![]() |
| Krisno, korban lowongan kerja palsu akhirnya membuat laporan ke polisi setelah mengaku menjadi korban penipuan dan penganiayaan. (Foto: istimewa) |
GEBRAK.ID;DENPASAR – Harapan mendapatkan pekerjaan di Bali berubah menjadi pengalaman mengerikan bagi Krisno, seorang pemuda asal Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia mengaku menjadi korban sindikat berkedok lowongan kerja yang berujung pada penyekapan, penganiayaan, serta pemerasan dengan tuntutan uang tebusan mencapai Rp100 juta.
Kasus tersebut kini tengah ditangani aparat kepolisian. Polisi masih memburu dua perempuan yang diduga menjadi otak pelaku sekaligus mendalami kemungkinan adanya jaringan penipuan berkedok rekrutmen kerja yang lebih luas.
Berawal dari Tawaran Pekerjaan Online
Krisno datang ke Bali pada 1 Mei 2026 dengan tujuan mencari pekerjaan. Tiga hari kemudian, ia menerima informasi lowongan kerja melalui sebuah aplikasi daring dari seseorang yang mengaku sebagai pemilik perusahaan.
Pelaku kemudian mengundangnya mengikuti proses wawancara di sebuah hotel di kawasan Seminyak. Karena pembicaraan berlangsung meyakinkan dan pelaku mengaku memiliki latar belakang agama yang sama, korban tidak menaruh rasa curiga.
Selain itu, pelaku juga menyebut sedang mencari kandidat yang memiliki pengalaman di bidang perhotelan. Hal tersebut membuat Krisno semakin percaya karena sebelumnya pernah bekerja di hotel di Jepang.
Barang Pribadi Dirampas
Setelah proses wawancara selesai, situasi berubah drastis. Korban mengaku telepon genggam, laptop, koper, hingga pakaian miliknya dirampas oleh pelaku sehingga tidak memiliki akses komunikasi maupun barang pribadi.
Selanjutnya, ia dipindahkan ke hotel lain di kawasan Kedonganan. Di lokasi tersebut, korban dituduh mencuri uang Rp2 juta dan melakukan pelecehan terhadap seseorang wanita yang disebut sebagai bos perusahaan.
Korban membantah seluruh tuduhan tersebut.
Mengaku Disiksa Selama Berjam-jam
Menurut pengakuannya, sejak sore hingga dini hari ia mengalami berbagai bentuk kekerasan fisik. Korban mengaku dipukul menggunakan sepatu hak tinggi, diinjak, dicekik, serta kalung salib yang dikenakannya ditarik hingga menyebabkan luka.
Tidak hanya itu, para pelaku disebut menghubungi keluarga korban di Sumba dan meminta uang tebusan sebesar Rp100 juta.
Korban juga mengaku menerima ancaman serius. Jika uang tidak dikirim sesuai batas waktu yang ditentukan, pelaku disebut mengancam akan memotong jarinya bahkan menghabisi nyawanya.
Berhasil Kabur Saat Penjaga Tertidur
Kesempatan melarikan diri akhirnya datang pada dini hari ketika para penjaga tertidur. Krisno berlari keluar dari lokasi dalam kondisi mengalami luka dan berlumuran darah.
Ia kemudian meminta pertolongan di sebuah warung, meminjam telepon untuk menghubungi keluarga dan kerabatnya di Bali. Tidak lama kemudian, keluarga menjemput dan membawanya ke tempat yang aman.
Setelah berhasil menyelamatkan diri, korban melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Denpasar. Penanganan perkara selanjutnya dilakukan oleh Polsek Kuta.
Pihak kepolisian membenarkan adanya laporan tersebut dan menyatakan proses penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap identitas seluruh pelaku serta kemungkinan adanya korban lain.
Modus Lowongan Kerja Palsu Perlu Diwaspadai
Kasus yang dialami Krisno menjadi pengingat agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan melalui media sosial maupun aplikasi pesan instan.
Beberapa langkah yang disarankan sebelum menerima tawaran kerja antara lain:
• Memastikan identitas perusahaan melalui situs resmi atau alamat kantor yang jelas.
• Tidak menyerahkan dokumen pribadi atau barang berharga kepada pihak yang belum terverifikasi.
• Menghindari proses wawancara di lokasi yang mencurigakan tanpa pendamping.
• Memberitahukan keluarga atau teman mengenai lokasi dan jadwal wawancara.
• Segera menghubungi kepolisian apabila menemukan indikasi penipuan atau pemerasan.
Kasus ini juga muncul di tengah meningkatnya perhatian aparat terhadap praktik penipuan daring dan penyekapan berkedok pekerjaan di Bali.
Sebelumnya, kepolisian juga mengungkap dugaan penyekapan puluhan orang yang diduga akan dijadikan operator penipuan (scam), menunjukkan bahwa modus rekrutmen palsu masih menjadi ancaman serius yang perlu diwaspadai masyarakat.
Hingga berita ini ditulis, penyelidikan terhadap kasus yang menimpa Krisno masih terus berlangsung dan polisi masih memburu pihak-pihak yang diduga terlibat.
(berbagai sumber)
