![]() |
| Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan tarif layanan Transjabodetabek akan mengalami perubahan dan tidak lagi menggunakan tarif flat Rp3.500 untuk seluruh rute. (Foto: Gebrak.id) |
GEBRAK.ID; JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan tarif layanan Transjabodetabek akan mengalami perubahan dan tidak lagi menggunakan tarif flat Rp3.500 untuk seluruh rute. Skema baru akan disesuaikan dengan jarak perjalanan serta karakteristik layanan yang digunakan penumpang.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan penyesuaian tarif diperlukan agar biaya operasional layanan antarkota penyangga tetap berkelanjutan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, perjalanan dengan rute yang sangat panjang, seperti Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta, tidak realistis apabila tetap dikenakan tarif Rp3.500. Sebagai perbandingan, layanan transportasi lain untuk rute serupa umumnya mematok tarif jauh lebih tinggi.
Tarif Disesuaikan dengan Jarak Tempuh
Pemprov DKI tengah merumuskan skema tarif yang mempertimbangkan beberapa aspek, di antaranya:
Jarak perjalanan penumpang.
Karakteristik dan jenis layanan.
Kualitas fasilitas yang diberikan.
Keterjangkauan bagi masyarakat.
Meski akan ada penyesuaian, pemerintah menegaskan tarif tetap dirancang agar terjangkau dan diharapkan mampu mendorong semakin banyak masyarakat beralih menggunakan transportasi umum.
Keputusan Tarif Segera Diumumkan
Pramono menyampaikan besaran tarif resmi masih dalam tahap pembahasan dan akan diputuskan dalam waktu dekat. Ia juga berharap masyarakat dapat memahami alasan perubahan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di kawasan Jabodetabek.
Rute Blok M–Bandara Jadi Pertimbangan Utama
Sebagai informasi, Transjakarta mulai mengoperasikan rute Transjabodetabek SH2 yang menghubungkan Blok M dengan Bandara Soekarno-Hatta sejak 12 Maret 2026.
Sebelumnya, Pemprov DKI sempat mengkaji tarif rute tersebut di kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000. Penetapan tarif final direncanakan dilakukan setelah evaluasi operasional selama tiga bulan.
"Waktu itu saya juga menyampaikan, enggak mungkin Blok M-Soekarno-Hatta itu Rp3.500 karena naik Damri, naik yang lain, itu sudah rata-rata di atas Rp100.000," kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Urban Knowledge Hub, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026)
Fokus Tingkatkan Penggunaan Transportasi Umum
Penyesuaian tarif diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan operasional layanan, tetapi juga mendukung pengembangan sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi dan nyaman bagi masyarakat Jakarta serta wilayah penyangga.
(berbagai sumber)
