Kemendikdasmen Gandeng BPOM Bangun Budaya Hidup Sehat di Sekolah, Anak Diajak Lebih Cermat Pilih Makanan

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi menjalin kerja sama untuk memperkuat edukasi keamanan pangan di lingkungan sekolah. Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Jakarta, Senin (29/6/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA – Upaya membangun generasi Indonesia yang sehat dan berkarakter tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga dengan membiasakan pola hidup sehat sejak dini. Berangkat dari semangat tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi menjalin kerja sama untuk memperkuat edukasi keamanan pangan di lingkungan sekolah.

Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Jakarta, Senin (29/6/2026). Melalui kerja sama ini, kedua institusi meluncurkan Program Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah Berbasis Budaya, Gerakan 1.000 Kader Edukasi Pangan Aman Menggunakan Bahasa Daerah, serta tiga pedoman pelaksanaan keamanan pangan guna mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, membangun budaya hidup sehat harus dimulai sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah. Menurutnya, pendidikan tentang pangan aman tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

Abdul Mu'ti menilai masih banyak anak yang memilih makanan hanya berdasarkan rasa atau tren tanpa memahami kandungan gizi maupun keamanannya.

"Problem kita, anak-anak sering lebih banyak memilih food for fun tanpa sadar kandungan gizinya. Karena itu, budaya hidup sehat dan sadar pangan menjadi penting," ujar Abdul Mu'ti.

Biasakan Anak Membaca Label dan Tanggal Kedaluwarsa

Abdul Mu'ti menegaskan sekolah memiliki posisi strategis untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat kepada peserta didik. Salah satu langkah sederhana yang perlu dibiasakan adalah mengajarkan anak membaca komposisi bahan makanan, memperhatikan informasi nilai gizi, hingga mengecek tanggal kedaluwarsa sebelum membeli produk.

Menurutnya, kebiasaan tersebut bukan sekadar pengetahuan, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang akan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

"Kerja sama ini bukan sekadar seremonial, tetapi gerakan bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Kami ingin anak-anak terbiasa melihat ingredients dan tanggal kedaluwarsa saat membeli produk makanan. Ini membangun sikap kritis dan tanggung jawab. Mudah-mudahan MoU ini menjadi awal untuk membangun budaya hidup sehat bagi Generasi Emas Indonesia 2045," kata Abdul Mu'ti.

Abdul Mu'ti juga menegaskan kerja sama tersebut sejalan dengan berbagai program prioritas pemerintah, seperti Program Sekolah Sehat, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, pembangunan budaya sekolah yang aman dan nyaman, hingga Program Makan Bergizi Gratis yang saat ini terus diperluas pelaksanaannya.

BPOM: Edukasi Harus Menjangkau Lebih Banyak Sekolah

Di sisi lain, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut sinergi dengan Kemendikdasmen menjadi langkah penting untuk memperluas jangkauan edukasi keamanan pangan.

Menurutnya, jumlah sekolah di Indonesia yang mencapai sekitar 260 ribu satuan pendidikan belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh BPOM. Hingga saat ini, edukasi langsung baru terlaksana di sekitar 60 ribu sekolah.

Karena itu, kolaborasi lintas kementerian dan lembaga dinilai menjadi solusi agar semakin banyak peserta didik memahami pentingnya memilih makanan yang aman dan bergizi.

"Pembudayaan keamanan pangan di sekolah sejak dini menjadi salah satu solusi permasalahan keamanan pangan. Pendidikan mengenai budaya makan sehat dan bergizi wajib diajarkan sejak awal," ujar Taruna.

Bahasa Daerah Jadi Media Edukasi

Program ini juga melibatkan pendekatan budaya agar pesan tentang keamanan pangan lebih mudah diterima masyarakat.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan penggunaan bahasa daerah, seni pertunjukan, hingga cerita rakyat dinilai lebih efektif dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak.

"Pesan keamanan pangan akan lebih mudah diterima jika disampaikan melalui bahasa daerah, seni pertunjukan, atau cerita rakyat. Kebudayaan bukan hanya warisan yang dilestarikan, tetapi juga sarana efektif membangun kesadaran publik," kata Fadli.

Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membentuk kebiasaan hidup sehat sejak usia dini. Dengan memahami pentingnya memilih pangan yang aman, bergizi, dan berkualitas, peserta didik diharapkan tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, serta siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

(Sumber: Kemendikdasmen)