Editor: A. Rayyan K
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan. (Foto: Sekretariat Presiden)
GEBRAK.ID, SURABAYA – Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menegaskan Presiden RI Prabowo Subianto tidak akan mencampuri proses pemilihan kepemimpinan dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, kepala negara justru menghormati penuh independensi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Gus Irfan mengatakan isu yang menyebut adanya dukungan Presiden Prabowo kepada kandidat tertentu tidak memiliki dasar. Ia memastikan Prabowo hanya berharap NU memperoleh pemimpin terbaik yang mampu membawa organisasi semakin maju.
"Bapak Prabowo justru sangat menghormati kemandirian Nahdlatul Ulama. Beliau tidak akan ikut campur menentukan siapa yang memimpin. Jika ada yang mengaku didukung Presiden, itu tidak benar. Harapan beliau hanya satu, yaitu terpilih pemimpin terbaik untuk kemajuan NU," ujar Gus Irfan kepada wartawan di Surabaya, Rabu (1/7/2026).
Menurut cucu pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari itu, Muktamar NU harus berlangsung dalam suasana yang sejuk, penuh persaudaraan, serta mencerminkan nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi organisasi.
Gus Irfan mengingatkan agar forum tertinggi NU tidak berubah menjadi arena persaingan layaknya kongres partai politik yang dipenuhi perebutan kekuasaan.
"Saya berharap nanti Muktamar dapat berlangsung sejuk, menggambarkan sesungguhnya apa itu Nahdlatul Ulama dan apa itu para ulama," katanya.
Gus Irfan menilai para kiai pendahulu telah memberikan teladan bahwa amanah kepemimpinan bukan sesuatu yang diperebutkan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia maupun di akhirat.
"Itu bukanlah ciri khas NU. Kita harus berkaca kepada para kiai pendahulu NU. Mereka justru saling menolak untuk dipilih karena menyadari ini adalah tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat," ujarnya.
Karena itu, Gus Irfan mengajak seluruh tokoh NU kembali menghidupkan semangat Qanun Asasi yang diwariskan KH Hasyim Asy'ari sebagai pedoman dalam menjaga persatuan dan marwah organisasi.
Gus Irfan juga berharap Muktamar ke-35 menjadi momentum memperkuat tradisi keikhlasan, mempererat ukhuwah, serta menjaga kemandirian NU dari berbagai kepentingan politik di luar organisasi.
"Muktamar kali ini harus menjadi momen yang ikhlas, tanpa politik uang dan tanpa campur tangan kepentingan politik luar. Kepada pihak-pihak yang selama ini dianggap menimbulkan keributan, sebaiknya ikhlas dan memberi kesempatan kepada yang lebih layak. Cukup membantu dari luar agar NU tetap menjadi organisasi yang teduh dan bermanfaat bagi umat," tegas Gus Irfan.
Sementara itu, berdasarkan hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang digelar di Ploso, Kediri, Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026.
Forum tersebut akan menjadi momentum penting bagi NU untuk menyusun arah strategis organisasi memasuki abad kedua, sekaligus memilih Ketua Umum PBNU yang baru serta menetapkan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) yang akan memilih Rais Aam.
Selain itu, berbagai rekomendasi hasil Munas-Konbes, termasuk pembahasan mengenai fikih siber dan tata kelola haji, akan dibawa ke forum Muktamar untuk diputuskan.
(Sumber: Antara)