Rupiah Menguat, Ada Kabar dari Timur Tengah yang Bikin Pasar Bernapas Lega

Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026) pagi. (Foto: Pixabay)
Editor: Zaky AH

GEBRAK.ID; JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026) pagi. Mata uang Garuda naik 54 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp18.134 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di posisi Rp18.188 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah membaiknya sentimen pasar global menyusul meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut turut menekan harga minyak dunia dan mendorong minat investor terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan berkurangnya eskalasi konflik antara Iran dan Israel menjadi salah satu faktor utama yang menopang pergerakan rupiah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak dunia karena meredanya geopolitik di Timur Tengah, di mana Iran dan Israel untuk sementara menghentikan penyerangan,” ujar Lukman.

Laporan sejumlah media internasional menyebutkan Iran menyatakan penghentian sementara serangan terhadap Israel. Namun, Teheran tetap memberikan peringatan keras bahwa respons lebih besar dapat dilakukan apabila terjadi serangan lanjutan, khususnya yang berkaitan dengan situasi di Lebanon.

Di sisi lain, muncul laporan bahwa Israel dan Amerika Serikat telah menyampaikan pesan kepada Iran bahwa tidak akan ada aksi militer lanjutan selama Teheran juga menahan diri. Sinyal deeskalasi tersebut langsung direspons positif oleh pelaku pasar keuangan global.

Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa ruang penguatan rupiah masih terbatas. Menurutnya, pasar tetap mencermati berbagai tantangan dari dalam negeri yang memengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

“Penguatan akan terbatas mengingat sentimen domestik yang masih negatif. Sentimen yang telah memburuk menjadi krisis kepercayaan,” kata Lukman.

Pelaku pasar kini menunggu perkembangan lanjutan dari kawasan Timur Tengah serta sejumlah data ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan.

(Sumber: Antara/Anadolu)