FIFA Selidiki Spanduk "Malvinas" Para Pemain Argentina, Ancaman Sanksi Jelang Final Piala Dunia 2026 Menguat

Para pemain Argentina membentangkan spanduk "Las Malvinas son Argentinas" yang berarti "Malvibas atau Kepulauan Falkland milik Argentina" setelah memenangkan laga semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris 2-1 di Atlanta Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, pada 15 Juli 2026. (Foto: AFP/Thomas Coex)
Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID, JAKARTA -- FIFA mulai menyelidiki aksi para pemain Argentina yang membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" usai kemenangan dramatis atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026. Hasil penyelidikan tersebut akan menjadi dasar bagi badan sepak bola dunia itu untuk menentukan ada atau tidaknya sanksi disiplin terhadap tim berjuluk Albiceleste.

Argentina memastikan tiket ke final setelah bangkit dari ketertinggalan dan mengalahkan Inggris dengan skor 2-1. Namun, euforia kemenangan berubah menjadi sorotan setelah sejumlah pemain merayakan keberhasilan mereka sambil membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Malvinas milik Argentina".

Tulisan tersebut merujuk pada Kepulauan Falkland, yang oleh Argentina disebut Kepulauan Malvinas. Wilayah di Samudra Atlantik Selatan itu hingga kini masih menjadi sengketa antara Argentina dan Inggris, serta pernah memicu perang pada 1982 yang dimenangkan Inggris.

FIFA menyatakan saat ini masih mempelajari seluruh laporan pertandingan sebelum memutuskan langkah selanjutnya.

"Berdasarkan prosedur standar yang ada, Komite Disiplin FIFA saat ini sedang menilai laporan pertandingan dan mempertimbangkan situasi-situasi terkait dengan laga itu sebelum mengambil keputusan lebih lanjut berdasarkan Kode Disiplin FIFA," demikian pernyataan FIFA yang dikutip BBC, Jumat (17/7/2026).

Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa yang pernah terjadi pada 2014. Saat itu, Asosiasi Sepak Bola Argentina didenda sebesar 20.000 pound sterling setelah para pemain membentangkan spanduk bertuliskan pesan yang sama dalam pertandingan persahabatan melawan Slovenia. FIFA menilai aksi tersebut melanggar ketentuan mengenai pesan bermuatan politik dalam sepak bola.

Menurut laporan BBC, sanksi disiplin FIFA umumnya diumumkan beberapa pekan setelah turnamen berakhir. Namun, mengingat insiden ini terjadi di tengah berlangsungnya Piala Dunia, keputusan bisa saja diambil lebih cepat.

Desakan agar FIFA bertindak juga datang dari ranah politik Inggris. Pemimpin Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, meminta FIFA menjatuhkan larangan tampil kepada pemain Argentina yang terlibat sehingga tidak bisa dimainkan pada laga final melawan Spanyol.

Davey membandingkan kasus tersebut dengan keputusan UEFA yang pernah menjatuhkan hukuman larangan satu pertandingan kepada Alvaro Morata dan Rodri setelah meneriakkan slogan "Gibraltar milik Spanyol" saat perayaan gelar Euro 2024.

Gibraltar merupakan wilayah di ujung selatan Semenanjung Iberia yang berada di bawah pemerintahan Inggris sejak abad ke-18, namun masih diklaim oleh Spanyol.

FIFA juga memiliki preseden serupa dalam kasus gelandang Korea Selatan, Park Jong-woo. Pada Olimpiade London 2012, Park membentangkan spanduk bertuliskan "Dokdo adalah wilayah kami" setelah timnya meraih medali perunggu. Beberapa bulan kemudian, ia dinyatakan melanggar aturan dan dijatuhi sanksi larangan bermain selama dua pertandingan.

Hingga kini belum ada kepastian apakah pemain Argentina akan menerima hukuman sebelum partai final menghadapi Spanyol. Seluruh keputusan masih menunggu hasil evaluasi Komite Disiplin FIFA terhadap laporan resmi pertandingan.

(Sumber: BBC)