Editor: Devona R
Mahasiswa Program Doktor Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) Bunga Kharissa Laras Kemala. (Foto: Humas UI)
GEBRAK.ID, DEPOK – Pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia membutuhkan infrastruktur pengisian daya yang memadai. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Doktor Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Bunga Kharissa Laras Kemala, mengembangkan model baru untuk menentukan lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dinilai lebih adaptif terhadap kebutuhan di masa depan.
Berbeda dengan metode konvensional yang umumnya hanya melihat kondisi saat ini, model yang dikembangkan Bunga menggabungkan prediksi pertumbuhan kendaraan listrik dengan perilaku pengguna dalam melakukan perjalanan dan pengisian daya.
"Berbeda dengan pendekatan konvensional yang umumnya hanya mempertimbangkan kondisi saat ini, penelitian ini memperhitungkan perkembangan adopsi kendaraan listrik secara spasial dan temporal, serta pola penggunaan kendaraan oleh masyarakat," ujar Bunga di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026).
Penelitian tersebut dituangkan dalam disertasi berjudul "Pengembangan Model Perencanaan Lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum: Pendekatan Multi-Tahap Berbasis Prediksi Adopsi dan Permodelan Perilaku Pengguna".
Dalam risetnya, Bunga merancang kerangka kerja empat tahap yang bertujuan membantu perencanaan pembangunan SPKLU secara lebih efektif dan berorientasi jangka panjang.
Model tersebut mengintegrasikan sejumlah pendekatan, mulai dari prediksi pertumbuhan kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV), analisis perilaku perjalanan pengguna, simulasi kebutuhan pengisian daya (charging demand), hingga optimasi lokasi SPKLU.
Sebagai wilayah kajian, penelitian ini mengambil kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek), yang merupakan salah satu pusat pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia.
Untuk memprediksi tingkat adopsi kendaraan listrik, Bunga memanfaatkan teknologi neural network atau jaringan saraf tiruan. Hasil prediksi tersebut kemudian dipadukan dengan data survei perilaku perjalanan masyarakat.
Selanjutnya, seluruh data dianalisis menggunakan simulasi berbasis agen (agent-based simulation) guna memperkirakan kebutuhan pengisian daya berdasarkan lokasi, waktu, serta karakteristik perjalanan pengguna kendaraan listrik.
Tahap berikutnya adalah proses optimasi yang bertujuan menentukan titik pembangunan SPKLU paling efektif. Model tersebut dirancang agar mampu memberikan cakupan layanan yang luas sekaligus memperpendek jarak tempuh pengguna menuju fasilitas pengisian daya.
Menurut Bunga, pembangunan SPKLU seharusnya tidak hanya mengikuti kebutuhan saat ini, tetapi juga mampu mengantisipasi lonjakan penggunaan kendaraan listrik pada masa mendatang.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah maupun pelaku industri dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai lokasi-lokasi yang membutuhkan tambahan infrastruktur pengisian daya dalam beberapa tahun ke depan.
"Ketersediaan infrastruktur pengisian daya menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenyamanan dan kepercayaan masyarakat dalam menggunakan kendaraan listrik. Melalui model ini, saya berharap perencanaan SPKLU dapat dilakukan lebih tepat sasaran dan menjadi referensi bagi para pemangku kepentingan dalam mengembangkan infrastruktur kendaraan listrik," kata Bunga.
Selain membantu memetakan kebutuhan SPKLU saat ini, model tersebut juga dapat digunakan untuk memproyeksikan kebutuhan infrastruktur di masa depan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu referensi ilmiah bagi pemerintah, PLN, pelaku industri otomotif, maupun investor dalam mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Sejalan dengan target pemerintah mempercepat transisi menuju kendaraan rendah emisi, keberadaan model perencanaan yang berbasis data dan proyeksi jangka panjang dinilai penting agar investasi pembangunan SPKLU menjadi lebih efisien, tepat sasaran, dan mampu mendukung meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
(Sumber: Humas UI)