![]() |
| LPS melaporkan total nominal simpanan mencapai Rp 10.330 triliun, naik 2,20 persen secara bulanan (MoM) dibandingkan posisi April 2026 yang sebesar Rp 10.107 triliun. (Foto: ist) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA – Kabar baik bagi perbankan nasional. Dana simpanan masyarakat di bank umum kembali mencatatkan peningkatan pada Mei 2026, membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi di bulan sebelumnya. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan total nominal simpanan mencapai Rp 10.330 triliun, naik 2,20 persen secara bulanan (MoM) dibandingkan posisi April 2026 yang sebesar Rp 10.107 triliun .
Kenaikan ini sekaligus mematahkan isu “makan tabungan” yang sempat mengemuka di masyarakat. Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan Simpanan & Resolusi Bank, Doddy Zulverdi, menegaskan bahwa data menunjukkan tren positif di semua kelompok simpanan.
“Fenomena makan tabungan itu, kalau melihat angka-angka ini, tidak demikian. Kami melihat simpanan sampai dengan Rp 100 juta ini masih tumbuh positif, bahkan pertumbuhannya lebih baik daripada posisi akhir 2025,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (25/6/2026) .
Secara spesifik, simpanan dengan nominal di bawah Rp 100 juta tumbuh 4,95 persen secara tahunan (YoY) hingga Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 3,43 persen . Pertumbuhan positif ini tercatat di seluruh kelompok simpanan, termasuk segmen besar di atas Rp 5 miliar yang masih tumbuh dua digit sebesar 21,45 persen.
Didorong Pertumbuhan Alami dan Penempatan Dana Pemerintah
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini tidak terlepas dari dua faktor utama: pertumbuhan alami simpanan masyarakat dan penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan. Meskipun tanpa dana pemerintah, simpanan masyarakat secara natural tetap tumbuh sekitar 9,6 persen.
“Secara agregat, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 13,47 persen secara tahunan. Jadi, tidak ada pengaruh gejolak global terhadap pola jumlah nominal simpanan,” tegas Anggito .
Giro Jadi Primadona, Deposito Masih Mendominasi
Dilihat dari jenisnya, terjadi dinamika pergerakan. Pada Mei 2026, giro mencatat kenaikan nominal tertinggi sebesar 4,40 persen secara bulanan. Sementara itu, simpanan deposito masih menjadi instrumen dengan porsi terbesar, mencapai 34,84 persen dari total simpanan nasional.
Adapun secara tahunan (YoY), data Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan DPK perbankan mencapai 10,8 persen, didorong oleh pertumbuhan dana murah (CASA) terutama giro yang melonjak 20,4 persen.
Sebaran dan Jaminan Simpanan
Dari sisi sebaran, DKI Jakarta menjadi wilayah dengan nominal simpanan terbesar, mencapai Rp 5.783,85 triliun atau sekitar 56 persen dari total nasional, diikuti oleh Jawa Timur dan Jawa Barat . Sementara itu, berdasarkan jenis bank, Bank BUMN mengantongi porsi tertinggi dengan 48,8 persen dari total simpanan, diikuti bank swasta nasional sebesar 37,5 persen.
Untuk menjaga kepercayaan, LPS memastikan hampir seluruh rekening nasabah terlindungi. Hingga Mei 2026, sebanyak 681,67 juta rekening bank umum atau 99,94 persen dari total rekening dijamin penuh hingga Rp 2 miliar per nasabah per bank . LPS mengingatkan masyarakat untuk memastikan simpanannya memenuhi kriteria 3T (Tercatat dalam pembukuan bank, Tingkat bunga tidak melebihi TBP, dan Tidak merugikan bank) agar tetap dijamin.
( berbagai sumber)
