Israel Geram, Trump Terjepit: Setelah MoU AS-Iran, akankah Babak Baru Konflik Timur Tengah Dimulai?

Haidar Bagir. (Foto: Dok.Mizan)
Oleh Haidar Bagir *)

Kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memunculkan dinamika baru yang berpotensi mengubah peta politik Timur Tengah. Jika melihat perkembangan yang terjadi, tidak berlebihan untuk menyebut Israel sebagai pihak yang paling kecewa dengan lahirnya kesepakatan tersebut.

Selama berbulan-bulan, pemerintahan PM Israel Benjamin Netanyahu berharap tekanan militer terhadap Iran dapat berujung pada pelemahan permanen Republik Islam itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. 

Kerangka kesepakatan yang muncul dinilai memberikan sejumlah keuntungan bagi Teheran, mulai dari penghentian konflik, peluang insentif ekonomi, hingga kemungkinan normalisasi hubungan secara bertahap antara Washington dan Teheran.

Dari perspektif Tel Aviv, perang seharusnya menjadi momentum untuk memaksa Iran menerima syarat-syarat yang selama ini ditolak, terutama terkait penghentian total program nuklirnya.

Di Amerika Serikat, kritik terhadap kesepakatan tersebut juga bermunculan. Mantan Penasihat Keamanan Nasional Presiden AS Donald Trump, John Bolton, bahkan menilai Iran berhasil "memainkan Trump seperti biola" dan memperoleh hasil yang jauh lebih menguntungkan daripada yang semestinya.

Menurut Bolton, Washington telah melepaskan daya tawar strategisnya hanya demi mengakhiri perang. Penilaian serupa juga datang dari sejumlah anggota Kongres dan kelompok konservatif yang menganggap hasil kesepakatan itu jauh dari target awal yang diumumkan Trump saat konflik dimulai.

Alih-alih mendapatkan unconditional surrender dari Iran, sebagian kalangan justru melihat Amerika Serikat sebagai pihak yang tampak mengalah.

Meski demikian, Trump dan para pendukungnya berupaya menjelaskan bahwa Iran telah menyetujui sejumlah konsesi penting. Di antaranya pengelolaan atau penghapusan stok uranium yang telah diperkaya serta penerapan mekanisme verifikasi internasional yang lebih ketat.

Pemerintahan Trump juga menegaskan bahwa dana yang nantinya mengalir ke Iran bukanlah hadiah politik, melainkan bagian dari investasi rekonstruksi dan insentif ekonomi yang diberikan secara bertahap sesuai tingkat kepatuhan Teheran terhadap isi kesepakatan.

Namun pertanyaannya, bukankah seluruh rincian tersebut tidak tertulis secara eksplisit dalam MoU?

Ketegangan AS-Israel Mulai Terlihat

Hal yang tak kalah menarik adalah semakin terlihatnya gesekan antara Washington dan Tel Aviv.

Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka mengkritik sejumlah pejabat Israel yang menyerang kesepakatan tersebut. Ia mengingatkan bahwa Trump merupakan satu-satunya sekutu kuat yang masih secara konsisten berada di pihak Israel.

Vance bahkan menegaskan bahwa sekitar dua pertiga persenjataan yang digunakan Israel dalam menghadapi Iran berasal dari Amerika Serikat. Karena itu, menurutnya, para pejabat Israel tidak seharusnya menyerang sekutu terpenting mereka sendiri.

Dalam kesempatan lain, Vance menyebut reaksi sebagian kalangan di Israel terhadap kesepakatan tersebut sebagai "freakout" atau kepanikan yang berlebihan.

Pernyataan seperti itu hampir tidak pernah terdengar dalam hubungan AS-Israel selama beberapa dekade terakhir. Karena itulah banyak pengamat menilai bahwa sebagian pejabat dalam pemerintahan Trump mulai menunjukkan kejengkelan terhadap Netanyahu dan kelompok-kelompok hawkish di Israel yang terus mendorong eskalasi konflik.

Apa Langkah Israel Berikutnya?

Pertanyaan penting setelah lahirnya MoU ini adalah: apa yang akan dilakukan Israel?

Sulit membayangkan Israel akan berhenti begitu saja mencoba menggagalkan proses yang sedang berjalan. Jika tujuan utamanya adalah mencegah normalisasi hubungan AS-Iran, maka keberhasilan MoU justru menjadi ancaman strategis terhadap agenda yang selama ini diperjuangkannya.

Salah satu skenario yang paling mungkin adalah menjaga suhu konflik tetap tinggi. Provokasi, operasi rahasia, serangan terbatas, maupun tindakan lain yang dapat memancing respons Iran tetap menjadi opsi yang menggiurkan.

Logikanya sederhana. Selama konflik terus berlangsung, ruang diplomasi akan semakin sempit. Jika Iran pada suatu saat melakukan balasan langsung terhadap Israel dalam skala besar, maka tekanan terhadap Washington untuk kembali terlibat secara militer akan meningkat drastis.

Dalam situasi seperti itu, Amerika Serikat akan berada pada posisi yang sangat sulit. Secara politik, Washington hampir mustahil bersikap pasif jika Israel menjadi sasaran serangan besar, baik karena faktor aliansi strategis di Timur Tengah maupun tekanan politik domestik yang kuat.

Karena itu, keberhasilan dan keberlangsungan MoU tidak hanya bergantung pada Washington dan Teheran. Kesepakatan tersebut juga sangat ditentukan oleh kemampuan kedua pihak untuk mencegah aktor ketiga menyeret mereka kembali ke dalam pusaran eskalasi.

Babak Sesungguhnya Baru Dimulai

Jika melihat perkembangan yang ada, pertempuran sesungguhnya mungkin justru baru dimulai.

MoU memang telah ditandatangani, tetapi perang politik yang mengelilinginya baru memasuki babak berikutnya. Salah satu pertanyaan terbesar adalah apakah Israel akan menerima realitas baru yang sedang dibangun Washington dan menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, atau justru berusaha menggagalkan berbagai upaya perdamaian dengan segala cara yang tersedia.

Di sisi lain, peran negara-negara Eropa dan kawasan Teluk juga tidak bisa diabaikan. Jika mereka mulai melihat konflik ini dengan perspektif yang lebih independen dan tidak lagi terjebak dalam kepentingan sempit, peluang terciptanya stabilitas kawasan akan semakin besar.

Namun jika tidak, kesepakatan hari ini bisa jadi hanya jeda sementara yang menunda pecahnya konflik yang lebih besar di masa mendatang.

Kita tentu berharap skenario terbaik yang akan terjadi.

19 Juni 2026

*) Cendekiawan, filantropis, dan penulis.