Bandara Brisbane Jadi yang Pertama di Australia Gunakan Minyak Jelantah untuk Bahan Bakar Pesawat

 


Bandara Brisbane mulai memakai bahan bakar pesawat berbasis minyak jelantah sebagai bagian transisi menuju aviasi rendah emisi. ( Foto: ist) 


Editor: Devona R

GEBRAK.ID,BRISBANE – Bandara Brisbane mencatat sejarah sebagai bandara pertama di Australia yang mulai menggunakan bahan bakar pesawat berbasis minyak goreng bekas atau minyak jelantah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mempercepat penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan guna menekan emisi karbon sektor aviasi.

Penggunaan bahan bakar tersebut dilakukan melalui pencampuran SAF yang berasal dari minyak jelantah dengan bahan bakar jet konvensional. Campuran itu kemudian didistribusikan melalui infrastruktur pengisian bahan bakar yang telah ada sehingga tidak memerlukan perubahan pada operasional pesawat maupun prosedur penerbangan.

Bahan bakar ramah lingkungan tersebut diproduksi oleh Viva Energy melalui Terminal Pinkenba di Brisbane. Perusahaan telah menyiapkan fasilitas penyimpanan, pencampuran, sertifikasi, hingga sistem distribusi agar SAF dapat digunakan secara aman sesuai standar industri penerbangan internasional.

Selain membangun sistem distribusi, proyek ini juga mencakup peningkatan kapasitas tangki penyimpanan hingga sekitar 3,3 juta liter. Sistem akuntansi dan sertifikasi juga diterapkan untuk memastikan manfaat pengurangan emisi dari penggunaan SAF dapat dilacak secara transparan.

CEO Viva Energy, Scott Wyatt, mengatakan proyek tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan Australia menuju energi yang lebih bersih untuk sektor transportasi udara.

Menurut Wyatt, pengalaman menghadapi gejolak pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah memperlihatkan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

"Transisi menuju bahan bakar rendah karbon memang membutuhkan waktu, tetapi kami yakin bahan bakar terbarukan akan menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang," ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan fasilitas di Pinkenba merupakan tahap awal dari program yang lebih besar. Viva Energy juga tengah mengembangkan fasilitas impor SAF di Victoria serta meningkatkan kemampuan Kilang Geelong untuk mengolah bahan baku biogenik sebagai pengganti sebagian minyak mentah dalam proses produksi bahan bakar.

Mengurangi Emisi Penerbangan

SAF merupakan bahan bakar alternatif yang diproduksi dari sumber terbarukan, seperti minyak goreng bekas, limbah lemak hewan, hingga biomassa. Berdasarkan data International Air Transport Association (IATA), penggunaan SAF dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga sekitar 80 persen sepanjang siklus hidupnya dibandingkan bahan bakar jet berbasis fosil, tergantung jenis bahan baku dan proses produksinya.

Meski demikian, SAF saat ini masih digunakan dalam bentuk campuran dengan avtur konvensional. Hal ini dilakukan untuk memenuhi standar keselamatan penerbangan sekaligus memastikan kompatibilitas dengan mesin pesawat yang telah beroperasi.

Australia Percepat Pengembangan SAF

Pemerintah Australia dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong pengembangan industri bahan bakar penerbangan berkelanjutan sebagai bagian dari target penurunan emisi nasional. Sejumlah maskapai dan perusahaan energi juga mulai berinvestasi dalam rantai pasok SAF untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan yang diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.

Penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF dinilai memiliki manfaat ganda. Selain mengurangi limbah rumah tangga dan industri makanan, langkah tersebut juga membantu menekan emisi karbon dari sektor penerbangan yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar dalam transportasi global.

Dengan beroperasinya sistem distribusi SAF di Bandara Brisbane, Australia kini memasuki babak baru dalam pengembangan penerbangan berkelanjutan. Model ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi bandara lain di negara tersebut maupun kawasan Asia-Pasifik untuk memperluas penggunaan bahan bakar rendah karbon di masa depan.

( berbagai sumber