![]() |
| Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. ( Foto: ist) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID, JAKARTA--Bank Indonesia (BI) mencatat lonjakan transaksi local currency settlement (LCT) hingga 309% pada 2026, mendorong perluasan kerja sama ke India, Korea Selatan, serta Arab Saudi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Minat negara mitra terhadap transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCT) kian meningkat. Setelah sukses menjalin kerja sama dengan China dan Hong Kong, Bank Indonesia (BI) kini membidik sejumlah negara lain seperti India, Korea Selatan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi untuk memperluas implementasi skema transaksi tanpa dolar AS ini.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa keberhasilan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan People's Bank of China (PBoC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) menjadi pemicu utama. Hal ini mendorong negara-negara lain yang menjadi mitra dagang Indonesia untuk segera merealisasikan kerja serupa.
"Reaksi terhadap LCT itu luar biasa. Kemarin setelah kita tekan MoU dengan PBoC dan HKMA, itu benar-benar hal yang mungkin dari beberapa negara kawasan itu juga surprise, sehingga ini akhirnya mendorong beberapa negara yang memang juga mereka trading partner kita," ujar Destry dalam acara Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Rabu (24/6/2026).
India di Tahap Akhir Pembahasan, Korsel dan Timur Tengah Dalam Pipeline
Destry menjelaskan bahwa India merupakan salah satu negara yang menunjukkan ketertarikan besar dan saat ini proses pembahasan telah memasuki tahap akhir menuju penandatanganan kerja sama. "Seperti ada India, yang kita juga mereka cepat untuk membuat LCT bersama, karena sebenarnya kita sudah in the process," lanjutnya .
Selain India, terdapat beberapa negara lain yang juga masuk dalam daftar target ekspansi LCT, yakni Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. "Keberhasilan kita dengan PBoC dan HKMA, ini akhirnya men-trigger beberapa negara lainnya untuk segera merealisasikan kerjasama dengan kita. Jadi ada India, kemudian juga yang dalam pipeline kita kan yang sudah mulai sebenarnya Korea Selatan, tapi ini yang kita juga terus kita dorong juga, kemudian juga Uni Emirat Arab, juga sebenarnya kita juga lagi mau usahakan yang di Arab Saudi, itu juga in the process," jelas Destry .
Sebelumnya, Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat BI akan segera mengimplementasikan LCT dengan Singapura, India, dan Arab Saudi setelah penyusunan dan penyepakatan operational guidelines rampung dilakukan.
Lonjakan Transaksi LCT 309%, Mengurangi Ketergantungan Dolar AS
Minat yang besar terhadap LCT tidak terlepas dari manfaat nyata yang dirasakan, terutama dari sisi efisiensi biaya dan pengurangan risiko fluktuasi nilai tukar dolar AS. Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, menekankan bahwa tujuan utama LCT adalah untuk diversifikasi eksposur mata uang dan efisiensi biaya transaksi, di mana transaksi tidak perlu lagi melalui "middleman" atau perantara yang menyebabkan biaya menjadi tidak efisien .
Efektivitas skema ini tercermin dari data BI yang mencatat lonjakan volume transaksi LCT hingga April 2026 mencapai USD 22,61 miliar, atau melonjak 309% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tiongkok masih menjadi mitra utama dengan kontribusi mencapai 89%, diikuti Jepang (6%) dan Malaysia (3%) . Jumlah pelaku LCT juga terus meningkat, mencapai 5.265 pelaku per bulan pada 2026 .
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya juga menyatakan bahwa penyelesaian perdagangan dan investasi langsung menggunakan rupiah dan renminbi ini secara efektif mengurangi kebutuhan akan dolar AS. "Kita sebut diversifikasi dan akan terus diperkuat. Untuk kedua terus mendorong perbankan dan pengusaha dalam negeri begitu juga Tiongkok agar semakin banyak menggunakan rupiah-renminbi," kata Perry .
Dukungan Perluasan LCT untuk Efisiensi Ekonomi dan Haji
Langkah ekspansi LCT ini mendapat angin segar dari berbagai pihak. Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Fadlul Imansyah, bahkan sempat menyoroti pentingnya LCT dengan Arab Saudi untuk efisiensi biaya haji. Pasalnya, 80% dari total pengeluaran haji yang mencapai Rp 20 triliun per tahun masih menggunakan dolar AS. Dengan adanya LCT, permintaan dolar AS untuk keperluan haji bisa ditekan sehingga turut menjaga stabilitas rupiah .
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, juga memberikan dukungan penuh. Ia mendorong BI untuk terus menggiatkan sosialisasi LCT, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga kepada stakeholder di negara mitra agar pemanfaatannya semakin optimal.
Dengan semakin luasnya kerja sama internasional yang dijalin, sistem LCT diperkirakan akan menjadi instrumen penting dalam transaksi keuangan global dan memperkuat stabilitas ekonomi nasional di masa mendatang.
( berbagai sumber)
