Pakar BPIP: Prospek Damai AS-Iran Masih Terganjal Agresi Israel di Lebanon

Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala. (Foto: Pusat Media Damai BNPT RI)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, JAKARTA – Kesepakatan damai yang mulai terbangun antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai memberikan harapan baru bagi stabilitas kawasan Timur Tengah. Namun, peluang terciptanya perdamaian yang berkelanjutan masih menghadapi tantangan besar, terutama akibat berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon.

Penilaian tersebut disampaikan Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala. Menurutnya, meski Washington dan Teheran telah menunjukkan komitmen untuk menempuh jalur diplomasi, situasi keamanan kawasan masih jauh dari kata kondusif.

"Meski AS dan Iran sudah menyetujui kesepakatan damai, prospeknya di Timur Tengah masih diragukan," kata Darmansjah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (21/6/2026).

Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Austria dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mengatakan, setelah bertahun-tahun diwarnai konfrontasi, sanksi ekonomi, serta ancaman militer, kesediaan kedua negara untuk kembali berdialog merupakan perkembangan yang signifikan.

Menurut Darmansjah, penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) memiliki nilai strategis dalam meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran yang selama ini menjadi salah satu faktor utama ketidakstabilan di Timur Tengah.

Selain berpotensi menurunkan tensi politik, implementasi kesepakatan tersebut juga diyakini dapat menghidupkan kembali diplomasi dan negosiasi sebagai mekanisme utama penyelesaian sengketa internasional.

Darmansjah menambahkan, hubungan yang lebih konstruktif antara AS dan Iran juga dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas politik dan keamanan di kawasan Teluk maupun Timur Tengah secara keseluruhan.

Namun, optimisme itu mulai mendapat ujian setelah kembali terjadinya serangan militer Israel di Lebanon selatan hanya dua hari setelah kesepakatan damai AS-Iran disetujui.

Menurut Darmansjah, dari sudut pandang Iran, aksi militer Israel tidak hanya dipandang sebagai ancaman terhadap sekutu-sekutunya di kawasan, tetapi juga sebagai upaya mempertahankan politik konfrontasi yang berpotensi menghambat proses normalisasi hubungan dengan Amerika Serikat.

Darmansjah menilai eskalasi konflik di Lebanon Selatan dapat memicu reaksi berantai. Iran diperkirakan akan menghadapi tekanan, baik dari dalam negeri maupun kawasan, untuk meningkatkan dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi yang beroperasi di Timur Tengah.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga berada dalam posisi yang tidak mudah. Sebagai sekutu utama Israel, Washington harus menyeimbangkan komitmennya terhadap proses diplomasi dengan Iran sekaligus mempertahankan hubungan strategis dengan Tel Aviv.

Karena itu, Darmansjah menilai keberhasilan implementasi kesepakatan AS-Iran sangat bergantung pada kemampuan kedua negara dalam menjaga deeskalasi di Selat Hormuz, bersamaan dengan upaya menghentikan konflik yang terus berlangsung di Lebanon.

Darmansjah juga menekankan perlunya peran yang lebih aktif dari Amerika Serikat untuk menahan eskalasi militer Israel agar proses diplomasi yang telah dibangun tidak kembali terganggu.

"Perdamaian membutuhkan lingkungan regional yang kondusif, pengendalian eskalasi, dan komitmen semua pihak untuk mengedepankan diplomasi dibandingkan penggunaan kekuatan militer," ujar Darmansjah menandaskan.

(Siaran Pers)