![]() |
| Chappy Hakim mengulas bagaimana Piala Dunia 2026 bisa menjadi arena adu pengaruh Gedung Putih, Pentagon, dan FIFA di tengah konflik. (Foto ilustrasi: Gebrak.id/AI) |
Ada masa ketika perang tidak berhenti karena para pemimpin dunia tiba-tiba menjadi lebih bijaksana. Ada pula saat senjata tak lagi ditembakkan bukan karena nurani kemanusiaan menang, melainkan karena harga yang harus dibayar untuk melanjutkan konflik menjadi terlalu mahal.
Dalam politik internasional, jeda konflik sering kali lahir dari kalkulasi yang dingin. Perang dihentikan bukan karena perdamaian telah tercapai, melainkan karena biaya politik, ekonomi, maupun diplomatik sudah tidak lagi sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
Dalam konteks itulah Piala Dunia 2026 menjadi menarik untuk dicermati. Amerika Serikat berstatus sebagai salah satu tuan rumah, sementara Iran tetap menjadi peserta turnamen. Sepak bola pun mendadak berubah menjadi lebih dari sekadar pertandingan olahraga.
Piala Dunia bukan lagi hanya pesta sepak bola. Ajang ini merupakan panggung global yang mempertemukan kepentingan bisnis, diplomasi, keamanan, politik, media, hingga reputasi internasional.
Dalam situasi normal, kehadiran Iran di turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat sudah memiliki makna simbolik yang besar. Namun jika hubungan kedua negara berada dalam ketegangan tinggi, bahkan mendekati konflik terbuka, kehadiran tim Iran di tanah Amerika berubah menjadi persoalan politik tingkat dunia.
Pertanyaan yang muncul bukan lagi mengenai siapa yang menang atau kalah di lapangan. Yang menjadi perhatian adalah apakah Amerika Serikat mampu menjamin keamanan tim Iran beserta para suporternya. Apakah FIFA dapat mempertahankan netralitas turnamen. Apakah sponsor dan pemegang hak siar bersedia menanggung risiko politik yang mungkin muncul. Bahkan, apakah Iran akan memanfaatkan panggung Piala Dunia untuk menunjukkan bahwa mereka tidak terisolasi dari komunitas internasional.
Di sinilah letak paradoksnya. Perang bekerja dengan logika kehancuran, sementara Piala Dunia bergerak dengan logika perayaan. Yang satu identik dengan rudal, bom, blokade, sanksi, dan tekanan militer. Yang lain hidup dari stadion yang penuh, hak siar bernilai miliaran dolar, sponsor global, industri pariwisata, iklan, konsumsi publik, serta emosi miliaran penonton di seluruh dunia.
Dalam dunia modern, dua logika yang bertolak belakang itu dapat bertemu dalam satu panggung.
Bagi FIFA, konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran menjelang atau selama Piala Dunia merupakan mimpi buruk. Gangguan terhadap pertandingan, pembatasan visa, ancaman keamanan, ataupun larangan bagi suporter akan merusak kredibilitas turnamen.
Bagi Amerika Serikat, kegagalan menjadi tuan rumah yang aman akan menjadi pukulan diplomatik sekaligus mencoreng reputasi internasionalnya. Sebaliknya, bagi Iran, absennya tim nasional dari panggung dunia dapat dipersepsikan sebagai kekalahan simbolik. Sementara bagi dunia usaha, ketidakpastian selalu menjadi musuh terbesar.
Karena itu, bukan hal yang mustahil apabila Piala Dunia justru menciptakan tekanan politik tersendiri. Turnamen ini mungkin tidak mampu menyelesaikan akar persoalan hubungan Amerika Serikat dan Iran, tetapi dapat memaksa kedua pihak menahan diri.
Bukan karena bola lebih kuat daripada rudal, melainkan karena bisnis sepak bola telah berkembang menjadi industri global bernilai sangat besar sehingga terlalu mahal jika harus dikorbankan akibat konflik bersenjata.
Di sinilah tercipta semacam ruang aman yang dipaksakan. Para pihak tidak harus saling percaya, tetapi mereka harus menghitung konsekuensi. Mereka tidak harus berdamai sepenuhnya, namun setidaknya menjaga agar konflik tidak merusak panggung global yang sedang menjadi perhatian dunia.
