GEBRAK.ID, JAKARTA – Lelucon khas bapak-bapak atau yang populer disebut dad jokes selama ini kerap menjadi bahan candaan karena dianggap garing, mudah ditebak, bahkan membuat pendengarnya menggelengkan kepala. Namun di balik kesederhanaannya, penelitian terbaru justru menemukan fakta bahwa humor semacam ini memiliki manfaat yang tidak bisa dianggap sepele bagi kesehatan otak dan kesejahteraan emosional.
Temuan tersebut diungkap dalam sebuah studi yang dipublikasikan melalui PsyArXiv, repositori penelitian psikologi terbuka. Penelitian yang dilakukan psikolog Paul J. Silvia dari University of North Carolina at Greensboro dan Meriel I. Burnett dari University of Massachusetts Amherst itu mengkaji karakteristik unik dad jokes serta dampaknya terhadap cara kerja otak.
Menurut para peneliti, lelucon khas bapak-bapak umumnya mengandalkan permainan kata, plesetan, dan struktur humor yang sederhana. Justru karena mudah dipahami, humor jenis ini dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia dan menjadi sarana interaksi yang efektif dalam keluarga maupun lingkungan sosial.
Berbeda dengan komedi yang membutuhkan referensi budaya atau konteks tertentu, dad jokes dapat menciptakan momen kebersamaan yang ringan dan inklusif. Dari sudut pandang psikologi, proses memahami permainan kata juga melibatkan aktivitas kognitif yang cukup kompleks.
Penelitian menunjukkan kemampuan menangkap makna ganda dalam sebuah lelucon berkaitan dengan keterampilan verbal, kreativitas berpikir, serta kemampuan otak menghubungkan informasi dari berbagai sudut pandang.
Tak hanya itu, manfaat tertawa juga telah banyak dibuktikan secara ilmiah. Tertawa membantu menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol dan epinefrin, sekaligus meningkatkan produksi dopamin, serotonin, dan endorfin yang berperan dalam menciptakan perasaan bahagia.
Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One pada 2023 bahkan menemukan bahwa satu sesi tertawa dapat menurunkan kadar kortisol lebih dari 36 persen. Penurunan hormon stres tersebut membantu otak bekerja lebih optimal, termasuk pada area korteks prefrontal yang berperan dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan kreativitas.
Pakar perkembangan anak usia dini dari Middlesex University, Jacqueline Harding, menilai humor memiliki peran penting dalam perkembangan manusia sejak usia dini. Dalam bukunya The Brain That Loves to Laugh, ia menjelaskan bahwa kegembiraan dan tawa bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari proses belajar dan pembentukan ketahanan mental.
"Harapan dan humor tampaknya bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan bagian mendasar dari resep perkembangan yang sehat," tulis Harding, dikutip dari New York Post pada Selasa (23/6/2026).
Lebih jauh, tertawa bersama anggota keluarga juga dapat meningkatkan produksi oksitosin, hormon yang membantu mempererat hubungan emosional. Interaksi positif seperti ini mendukung proses co-regulation, yakni kemampuan mengelola emosi secara bersama-sama sehingga individu lebih mampu menghadapi tekanan dan stres.
Karena itu, lelucon bapak-bapak yang selama ini dianggap receh ternyata menyimpan manfaat yang lebih besar dari sekadar mengundang senyum. Di tengah kehidupan yang penuh tekanan, humor sederhana bisa menjadi cara murah, mudah, dan efektif untuk menjaga kesehatan otak sekaligus memperkuat hubungan sosial.
(Sumber: New York Post)
