GEBRAK.ID, JAKARTA – Banyak pecinta sepak bola bertanya-tanya mengapa Piala Dunia FIFA masih mempertahankan pertandingan perebutan peringkat ketiga, sementara Piala Eropa (Euro) sudah lama menghapus format tersebut.
Perbedaan itu kembali menjadi sorotan pada Piala Dunia 2026 ketika Prancis dan Inggris harus saling berhadapan untuk memperebutkan posisi ketiga usai sama-sama gagal melaju ke final.
Di satu sisi, Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) menganggap laga tersebut masih memiliki nilai penting. Namun di sisi lain, UEFA justru menilai pertandingan perebutan juara ketiga sudah tidak lagi relevan sejak lebih dari empat dekade lalu.
FIFA Masih Pertahankan Perebutan Juara 3
Pertandingan perebutan tempat ketiga sudah menjadi tradisi panjang di Piala Dunia. Sejak rutin digelar mulai edisi 1954, laga ini selalu masuk dalam agenda turnamen, kecuali pada Piala Dunia 1950 yang menggunakan format berbeda.
Salah satu alasan utama FIFA mempertahankannya adalah nilai komersial yang sangat besar. Setiap pertandingan tambahan menghasilkan pendapatan dari penjualan tiket, hak siar televisi, sponsor, hingga iklan.
Selain itu, laga perebutan juara ketiga juga mengisi jeda antara semifinal dan final sehingga antusiasme penonton terhadap turnamen tetap terjaga.
Berpengaruh terhadap Ranking FIFA
Bukan hanya soal bisnis, pertandingan perebutan peringkat ketiga juga berstatus laga resmi FIFA sehingga hasilnya memengaruhi perolehan poin ranking dunia.
Tambahan poin tersebut dapat berdampak pada posisi unggulan sebuah negara dalam undian kompetisi internasional, termasuk babak kualifikasi Piala Dunia maupun turnamen resmi lainnya.
Bagi para pemain, pertandingan ini juga menjadi kesempatan terakhir untuk menutup turnamen dengan kemenangan sekaligus membawa pulang medali perunggu.
Tim yang finis di posisi ketiga juga memperoleh hadiah uang lebih besar dibanding peringkat keempat. Pada Piala Dunia 2026, FIFA menyiapkan hadiah sebesar 29 juta dolar AS bagi peringkat ketiga, sedangkan tim peringkat keempat menerima 27 juta dolar AS.
Lahirkan Banyak Rekor Bersejarah
Laga perebutan tempat ketiga juga melahirkan sejumlah catatan bersejarah di Piala Dunia.
Pada edisi 2002, penyerang Turki Hakan Sukur mencetak gol hanya dalam waktu 11 detik ke gawang Korea Selatan. Hingga kini, gol tersebut masih tercatat sebagai yang tercepat dalam sejarah Piala Dunia.
Sementara itu, legenda Prancis Just Fontaine memborong empat gol saat timnya mengalahkan Jerman Barat 6-3 pada perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1958. Ia mengakhiri turnamen dengan koleksi 13 gol, rekor terbanyak yang pernah dicetak seorang pemain dalam satu edisi Piala Dunia.
Pertandingan ini juga kerap menentukan peraih Golden Boot. Beberapa nama besar seperti Eusebio, Salvatore Schillaci, Davor Suker, hingga Thomas Mueller berhasil menambah koleksi gol di laga perebutan tempat ketiga sebelum akhirnya menjadi top skorer turnamen.
Pada Piala Dunia 2026, duel Prancis melawan Inggris juga menjadi peluang terakhir bagi Kylian Mbappe maupun Harry Kane untuk memperbaiki catatan gol masing-masing.
Banyak Dikritik
Meski memiliki sejarah panjang, keberadaan laga perebutan juara ketiga tidak lepas dari kritik.
Mantan pelatih Belanda Louis van Gaal pernah menyebut pertandingan tersebut seharusnya tidak perlu dimainkan karena hanya membuat tim yang gagal ke final berisiko menelan dua kekalahan beruntun.
Pendapat serupa juga pernah diungkapkan mantan pelatih Inggris Gareth Southgate. Menurutnya, tidak ada tim yang benar-benar ingin memainkan pertandingan perebutan tempat ketiga setelah gagal mencapai final.
Legenda Inggris Alan Shearer bahkan menilai laga tersebut tidak diperlukan karena para pemain lebih memilih mengakhiri turnamen dan kembali ke klub masing-masing.
Kenapa Euro Menghapusnya?
Berbeda dengan FIFA, Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) telah menghapus pertandingan perebutan peringkat ketiga sejak Euro 1984. Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan turnamen sebelumnya.
UEFA menilai pertandingan itu tidak cukup menarik minat penonton, memiliki nilai hiburan yang rendah, serta menambah beban fisik pemain yang sudah menjalani jadwal padat selama turnamen.
Sejak saat itu, dua tim yang kalah di semifinal langsung mengakhiri perjalanan mereka sebagai semifinalis tanpa harus memainkan satu pertandingan tambahan.
Prancis Vs Inggris Jadi Penutup Sebelum Final
Pada Piala Dunia 2026, tradisi tersebut kembali berlanjut. Prancis akan menghadapi Inggris pada laga perebutan peringkat ketiga yang digelar Minggu (19/7/2026) pukul 04.00 WIB di Stadion Miami.
Sementara itu, partai final akan mempertemukan Spanyol melawan Argentina sehari setelahnya di Stadion New York New Jersey.
Perbedaan kebijakan antara FIFA dan UEFA ini menjadi salah satu ciri khas dua turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. FIFA tetap mempertahankan perebutan juara ketiga sebagai bagian dari tradisi dan penghargaan bagi tim yang mampu bangkit setelah gagal ke final, sedangkan UEFA memilih menghapusnya demi efisiensi dan kepentingan para pemain.
(Berbagai Sumber)
