Inggris Pecahkan Rekor Memalukan di Piala Dunia 2026, Kuasai Bola Hampir 79 Persen tapi Gagal Cetak Gol

Inggris gagal mencetak gol dan harus puas bermain imbang tanpa gol melawan Ghana pada laga kedua Grup L Piala Dunia 2026. (Foto: FIFA)
Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID – Timnas Inggris mencatatkan rekor yang tidak diinginkan dalam sejarah Piala Dunia. Meski tampil dominan sepanjang pertandingan, The Three Lions justru gagal mencetak gol dan harus puas bermain imbang tanpa gol melawan Ghana pada laga kedua Grup L Piala Dunia 2026.

Pertandingan yang berlangsung Rabu (24/6/2026) dini hari WIB itu sejatinya menempatkan Inggris sebagai penguasa lapangan. Anak asuh Thomas Tuchel terus menekan sejak menit awal dan membuat Ghana lebih banyak bertahan di wilayahnya sendiri.

Namun dominasi tersebut tidak berbanding lurus dengan efektivitas di depan gawang.

Data statistik menunjukkan Inggris menguasai bola hingga 78,8 persen sepanjang laga. Angka tersebut menjadi penguasaan bola tertinggi yang pernah dicatatkan sebuah tim dalam sejarah Piala Dunia tanpa berhasil mencetak gol.

Catatan itu melampaui rekor sebelumnya yang juga tercipta di Piala Dunia 2026. Saat itu Turki menguasai bola 78,5 persen ketika menghadapi Paraguay, tetapi tetap kalah 0-1.

Meski mengontrol jalannya pertandingan, Inggris kesulitan mengubah peluang menjadi gol. Harry Kane dan rekan-rekannya melepaskan total 19 tembakan, namun hanya empat yang tepat sasaran.

Minimnya ancaman nyata ke gawang lawan menjadi sorotan utama. Lini depan yang dihuni Harry Kane, Anthony Gordon, Noni Madueke, dan Jude Bellingham gagal menunjukkan ketajaman yang selama ini menjadi andalan Inggris.

Dari empat pemain tersebut, hanya Kane dan Gordon yang mampu mencatatkan masing-masing satu tembakan tepat sasaran. Selebihnya, serangan Inggris kerap mentok sebelum memasuki area berbahaya atau gagal memanfaatkan peluang yang tersedia.

Hasil imbang melawan Ghana pun memunculkan pertanyaan besar mengenai efektivitas strategi yang diterapkan Thomas Tuchel. Mantan pelatih Chelsea dan Bayern Munchen itu memang berhasil membuat Inggris mendominasi penguasaan bola, tetapi dominasi tersebut belum mampu diterjemahkan menjadi produktivitas gol.

Situasi ini menjadi perhatian karena Inggris datang ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu kandidat kuat juara. Dengan materi pemain bertabur bintang yang bermain di level tertinggi sepak bola Eropa, publik tentu berharap lebih dari sekadar penguasaan bola yang tinggi.

Di sisi lain, Ghana layak mendapat apresiasi atas disiplin permainan mereka. Tim asal Afrika itu mampu bertahan dengan solid sepanjang pertandingan dan berhasil meredam kreativitas lini serang Inggris.

Meski masih berada dalam posisi yang cukup baik di klasemen Grup L, Inggris perlu segera menemukan solusi sebelum memasuki fase gugur. Jika masalah penyelesaian akhir tidak segera dibenahi, dominasi permainan bisa kembali menjadi sia-sia saat menghadapi lawan yang lebih kuat.

Bagi Thomas Tuchel, laga melawan Ghana menjadi peringatan bahwa statistik penguasaan bola bukanlah segalanya. Pada akhirnya, gol tetap menjadi penentu hasil pertandingan.

(Sumber: Opta/FIFA)