Survei BI: Penghasilan hingga Lapangan Kerja Turun di Mei 2026, Ini Pemicunya


Berdasarkan data Survei Konsumen BI yang dirilis Rabu (10/6/2026), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) untuk periode Mei 2026 tercatat sebesar 120,9. (Foto: istimewa) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA - Bank Indonesia (BI) melaporkan terjadi pelemahan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini sepanjang Mei 2026. Meskipun secara struktural masih tergolong kuat, penurunan ini tercatat pada tiga indikator utama: Penghasilan, Ketersediaan Lapangan Kerja, dan Pembelian Barang Tahan Lama.

Berdasarkan data Survei Konsumen BI yang dirilis Rabu (10/6/2026), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) untuk periode Mei 2026 tercatat sebesar 120,9. Angka ini memang masih berada di atas level 100 (zona optimis), namun mengalami penurunan dibandingkan bulan April 2026 yang berada di posisi 123,0.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pelemahan ini utamanya tercermin dari menurunnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE). IKE tercatat turun menjadi 112,2 pada Mei 2026, sementara pada bulan sebelumnya berada di angka 116,5 .

"Pelemahan IKE terjadi seiring dengan turunnya indeks penghasilan saat ini, indeks ketersediaan lapangan kerja, dan indeks pembelian barang tahan lama," ujar Ramdan dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (12/6/2026). 

Detail Penurunan Tiga Komponen Utama

BI merinci bahwa ketiga komponen pembentuk IKE mengalami koreksi signifikan secara bulanan (month-to-month):

1. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) turun dari 128,1 menjadi 123,2.

2. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) turun dari 108,8 menjadi 105,0.

3. Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) turun dari 112,6 menjadi 108,3 .

Meskipun turun, ketiga indeks tersebut masih tercatat di atas ambang batas 100, yang mengindikasikan bahwa secara persepsi, kondisi ketiga sektor tersebut masih dianggap positif oleh masyarakat, meskipun optimisme mulai meredup.

Sentimen Positif dari Generasi Muda dan Masyarakat Berpenghasilan Tinggi

Meski terjadi pelemahan secara agregat, survei ini juga menangkap adanya kantong-kantong optimisme di segmen tertentu.

Dari sisi pengeluaran, keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini tetap kuat di seluruh kelompok. Indeks tertinggi justru tercatat pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan, yang mencapai angka 129,7 .

Sementara itu, dari sisi usia, generasi muda (20-30 tahun) masih menjadi yang paling optimis. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, indeks keyakinan kelompok usia ini tercatat sebagai yang tertinggi yaitu 132,1 .

Tekanan Eksternal dan Pelemahan Daya Beli

Para ekonom menilai penurunan indeks ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan eksternal yang tengah membebani fundamental ekonomi domestik, khususnya nilai tukar rupiah.

Dalam laporan terpisah, kondisi rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.800 per dolar AS di pasar offshore dinilai menjadi "peredam kejut" (shock absorber) utama atas tekanan global .

Chief Economist Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menjelaskan bahwa ketika pemerintah berusaha menahan inflasi dan harga energi, beban tekanan ekonomi cenderung berpindah ke mata uang.

"Inflasi yang seharusnya muncul di tempat lain malah diserap secara berlebihan oleh rupiah. Kebijakan fiskal yang menahan harga membuat BI dan rupiah harus bekerja lebih keras," ujarnya kepada RRI, Kamis (28/5/2026) .

Kondisi ini secara tidak langsung mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap stabilitas harga dan penghasilan di masa depan. Turunnya indeks pembelian barang tahan lama menunjukkan bahwa masyarakat cenderung wait and see atau menahan diri untuk melakukan pembelian besar seperti properti atau kendaraan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Survei BI edisi Mei 2026 mengirimkan sinyal moderasi (perlambatan) optimisme. Masyarakat mulai merasakan dampak pelemahan ekonomi dari sisi penghasilan dan serapan tenaga kerja, namun fundamental ekonomi makro secara umum dinilai masih cukup kuat untuk mencegah jatuhnya indeks ke zona pesimistis (di bawah 100).

(berbagai sumber)