Heboh, Israel Rencanakan Buaya Jadi 'Sipir' Penjara untuk Cegah Tahanan Palestina Kabur

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengusulkan penggunaan buaya sebagai bagian dari pengamanan fasilitas pemasyarakatan guna mencegah tahanan, khususnya tahanan Palestina, melarikan diri. (Foto ilustrasi: Pixabay)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID -- Pemerintah Israel kembali menjadi sorotan dunia setelah muncul rencana kontroversial yang melibatkan satwa liar untuk sistem pengamanan penjara. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengusulkan penggunaan buaya sebagai bagian dari pengamanan fasilitas pemasyarakatan guna mencegah tahanan, khususnya tahanan Palestina, melarikan diri.

Gagasan yang tidak lazim tersebut memicu perdebatan luas di dalam maupun luar Israel. Selain dinilai kontroversial, usulan itu juga kembali menempatkan Ben-Gvir, yang dikenal dengan berbagai kebijakan garis kerasnya, dalam sorotan publik internasional.

Rencana tersebut mengemuka setelah Menteri Perlindungan Lingkungan Israel, Idit Silman, mengubah klasifikasi buaya dari satwa liar menjadi "satwa liar hasil penangkaran".

Perubahan status itu dinilai membuka peluang penggunaan buaya untuk kepentingan keamanan negara, termasuk menjaga area di sekitar penjara.

Ben-Gvir Sambut Positif Perubahan Aturan

Ben-Gvir menyambut baik kebijakan tersebut dan secara terbuka menunjukkan dukungannya melalui media sosial.

Dalam unggahan di akun Facebook pribadinya, ia membagikan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan dirinya memegang tali seekor buaya.

Pada gambar tersebut juga tertulis kalimat bernada peringatan. "Anda berniat mencoba melarikan diri? Pikirkan lagi."

Melengkapi unggahannya, Ben-Gvir menulis bahwa dirinya bersama Menteri Perlindungan Lingkungan bekerja sama mewujudkan rencana tersebut. "Menteri Ben-Gvir dan Silman bekerja sama mengepung penjara dengan buaya-buaya!" tulisnya.

Unggahan itu langsung memancing berbagai reaksi di media sosial. Sebagian menganggapnya sebagai bentuk kampanye politik yang provokatif, sementara yang lain mempertanyakan keseriusan rencana tersebut.

Sudah Diusulkan Sejak Tahun Lalu

Menurut sejumlah laporan media Israel, Ben-Gvir sebenarnya telah melontarkan ide penggunaan buaya sejak Desember tahun lalu. Saat itu, ia mengusulkan agar penjara yang menampung tahanan Palestina dikelilingi buaya untuk memperkecil peluang pelarian.

Konsep tersebut disebut-sebut terinspirasi dari fasilitas penahanan imigrasi di Florida, Amerika Serikat, yang dikenal dengan julukan "Alligator Alcatraz" karena berada di kawasan rawa yang dihuni banyak buaya.

Sempat Ditolak Otoritas Satwa Liar

Meski kini memperoleh dasar hukum baru, usulan tersebut sebelumnya sempat mendapat penolakan. Laporan televisi Israel, Channel 13, menyebut Otoritas Alam dan Taman Israel pada awalnya tidak menyetujui gagasan tersebut ketika pertama kali diajukan Ben-Gvir.

Namun, perubahan regulasi dari Kementerian Perlindungan Lingkungan membuat pengawasan terhadap reptil hasil penangkaran dapat dialihkan kepada badan keamanan tertentu.

Salah satu lembaga yang berpotensi menerima kewenangan tersebut adalah Dinas Penjara Israel yang berada di bawah koordinasi Kementerian Keamanan Nasional pimpinan Ben-Gvir.

Regulasi yang disahkan pada 15 Juli 2026 lalu mengatur bahwa buaya Nil hasil penangkaran dapat dipelihara oleh badan keamanan dengan syarat memenuhi standar pengawasan ketat agar tidak lepas ke habitat liar.

Selain itu, penggunaan satwa tersebut harus didasarkan pada keputusan Menteri Perlindungan Lingkungan yang menyatakan kepemilikannya diperlukan untuk tujuan keamanan.

Penjara Ketziot Disebut Jadi Lokasi Pertama

Media Israel melaporkan bahwa Penjara Ketziot di wilayah selatan Israel menjadi lokasi yang dipertimbangkan untuk penerapan rencana tersebut.

Fasilitas pemasyarakatan itu diketahui menampung banyak tahanan Palestina, termasuk sejumlah anggota Hamas yang ditangkap setelah serangan 7 Oktober 2023 yang kemudian memicu perang di Jalur Gaza.

Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan resmi mengenai kapan atau apakah rencana tersebut benar-benar akan diterapkan.

Laporan Channel 13 bahkan menyebut banyak pejabat di lingkungan Dinas Penjara Israel sempat menanggapi usulan itu dengan cemoohan karena dianggap terlalu ekstrem dan tidak lazim.

Tuai Sorotan Internasional

Usulan penggunaan buaya sebagai bagian dari sistem keamanan penjara kembali memunculkan perhatian terhadap berbagai kebijakan Ben-Gvir yang selama ini kerap menuai kritik dari komunitas internasional.

Sebelumnya, Menteri Keamanan Nasional Israel itu juga menjadi sorotan terkait sejumlah kebijakan kontroversial yang menyangkut tahanan Palestina serta penanganan konflik di Gaza. Ia juga pernah viral setelah aksi tak manusiawi ke para aktivis Global Sumud Flotilla 2.0 pada Mei 2026 lalu.

Hingga kini, rencana penggunaan buaya sebagai pengaman penjara masih sebatas usulan yang dimungkinkan oleh perubahan regulasi. Belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Israel mengenai implementasi kebijakan tersebut di lapangan.

(Berbagai Sumber)