Jelang Muktamar Ke-35 NU, Gus Hery Ziarah ke Makam KH Idham Chalid, Kenang Jejak Kepemimpinan Sang Tokoh Besar

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Hery Haryanto Azumi (depan) melakukan ziarah ke makam almarhum KH Idham Chalid, didampingi cucu KH Idham Chalid, Khairi Fuady (kanan), dan sejumlah kader NU, di Kompleks Yayasan Darul Qur'an, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (6/7/2026) malam. (Foto: Gebrak.id)
Editor: Samsul Muarif

GEBRAK.ID, BOGOR – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Hery Haryanto Azumi melakukan ziarah ke makam almarhum KH Idham Chalid di Kompleks Yayasan Darul Qur'an, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (6/7/2026) malam.

Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian silaturahim Gus Hery kepada para masyayikh dan tokoh Nahdlatul Ulama sebagai ikhtiar memohon doa serta restu menjelang pelaksanaan Muktamar NU.

KH Idham Chalid dimakamkan di kompleks tersebut setelah wafat pada 2010. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah NU, sekaligus negarawan yang pernah memimpin PBNU selama hampir tiga dekade, yakni pada 1956 hingga 1984.

Dalam ziarah itu, Gus Hery didampingi cucu KH Idham Chalid, Khairi Fuady, yang turut mengenang kiprah sang kakek sebagai ulama sekaligus pemimpin bangsa.

Suasana berlangsung khidmat. Gus Hery bersama rombongan memanjatkan doa di pusara KH Idham Chalid sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dikenang karena keteladanan, kebijaksanaan, dan pengabdiannya kepada umat serta negara.

Khairi Fuady mengaku bersyukur masih ada kader NU yang memilih mengawali langkah menjelang Muktamar dengan berziarah kepada para pendahulu organisasi.

"Alhamdulillah, kali ini Gus Hery datang berziarah ke makam Abah KH Idham Chalid. Tradisi seperti ini sangat baik karena mengingatkan kita bahwa kepemimpinan NU selalu bertumpu pada sanad, adab, dan penghormatan kepada para pendahulu. Saya juga teringat, sebelum Muktamar beberapa tahun lalu, KH Said Aqil Siroj juga berziarah ke sini. Bagi kami, ziarah bukan soal politik, tetapi ikhtiar batin untuk memohon doa dan keberkahan dari perjuangan para ulama terdahulu," ujar Khairi.

Menurut Khairi, perjalanan hidup KH Idham Chalid menjadi bukti bahwa kepemimpinan dalam NU dibangun melalui proses panjang, keikhlasan, dan pengabdian, bukan ditentukan oleh latar belakang seseorang.

"Abah Idham berasal dari daerah di Kalimantan Selatan, putra seorang kiai kampung, tetapi beliau mampu memimpin NU dalam waktu yang sangat panjang sekaligus mengemban amanah besar untuk bangsa. Itu menunjukkan bahwa dalam NU yang dinilai bukan asal-usul seseorang, melainkan integritas, pengabdian, dan kepercayaan yang dibangun melalui proses panjang," kata Khairi menjelaskan.

Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Gus Hery Haryanto Azumi (kiri) melakukan ziarah ke makam almarhum KH Idham Chalid di Kompleks Yayasan Darul Qur'an, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (6/7/2026) malam. (Foto: Gebrak.id)
Sementara itu, Gus Hery mengatakan ziarah tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada salah satu tokoh besar Nahdlatul Ulama yang telah meninggalkan warisan kepemimpinan, kesederhanaan, dan semangat pengabdian.

"KH Idham Chalid adalah salah satu guru besar bangsa yang berhasil menjaga NU tetap kokoh di tengah berbagai perubahan zaman. Saya datang bukan untuk mencari simbol, tetapi untuk mengambil pelajaran dari keteladanan beliau. Semoga semangat pengabdian, kebijaksanaan, dan kecintaan beliau kepada NU dapat menjadi inspirasi bagi seluruh kader yang hari ini diberi kesempatan untuk berkhidmat," ujar Gus Hery.

Gus Hery menambahkan, Muktamar NU bukan sekadar forum memilih ketua umum baru, tetapi juga menjadi momentum melanjutkan estafet perjuangan para muassis dan tokoh-tokoh yang telah membangun fondasi organisasi selama lebih dari satu abad.

Ziarah ke makam KH Idham Chalid merupakan salah satu rangkaian ikhtiar spiritual yang dilakukan Gus Hery menjelang Muktamar NU ke-35. Sebelumnya, ia juga bersilaturahim kepada sejumlah ulama sepuh dan pengasuh pondok pesantren di berbagai daerah untuk memohon nasihat, doa, serta restu dalam ikhtiarnya mengabdi kepada Nahdlatul Ulama.

Bagi warga nahdliyin, tradisi ziarah kepada para ulama tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada pendahulu, tetapi juga sarana memperkuat nilai-nilai sanad, adab, dan semangat pengabdian yang selama ini menjadi fondasi perjalanan Nahdlatul Ulama dalam melayani umat, bangsa, dan negara. (*)