IKA PMII UI Soroti Dinamika Jelang Muktamar NU, Nilai Gus Hery Layak Jadi Figur Pemersatu PBNU

Gus Hery Haryanto Azumi (dua dari kanan) berpose bersama mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Said Aqil Siroj (tengah) dan eks Gubernur Kaltim sekaligus Dewan Penasihat (A'wan) PBNU Dr Ir Isran Noor MSi (tiga dari kanan), serta sejumlah kader NU saat bersilaturahmi pada Rabu (1/7/2026) malam. (Foto: Gebrak.id/istimewa) 
Editor: Samsul Muarif

GEBRAK.ID, JAKARTA – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Indonesia (IKA PMII UI) menyampaikan keprihatinannya terhadap dinamika yang berkembang menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Organisasi alumni tersebut menilai perdebatan yang terus berlarut mengenai sejumlah persoalan internal, termasuk belum adanya kepastian lokasi penyelenggaraan muktamar, berpotensi menggeser fokus dari substansi utama forum tertinggi NU.

Menurut IKA PMII UI, Muktamar seharusnya menjadi momentum penting untuk merumuskan arah kepemimpinan dan agenda strategis Nahdlatul Ulama dalam menghadapi tantangan abad kedua organisasi, bukan justru tersita oleh polemik yang bersifat teknis.

Ketua IKA PMII UI, Alfanny, mengatakan dinamika yang berkembang saat ini telah menimbulkan persepsi kurang baik di tengah masyarakat. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU selama ini dikenal memiliki tradisi musyawarah yang kuat dalam menyelesaikan setiap perbedaan.

"Masyarakat luas tentu sulit memahami mengapa organisasi sebesar Nahdlatul Ulama masih terjebak pada tarik-menarik kepentingan bahkan untuk menentukan lokasi Muktamar. Persoalan seperti ini seharusnya dapat diselesaikan melalui musyawarah sehingga energi organisasi lebih difokuskan pada pembahasan agenda-agenda strategis umat dan bangsa," ujar Alfanny dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).

Alfanny menilai, berbagai dinamika menjelang Muktamar seharusnya tidak berkembang menjadi polarisasi yang berkepanjangan. Sebaliknya, NU diharapkan tetap mengedepankan tradisi dialog, kebijaksanaan para ulama, dan semangat persatuan yang selama ini menjadi ciri khas organisasi.

Berangkat dari kondisi tersebut, IKA PMII UI berpandangan bahwa NU perlu membuka ruang lebih luas bagi hadirnya figur yang mampu menjadi pemersatu, di luar berbagai faksi maupun konflik internal yang selama ini mencuat.

Dalam pandangan IKA PMII UI, salah satu kader yang dinilai memiliki kapasitas tersebut adalah Gus Hery Haryanto Azumi. Sosoknya dinilai memiliki pengalaman organisasi yang memadai, jaringan yang luas, serta visi yang relevan untuk membawa NU menghadapi berbagai tantangan masa depan.

"Kami melihat Gus Hery merupakan salah satu figur muda NU yang layak dipertimbangkan memimpin PBNU. Beliau memiliki pengalaman panjang dalam organisasi, jejaring nasional dan internasional yang luas, serta menawarkan gagasan yang jelas mengenai arah kebangkitan NU di abad kedua. Yang tidak kalah penting, beliau relatif berada di luar tarik-menarik konflik yang selama ini berkembang sehingga berpotensi menjadi figur pemersatu," kata Alfanny.

Mantan Wakil Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta itu menambahkan, tantangan yang akan dihadapi NU pada masa mendatang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar kontestasi kepemimpinan. Perubahan geopolitik global, perkembangan teknologi, transformasi ekonomi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi isu-isu strategis yang membutuhkan perhatian serius dari kepemimpinan PBNU berikutnya.

Karena itu, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin PBNU diharapkan mampu menghadirkan kepemimpinan yang visioner, inklusif, adaptif terhadap perubahan zaman, sekaligus berorientasi pada peningkatan kualitas warga nahdliyin.

Alfanny juga mengingatkan bahwa sejak 2013, IKA PMII UI telah menggagas Visi Satu Abad NU yang melahirkan konsep Trilogi Pembangunan Manusia NU. Konsep tersebut menempatkan penguatan sektor pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan sebagai fondasi utama dalam membangun kemajuan organisasi.

"Kami berharap kepemimpinan PBNU ke depan, termasuk apabila dipimpin Gus Hery ataupun figur lainnya, mampu menjadikan pembangunan kualitas sumber daya manusia sebagai prioritas utama. NU memiliki modal sosial yang sangat besar. Kini saatnya modal itu diterjemahkan menjadi kekuatan pendidikan, kesehatan, kebudayaan, penguasaan ilmu pengetahuan, serta daya saing global warga nahdliyin," ujarnya.

IKA PMII UI menegaskan, Muktamar NU ke-35 semestinya menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus regenerasi kepemimpinan yang mampu memperkuat persatuan di tubuh NU. Di tengah berbagai tantangan nasional maupun global, organisasi membutuhkan sosok pemimpin yang mampu merangkul seluruh elemen, memperkuat kaderisasi, dan menghadirkan visi besar bagi perjalanan Nahdlatul Ulama pada abad keduanya.

"Bagi kami, yang paling penting bukan semata-mata siapa yang menang dalam Muktamar, tetapi bagaimana NU keluar dari proses tersebut dalam keadaan semakin solid, semakin dipercaya masyarakat, dan semakin mampu menjalankan peran strategisnya sebagai penjaga Islam moderat, perekat kebangsaan, sekaligus kekuatan peradaban dunia," tutup Alfanny. (*)