Mobilisasi 4 Juta Orang Jadi Biang Kerut Kemacetan Jakarta, Pramono Andalkan Transjabodetabek

Gubernur DKI Pramono Anung ungkap 4 juta orang keluar-masuk Jakarta setiap hari jadi biang kemacetan. Pemprov perluas Transjabodetabek sebagai solusi. (Foto: Pemprov DKI Jakarta) 
Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan salah satu akar masalah kemacetan yang masih melanda ibu kota. Tingginya mobilitas warga dari daerah penyangga, yang mencapai jutaan orang setiap hari, disebut menjadi pemicu utama padatnya lalu lintas i jalanan Jakarta.

Pernyataan ini disampaikan Pramono saat berdialog dengan warga pada malam puncak perayaan HUT Ke-499 Jakarta di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026). Ia memaparkan bahwa setiap hari, sekitar 4 juta orang berbondong-bondong masuk ke Jakarta pada pagi hari dan kembali ke kediaman mereka di sore hingga malam hari .

"Salah satu penyebab kemacetan di Jakarta adalah sekitar 4 juta orang datang setiap hari. Sore harinya, sekitar 4 juta orang kembali ke kediamannya masing-masing. Itulah yang sekarang diatur oleh Jakarta," ujar Pramono. 

Data dari Kepolisian Daerah Metro Jaya menunjukkan tingginya tekanan kendaraan di ibu kota. Hingga akhir tahun 2025, jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di wilayah hukum Polda Metro Jaya sudah menembus angka 25 juta unit . Angka fantastis ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan panjang jalan yang hanya bertambah sekitar 0,20 persen per tahun, menciptakan ketimpangan yang menjadi lahan subur kemacetan. 

Solusi Transjabodetabek

Menghadapi tantangan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta gencar memperluas layanan transportasi umum yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga melalui jaringan Transjabodetabek . Pramono menjelaskan, langkah ini diambil untuk menyediakan alternatif bagi warga luar Jakarta agar beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

"Sekarang ada dari Blok M ke Bogor, Blok M ke Soekarno-Hatta, Blok M ke Bekasi, dan sebagainya. Kenapa? Itu untuk supaya warga dari luar Jakarta mereka bisa naik transportasi Transjabodetabek," tegasnya .

Jaringan ini terus diperluas. Pada Maret 2026, Pemprov DKI resmi meluncurkan rute baru SH2 yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Rute sepanjang 65,1 kilometer ini melintasi 23 titik pemberhentian dengan waktu tempuh sekitar 121 menit dan waktu tunggu (headway) 10 hingga 20 menit. 

Antusiasme masyarakat terhadap rute baru ini cukup tinggi. Sepanjang April 2026, layanan SH2 tercatat telah melayani 45.113 penumpang. Keberhasilan serupa juga terlihat pada rute Blok M-Bogor yang awalnya diproyeksikan mengangkut 2.000 penumpang per hari, kini melonjak hingga lebih dari 8.000 penumpang setiap harinya .

Ke depan, Pemprov DKI juga berencana menambah rute Transjabodetabek baru, seperti Cawang-Jababeka, untuk mengakomodasi mobilitas pekerja di kawasan industri . Selain itu, pengembangan jaringan Light Rail Transit (LRT) yang membentuk lintasan melingkar (loop) di ibu kota juga tengah dipercepat untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih terintegrasi. 

Meski masih ada penyesuaian tarif, terutama untuk rute ke bandara yang saat ini dalam evaluasi dari tarif promo , Pramono optimistis transportasi umum yang nyaman dan terintegrasi akan mendorong perpindahan massal dari kendaraan pribadi. "Mudah-mudahan yang seperti ini akan membuat kesadaran orang untuk naik transportasi umum," kata dia berharap. 

(berbagai sumber)