atas kinerja perusahaan, ia bahkan menerima pemotongan gaji sebesar 30 persen selama tiga bulan setelah Honda mencatat kerugian tahunan pertama dalam sekitar 70 tahun.
Di tengah polemik tersebut, Honda mulai mengubah arah strateginya. Perusahaan kini mengembangkan platform kendaraan generasi baru yang tidak hanya mendukung mobil listrik penuh, tetapi juga teknologi hybrid yang dianggap lebih sesuai dengan dinamika pasar global.
Sebagai bagian dari strategi baru, Honda menargetkan peluncuran 15 model hybrid hingga tahun 2029. Dua model bahkan telah diperkenalkan dalam bentuk prototipe, yakni Honda Hybrid Sedan Prototype dan Acura Hybrid SUV Prototype.
Langkah ini menunjukkan bahwa Honda mulai mengambil pendekatan yang lebih fleksibel dalam menghadapi transisi industri otomotif global, di tengah ketidakpastian perkembangan pasar kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan.
(Sumber: Carscoops)