Anime Jaadugar: A Witch in Mongolia Rilis Visual Utama, Trailer Baru, dan Umumkan Lagu Pembuka Jelang Tayang Juli 2026

Anime Jaadugar: A Witch in Mongolia Rilis Visual Utama, Trailer Baru, dan Umumkan Lagu Pembuka Jelang Tayang Juli 2026.
Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID -- Menjelang penayangan perdananya pada Juli 2026, anime Jaadugar: A Witch in Mongolia kembali membagikan berbagai informasi terbaru yang semakin meningkatkan antusiasme para penggemar. Tim produksi resmi merilis visual utama terbaru, trailer kedua, jajaran pengisi suara tambahan, hingga lagu pembuka yang akan mengiringi serial tersebut. 

Anime ini dijadwalkan tayang perdana pada 4 Juli 2026 melalui TV Asahi dengan episode spesial berdurasi satu jam yang mencakup Episode 1 dan Episode 2. Penayangan perdana tersebut akan dimulai pukul 23.00 waktu Jepang (JST).

Tak hanya bersiap menyapa penonton di televisi, Jaadugar: A Witch in Mongolia juga berhasil menarik perhatian dunia internasional. Serial ini terpilih sebagai salah satu karya yang akan ditampilkan dalam kategori TV Films pada Annecy International Animation Film Festival 2026, festival animasi bergengsi yang setiap tahunnya menjadi ajang berkumpulnya para kreator animasi dari berbagai negara. 

Festival tersebut diselenggarakan di Prancis pada 21 hingga 27 Juni 2026 dan menjadi salah satu panggung paling prestisius bagi industri animasi dunia.

Bersamaan dengan pengumuman tersebut, tim produksi juga memperkenalkan lagu pembuka berjudul "Stella" yang akan dibawakan oleh grup musik Jepang SEKAI NO OWARI. Lagu ini diciptakan secara khusus untuk anime tersebut, dengan komposisi musik yang digarap oleh Nakajin dan lirik yang ditulis oleh Fukase. 

Kreator manga, Tomato Soup, mengaku sangat terkesan ketika pertama kali mendengarkan lagu tersebut. Menurutnya, "Stella" mampu menggambarkan perjalanan emosional para tokoh utama dengan sangat baik sehingga terasa benar-benar menyatu dengan kisah yang ingin disampaikan dalam anime.

Selain memperkenalkan lagu pembuka, tim produksi juga mengumumkan empat pengisi suara baru yang akan bergabung dalam serial ini. Ami Koshimizu dipercaya mengisi suara karakter Töregene, Hiro Shimono berperan sebagai Ögedei, Daisuke Namikawa memerankan Chagatai, sementara Kenji Nojima akan mengisi suara Jochi.

Dalam komentarnya, Ami Koshimizu mengatakan bahwa meskipun cerita anime ini diangkat dari sejarah panjang Kekaisaran Mongol, penyajiannya terasa sangat mudah dinikmati berkat gaya ilustrasi yang lembut dan ekspresif. Ia menilai emosi para karakter tetap tersampaikan dengan kuat walaupun sumber sejarah mengenai tokoh-tokohnya tidak selalu lengkap. Menurutnya, anime ini juga dipenuhi adegan penuh ketegangan psikologis yang membuat penonton terus penasaran dengan perkembangan ceritanya.

Sementara itu, Hiro Shimono mengungkapkan bahwa proyek ini menjadi pengalaman baru baginya karena sebelumnya ia belum banyak mengenal sejarah Kekaisaran Mongol. Ia menjelaskan bahwa cerita berpusat pada perjalanan Sitara, seorang gadis yang kehilangan seluruh keluarganya akibat ekspansi kekaisaran dan kemudian bertekad membalas dendam. 

Shimono sendiri memerankan Ögedei, putra ketiga Genghis Khan yang kelak menjadi Kaisar Mongol kedua. Menurutnya, Ögedei merupakan sosok yang terlihat santai dan gemar berpesta, tetapi sebenarnya menyimpan sisi kepribadian yang jauh lebih kompleks. Ia berharap penonton dapat menikmati perjalanan para karakter melalui visual serta musik yang indah.

Daisuke Namikawa juga memberikan kesan positif terhadap proyek tersebut. Ia menilai anime ini menawarkan kesempatan bagi penonton untuk mengenal budaya dan tradisi Mongolia yang jarang diangkat dalam serial anime. 

