Aerodinamika Kurangi Peran Pembalap, Marc Marquez: MotoGP Kini Seperti Dikendarai Robot!

Marc Marquez kembali mengkritik arah perkembangan teknologi di MotoGP. Pembalap Ducati Lenovo Team itu menilai motor MotoGP modern sudah terlalu bergantung pada perangkat aerodinamika. (Foto: MotoGP)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Marc Marquez kembali mengkritik arah perkembangan teknologi di MotoGP. Pembalap Ducati Lenovo Team itu menilai motor MotoGP modern sudah terlalu bergantung pada perangkat aerodinamika sehingga karakter balapan berubah dan kemampuan alami pembalap tak lagi menjadi faktor pembeda seperti beberapa tahun lalu.

Menurut juara dunia MotoGP tujuh kali tersebut, motor yang digunakan saat ini memang jauh lebih cepat. Namun, di balik peningkatan performa itu, sensasi berkendara justru terasa semakin kaku karena pembalap harus mengikuti karakter aerodinamika yang telah dirancang pada motor.

"Motor yang paling saya nikmati adalah motor pada 2014, 2015, dan 2016, saat belum ada aerodinamika. Sekarang memang motor ini sangat menyenangkan dikendarai, tapi lebih seperti gaya berkendara robot," kata Marquez dalam wawancara dengan Bike World, Minggu (26/7/2026).

Dalam beberapa musim terakhir, MotoGP mengalami lompatan teknologi yang signifikan melalui pengembangan aerodinamika dan ride height device. Kedua teknologi tersebut membuat motor mampu melaju lebih cepat, tetapi sekaligus mengubah gaya balap para pembalap.

Marquez menjelaskan, pembalap kini tidak lagi bisa mengandalkan insting atau teknik berkendara agresif untuk mendapatkan catatan waktu terbaik. Sebaliknya, mereka harus mengikuti cara kerja aerodinamika yang telah dirancang pada motor.

"Anda harus mengikuti apa yang diinginkan aerodinamika dan Anda tidak bisa lagi mengalahkan karakter motor itu. Kalau Anda memaksa motor keluar dari batasnya, Anda justru melawan aerodinamika dan akhirnya menjadi lebih lambat," cetus Marquez.

Pembalap asal Spanyol itu kemudian membandingkan situasi tersebut dengan MotoGP era 2014 hingga 2016. Saat itu, menurutnya, pembalap masih memiliki ruang lebih besar untuk mengeksplorasi kemampuan mengendalikan motor hingga melewati batas normal.

JANGAN TERLEWATKAN Marc Marquez Bongkar Rahasia Kebangkitan di MotoGP 2026, Sengaja Cari Batas Kemampuan Motor Sejak Jumat 

Marquez mengatakan, pada masa itu motor yang mulai kehilangan traksi atau mengalami sliding justru masih bisa dikendalikan kembali oleh pembalap berkat keterampilan mereka.

"Pada 2014, 2015, dan 2016 tanpa aerodinamika, kalau Anda memaksa motor, justru bisa lebih cepat karena motor mulai sliding dan ban depan mulai kehilangan grip. Saat itu kita sering melihat penyelamatan luar biasa," ungkap Marquez.

Sebaliknya, kondisi tersebut hampir tidak lagi terlihat di MotoGP modern. Marquez menilai besarnya downforce yang dihasilkan perangkat aerodinamika membuat ban depan menerima tekanan sangat besar. Akibatnya, ketika grip mulai hilang, peluang untuk menyelamatkan motor menjadi jauh lebih kecil.

"Sekarang sudah tidak lagi. Masalahnya, downforce yang kami miliki sekarang memberikan tekanan sangat besar ke ban depan. Ketika ban depan mulai kehilangan grip, ban itu tidak pernah kembali," jelasnya.

Marquez juga menepis anggapan bahwa kritik tersebut dipengaruhi oleh perpindahannya dari Honda ke Ducati. Ia menegaskan pendapatnya murni didasarkan pada perubahan karakter motor MotoGP, bukan karena merek yang dikendarainya.

"Motor yang saya kendarai saat di Honda, tapi ini bukan karena saya lebih menikmati Honda atau Ducati. Ini murni soal karakter motornya," tegas Marquez.

Pandangan Marquez sejalan dengan arah regulasi baru MotoGP yang akan mulai diterapkan pada musim 2027. Dalam aturan tersebut, penggunaan perangkat aerodinamika akan dibatasi, sementara ride height device dihapus sepenuhnya.

Perubahan regulasi itu diharapkan mampu menghadirkan balapan yang lebih kompetitif, meningkatkan peluang aksi saling menyalip, serta mengembalikan peran keterampilan pembalap sebagai faktor utama dalam menentukan hasil balapan.

(Sumber: Bike World)