Menteri Keuangan Yakin Harga Pertamax Segera Turun, Ini Dampak Kesepakatan Damai AS-Iran


Purbaya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun. ( Foto: kemenkeu) 


Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID, JAKARTA– Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green 95 akan segera turun. Keyakinan ini menyusul tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi menekan harga minyak dunia.

"Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga pondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat," ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026) .

Penurunan Bertahap hingga Akhir Tahun

Proyeksi penurunan harga BBM non-subsidi ini juga didukung oleh para pakar ekonomi energi. Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki, memproyeksikan harga Pertamax dapat turun secara bertahap dari posisi Rp16.250 per liter pada Juni 2026 menuju kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada Desember 2026.

"Ruang penurunan harga BBM nonsubsidi sudah terbuka. Dexlite dan Pertamina Dex sudah turun," jelas Yayan. 

Proyeksi tersebut memperhitungkan Indonesian Crude Price (ICP) yang diperkirakan berangsur turun ke level 90,6 dolar AS per barel pada Desember 2026, dengan kurs rupiah yang menguat dari Rp17.927 menjadi Rp16.959 per dolar AS .

Proyeksi Harga Pertamax 2026:

Bulan Harga (Rp/Liter)

Juni 16.250

Juli 15.228

Agustus 14.557

September 14.112

Oktober 13.814

November 13.614

Desember 13.479

Sumber: Proyeksi Pakar Ekonomi Energi Unpad 

Dampak Kesepakatan Damai dan Pembukaan Selat Hormuz

Kesepakatan damai AS-Iran yang ditandatangani secara digital pada pekan lalu membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi rute utama sekitar seperlima perdagangan minyak dunia .

Pemerintah menyambut positif perkembangan ini. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai salah satu faktor yang akan diperhatikan dalam penyesuaian harga BBM non-subsidi. 

Namun demikian, dampak kesepakatan tersebut tidak akan langsung terasa. Harga BBM non-subsidi mengikuti formula yang mengacu pada harga keekonomian minyak dunia. Sebagaimana dijelaskan dalam analisis ANTARA, dampak pembukaan Hormuz baru akan tercermin penuh pada penetapan ICP bulan depan. 

Analis memperkirakan harga minyak membutuhkan waktu empat hingga delapan pekan untuk stabil, mengingat masih adanya antrean kapal tanker, premi asuransi pengiriman yang tinggi, dan risiko geopolitik yang belum sepenuhnya padam. 

Respon Kebijakan dan Prospek Ekonomi

Menteri Keuangan mengakui bahwa kenaikan harga minyak dunia menjadi tekanan ekonomi Indonesia selama ini, sehingga kenaikan harga BBM non-subsidi terpaksa dilakukan untuk memitigasi dampak global. 

"Jadi memang ketika ketidakpastian meningkat seperti kemarin, harga minyak dunia tinggi sekali, kita dalam ujian yang berat," ungkap Purbaya. 

Dengan prospek membaiknya kondisi geopolitik dan harga minyak yang lebih rendah, pemerintah menilai kondisi ekonomi pada kuartal II-2026 akan lebih baik. "Ke depan, tinggal memperbaiki pondasi yang sudah ada supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal," imbuhnya. 

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen sebagai bagian dari jalur menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029.

( berbagai sumber)