Olahraga kerap disebut sebagai jembatan perdamaian. Ungkapan itu memang benar, tetapi sering kali terlalu romantis jika dilepaskan dari realitas politik internasional. Perdamaian lebih sering lahir karena pertimbangan kepentingan dibanding dorongan moral semata.
Piala Dunia dapat memainkan peran tersebut. Ia menciptakan ruang simbolik di mana negara-negara yang bermusuhan tetap berada dalam satu sistem aturan yang sama. Tim bertanding, lagu kebangsaan dikumandangkan, bendera dikibarkan, dan dunia melihat bahwa komunikasi belum sepenuhnya terputus.
Namun, tentu saja kita tidak boleh berlebihan. Piala Dunia tidak akan menyelesaikan persoalan nuklir Iran, sanksi ekonomi, rivalitas geopolitik di Timur Tengah, keamanan Israel, maupun sengketa di Selat Hormuz. Seluruh akar konflik itu tetap ada. Sepak bola bukan pengganti diplomasi, stadion bukan pengganti meja perundingan, dan pertandingan bukan jaminan lahirnya rekonsiliasi.
Yang dapat diamati justru perubahan kalkulasi politik. Dalam hubungan internasional, perubahan kalkulasi sering kali jauh lebih menentukan daripada perubahan perasaan. Negara tidak selalu menahan diri karena menjadi lebih baik hati, melainkan karena biaya politik, ekonomi, keamanan, dan diplomatik dari sebuah konflik menjadi terlalu besar.
Dalam konteks Piala Dunia 2026, biaya tersebut mencakup reputasi tuan rumah, kredibilitas FIFA, nilai sponsor, hak siar, keamanan publik, hingga opini masyarakat dunia.
Apabila suatu saat terjadi jeda konflik menjelang atau selama Piala Dunia, jeda itu tidak perlu dimaknai sebagai kemenangan idealisme olahraga. Sangat mungkin itu hanyalah manifestasi pragmatisme politik.
Perang mungkin masih hidup dalam retorika. Ketegangan tetap berlangsung di meja diplomasi. Namun turnamen harus berjalan. Kamera harus tetap menyiarkan pertandingan. Stadion harus tetap dipenuhi penonton. Sponsor harus memperoleh eksposur. Hak siar harus tetap memiliki nilai ekonomi.
Di titik inilah bola kadang berbicara lebih lantang daripada meriam. Bukan karena sepak bola memiliki kekuatan militer, melainkan karena ia menyentuh wilayah yang tidak selalu dapat dijangkau senjata, yaitu opini publik global, reputasi internasional, dan kepentingan ekonomi lintas negara.
Meski demikian, jeda tetaplah jeda. Gencatan senjata bukanlah rekonsiliasi, dan turunnya eskalasi bukan berarti konflik telah selesai. Setelah turnamen usai, kamera berpindah, stadion kembali kosong, kontrak sponsor berakhir, dan para pemimpin dunia kembali berhadapan dengan kepentingan strategis masing-masing.
Dari perspektif ilmu politik, skenario ini menunjukkan bahwa kekuatan global dewasa ini tidak hanya berada di tangan negara maupun militer. Bisnis, media, olahraga, sponsor, dan opini publik juga memiliki kemampuan memengaruhi keputusan politik tingkat tinggi.
Pandangan tersebut sejalan dengan teori Realisme Hans Morgenthau yang melihat negara bertindak berdasarkan kepentingan dan kalkulasi rasional. Di saat yang sama, kondisi ini juga menguatkan konsep Interdependensi Kompleks yang dikemukakan Robert Keohane dan Joseph Nye, bahwa aktor non-negara seperti FIFA serta jaringan ekonomi global mampu menciptakan ketergantungan yang memaksa negara menahan diri demi kepentingan bersama.
Piala Dunia mungkin tidak akan pernah mengalahkan perang. Namun dalam situasi tertentu, ia mampu membuat perang menjadi terlalu mahal untuk diteruskan.
Bola tidak perlu mengalahkan meriam. Cukup membuat meriam terdiam sejenak.
Barangkali, itulah kontestasi yang sesungguhnya tengah berlangsung di balik Piala Dunia 2026: sebuah adu pengaruh antara Gedung Putih, Pentagon, dan FIFA.
Jakarta, 1 Juli 2026
*) Penulis sekaligus peraih penghargaan MURI sebagai pengarang buku terbanyak di Penerbit Kompas.