Menurutnya, kisah yang dipenuhi intrik politik dan konflik antarmanusia tetap terasa ringan untuk diikuti berkat gaya visual yang hangat. Ia juga mengungkapkan bahwa tim produksi bahkan sempat melakukan perjalanan langsung ke wilayah yang menjadi inspirasi cerita demi menghadirkan suasana yang autentik. Hal tersebut, menurutnya, sangat terasa melalui visual maupun komposisi musik yang digunakan.

Di sisi lain, Kenji Nojima menggambarkan Jaadugar: A Witch in Mongolia sebagai serial yang menghadirkan kontras menarik antara visual bergaya lembut dengan kenyataan pahit pada masa Kekaisaran Mongol abad ke-13. Menurutnya, cerita ini menunjukkan bagaimana kecerdasan sering kali harus berhadapan dengan kekerasan dan kekuasaan dalam kehidupan nyata. Justru karena dibalut dengan ilustrasi yang tampak sederhana, perjuangan setiap karakter terasa semakin kuat dan emosional.

Dari sisi produksi, anime ini ditangani oleh nama-nama besar di industri animasi Jepang. Posisi Executive Director dipercayakan kepada Naoko Yamada, sosok di balik berbagai karya populer seperti K-On!, A Silent Voice, Liz and the Blue Bird, The Heike Story, hingga film terbarunya The Colors Within.

Sementara itu, kursi sutradara ditempati Abel Góngora yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu sutradara DAN DA DAN Season 2. Desain karakter dikerjakan oleh Kenichi Yoshida, komposisi seri ditulis Kanichi Kato, sedangkan musik digarap oleh Koshiro Hino yang melakukan debutnya sebagai komposer anime. Seluruh proses animasi diproduksi oleh studio Science SARU, studio yang dikenal melalui berbagai karya sukses seperti Devilman Crybaby, Keep Your Hands Off Eizouken!, DAN DA DAN, dan SANDA.

Anime ini diadaptasi dari manga sejarah berjudul A Witch's Life in Mongol (Tenmaku no Jadugaru) karya Tomato Soup yang mulai diserialisasikan melalui situs Souffle milik Akita Shoten sejak September 2021. Hingga April 2025, manga tersebut telah memiliki lima volume dan meraih berbagai penghargaan bergengsi. 

Karya ini berhasil menempati peringkat pertama dalam This Manga is Amazing! 2023 kategori pembaca wanita, sekaligus masuk nominasi Manga Taisho Awards selama dua tahun berturut-turut pada 2023 dan 2024. Versi bahasa Inggrisnya juga telah diterbitkan oleh Yen Press.

Cerita Jaadugar: A Witch in Mongolia mengikuti perjalanan Sitara, seorang gadis muda yang kehilangan ibu dan tanah kelahirannya setelah dijual di pasar budak wilayah Iran pada abad ke-13. Dalam keputusasaan, ia diselamatkan oleh Fatima, seorang perempuan dari keluarga cendekiawan yang kemudian memperkenalkannya pada pentingnya ilmu pengetahuan. 

Terinspirasi oleh Muhammad, putra Fatima, Sitara mulai mempelajari berbagai ilmu dengan harapan dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Namun, kehidupannya kembali berubah ketika ekspansi Kekaisaran Mongol yang dipimpin oleh Tolui menghancurkan kota tempat ia tinggal. Kehilangan seluruh orang yang dicintainya membuat Sitara bersumpah untuk membalas dendam kepada kekaisaran yang telah merenggut segalanya.

Sebagai bagian dari promosi global, Jaadugar: A Witch in Mongolia juga akan tampil dalam acara Anime Expo 2026 di Los Angeles pada 3 Juli 2026. Acara tersebut menghadirkan sesi panel spesial bersama Executive Director Naoko Yamada, sutradara Abel Góngora, serta para produser dari Science SARU dan TV Asahi. Pengunjung juga akan mendapatkan kesempatan menyaksikan penayangan perdana anime ini sebelum resmi disiarkan di televisi Jepang.

Dengan deretan kreator ternama, latar sejarah yang kuat, serta kualitas produksi dari Science SARU, Jaadugar: A Witch in Mongolia menjadi salah satu anime musim panas 2026 yang paling dinantikan. Perpaduan kisah balas dendam, intrik politik Kekaisaran Mongol, dan perjalanan seorang gadis dalam mencari pengetahuan diprediksi akan menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda dari anime sejarah pada umumnya.

(Sumber; Anime Corner 4 Juli 2026)