![]() |
| Ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin memperkirakan mata uang Indonesia berpotensi merosot hingga menyentuh level Rp25.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026. (Foto: AI) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID;JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin memperkirakan mata uang Garuda berpotensi merosot hingga menyentuh level Rp25.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026. Prediksi tersebut memicu perdebatan di kalangan ekonom karena jauh lebih pesimistis dibanding proyeksi mayoritas analis dan Bank Indonesia.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah memang masih besar. Namun, mereka berbeda pandangan mengenai seberapa dalam pelemahan yang mungkin terjadi dan faktor utama yang menjadi penyebabnya.
Ferry Latuhihin: Rupiah Bisa Menyentuh Rp25.000
Dalam wawancara yang ditayangkan CNN Indonesia TV pada Rabu (3/6/2026), Ferry Latuhihin menyampaikan proyeksi bahwa rupiah berpotensi melemah ke kisaran Rp22.000 hingga Rp25.000 per dolar AS pada akhir tahun.
Menurut Ferry, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, tetapi juga dari persoalan domestik yang dinilai meningkatkan kerentanan ekonomi nasional.
Ia menyoroti risiko terjadinya twin deficit, yakni defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan yang terjadi secara bersamaan. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi kepercayaan investor dan mendorong arus keluar modal dari pasar keuangan Indonesia.
Ferry juga menilai pasar mulai memperhitungkan risiko fiskal yang lebih tinggi, sehingga berpotensi menekan nilai tukar rupiah dalam jangka menengah hingga panjang.
Bhima Yudhistira: Risiko Rp20.000 Jika Kepercayaan Pasar Menurun
Pandangan senada, meski tidak seekstrem Ferry, disampaikan Direktur Eksekutif Bhima Yudhistira dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Bhima sebelumnya memperingatkan bahwa jika tren pelemahan rupiah terus berlangsung tanpa perbaikan sentimen pasar, nilai tukar berpotensi bergerak menuju Rp20.000 per dolar AS.
Menurut Bhima, tekanan terhadap rupiah tidak bisa hanya dijelaskan oleh faktor global. Ia menilai investor juga mencermati berbagai perkembangan kebijakan ekonomi di dalam negeri, termasuk persepsi terhadap arah fiskal pemerintah, iklim investasi, dan keberlanjutan reformasi ekonomi.
"Faktor domestik saat ini memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap persepsi investor terhadap aset Indonesia," demikian inti pandangan Bhima dalam sejumlah wawancara media sepanjang Mei 2026.
Bhima juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah bukan kondisi yang menguntungkan bagi Indonesia karena industri nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku dan barang modal. Rupiah yang melemah akan meningkatkan biaya produksi dan berpotensi mendorong inflasi.
Josua Pardede: Ketidakpastian Kebijakan Membebani Rupiah
Sementara itu, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah merupakan hasil kombinasi faktor eksternal dan domestik.
Menurut Josua, pasar keuangan saat ini sangat sensitif terhadap ketidakpastian kebijakan. Investor global tidak hanya memperhatikan arah suku bunga Amerika Serikat, tetapi juga mencermati konsistensi kebijakan ekonomi dan fiskal di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa penguatan dolar AS akibat tingginya suku bunga Federal Reserve masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Namun di sisi lain, Josua menegaskan bahwa faktor domestik juga berkontribusi terhadap tekanan yang terjadi. Karena itu, stabilitas kebijakan dan komunikasi pemerintah kepada pasar menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor.
Josua juga menolak anggapan bahwa pelemahan rupiah selalu menguntungkan perekonomian. Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor membuat depresiasi rupiah justru meningkatkan biaya produksi dunia usaha.
Perry Warjiyo: Rupiah Undervalued dan Akan Stabil
Berbeda dengan ketiga ekonom tersebut, Gubernur Perry Warjiyo menilai pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor global dibanding persoalan fundamental ekonomi Indonesia.
Menurut Perry, tekanan berasal dari tingginya suku bunga Amerika Serikat, ketegangan geopolitik global, serta perpindahan modal internasional ke aset-aset berdenominasi dolar AS.
Bank Indonesia bahkan menilai rupiah saat ini berada dalam posisi undervalued, atau lebih lemah dibanding nilai fundamental yang seharusnya.
Perry menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, ditopang inflasi yang terkendali, ketahanan sektor perbankan, serta cadangan devisa yang memadai.
Karena itu, Bank Indonesia tetap memperkirakan rupiah akan bergerak lebih stabil pada semester II 2026 dan tidak melihat skenario pelemahan hingga Rp25.000 sebagai proyeksi dasar.
Mengapa Rupiah Terus Tertekan?
Meski berbeda dalam proyeksi, para ekonom memiliki sejumlah kesamaan pandangan mengenai sumber tekanan terhadap rupiah, yaitu:
• Tingginya suku bunga acuan Federal Reserve.
• Penguatan indeks dolar AS di pasar global.
• Ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.
• Arus keluar modal dari negara berkembang.
• Kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan kebijakan domestik.
• Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku dan barang modal.
Perdebatan kan Berlanjut
Perbedaan pandangan antara Ferry Latuhihin, Bhima Yudhistira, Josua Pardede, dan Perry Warjiyo menunjukkan bahwa arah rupiah hingga akhir 2026 masih menjadi perdebatan terbuka.
Ferry melihat risiko pelemahan ekstrem hingga Rp25.000 per dolar AS. Bhima memperingatkan kemungkinan rupiah menembus Rp20.000 jika kepercayaan pasar memburuk. Josua menilai tekanan berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Sementara Perry Warjiyo tetap optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Bagi pelaku usaha dan investor, perbedaan pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa pergerakan rupiah ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas fiskal, memperkuat kepercayaan pasar, serta meredam dampak gejolak ekonomi global.
(berbagai sumber)
