GEBRAK.ID, JAKARTA -- Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat membawa peluang besar bagi dunia pendidikan. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, teknologi ini juga memunculkan berbagai tantangan baru seperti penyebaran deepfake, disinformasi, kejahatan siber, pelanggaran privasi, hingga penyalahgunaan AI.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggandeng Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam menyiapkan generasi muda yang cakap memanfaatkan AI secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.
Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen dengan Polri sebagai landasan pelaksanaan Training of Trainer (ToT) Program Paham AI di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Melalui program tersebut, personel dari 12 Kepolisian Daerah (Polda) akan dilatih menjadi instruktur. Selanjutnya, mereka akan memberikan pelatihan kepada siswa SMA, SMK, dan sederajat di berbagai daerah.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan transformasi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara manusia belajar dan berpikir. Karena itu, kemampuan memanfaatkan AI harus dibarengi dengan karakter digital yang kuat.
"Peningkatan kompetensi digital tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi saja. Membangun karakter digital agar murid mampu memanfaatkan AI secara bijaksana juga tak kalah penting agar kehadiran AI bisa bermanfaat secara optimal," ujar Tatang.
Menurutnya, pendidikan tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan era digital. Sinergi dengan berbagai pihak menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem digital yang aman sekaligus melahirkan sumber daya manusia yang unggul.
"Kami meyakini bahwa pembangunan sumber daya manusia unggul memerlukan sinergi lintas sektor. Dunia pendidikan tidak dapat bekerja sendiri. Semoga kolaborasi ini semakin memperkuat upaya kita dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, relevan dengan perkembangan teknologi, serta mampu menyiapkan generasi Indonesia yang cakap digital," kata Tatang.
Sementara itu, Kepala Biro Teknologi dan Komunikasi Polri, Indarto, menjelaskan bahwa Program Paham AI merupakan langkah preventif jangka panjang untuk meningkatkan literasi kecerdasan artifisial di kalangan pelajar dan guru.
Indarto menilai perkembangan pemanfaatan AI di kalangan generasi muda berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan regulasi yang mengaturnya. Karena itu, pendekatan edukasi dinilai menjadi langkah paling efektif.
"Ini ruang untuk membangun kepercayaan antara Polri dan murid-murid. Kami harus hadir lebih awal melalui langkah-langkah preventif, menjadi mitra pendidikan sekaligus fasilitator bagi para guru dan murid," ujar Indarto.
Kemendikdasmen berharap melalui Program Paham AI, para pelajar Indonesia tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial untuk mendukung pembelajaran dan kreativitas, tetapi juga memahami etika, keamanan digital, serta risiko penyalahgunaan teknologi.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat literasi digital nasional sekaligus menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi transformasi digital secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
(Sumber: Kemendikdasmen)
