Editor: Devona R
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dalam Sidang
Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Jakarta, Kamis (16/7/2026). (Foto: Tangkapan layar Youtube BRIN)
GEBRAK.ID, JAKARTA – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menyatakan bahwa profesor riset harus menjadi teladan atau role model dalam menghadapi perubahan yang semakin cepat di era modern. Menurutnya, para profesor tidak cukup hanya memiliki gelar akademik tinggi, tetapi juga harus mampu melahirkan karya yang memberi inspirasi bagi masyarakat dan generasi penerus.
Pesan tersebut disampaikan Arif Satria saat Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Jakarta, Kamis (16/7/2026), bertepatan dengan pelantikan lima profesor riset baru di lingkungan BRIN.
"Saya berharap para profesor ini menjadi role model, menjadi teladan dalam rangka untuk merespons perubahan," ujar Arif.
Lima profesor riset yang dilantik berasal dari berbagai bidang strategis, yakni Johnny Walker Situmorang dari Pusat Riset Koperasi, Korporasi, dan Ekonomi Kerakyatan; Hidayat dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air; Tri Marwati dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan; Umi Muawanah dari Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan; serta Wahyu Pudji Nugraheni dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi.
Arif menjelaskan, seorang profesor riset idealnya berada pada level kepemimpinan yang lebih tinggi. Menurutnya, kepemimpinan tidak hanya sebatas mengelola diri sendiri atau memimpin orang lain, tetapi juga harus mampu memimpin perubahan bahkan mengarahkan masa depan.
"Level tiga dan level empat tidak semua orang bisa. Tetapi dengan gelar akademik yang tinggi dan pengalaman riset yang memadai, peluang untuk memimpin perubahan dan masa depan menjadi lebih besar," kata Arif.
Arif menilai kemampuan membayangkan masa depan menjadi salah satu syarat penting bagi seorang ilmuwan. Karena itu, hasil riset tidak boleh hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga harus mampu mengantisipasi tantangan di masa mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Arif juga mengingatkan pentingnya arah riset nasional yang selaras dengan perkembangan teknologi global. BRIN, kata dia, telah menyusun Peta Jalan Riset Nasional hingga 2035 sebagai panduan dalam menghasilkan inovasi yang relevan bagi pembangunan Indonesia.
Menurut Arif, banyak industri saat ini berpotensi tertinggal apabila masih bergantung pada teknologi lama yang perlahan menjadi usang. "Jangan sampai industrialisasi yang ada di Indonesia berbasis pada teknologi yang sudah ada saat ini, sementara teknologi terus bergeser dengan sangat cepat," tegasnya.
Arif juga mengajak para profesor riset untuk terus beradaptasi dan menghasilkan inovasi yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan bangsa, mulai dari ekonomi, pangan, kesehatan, hingga pengelolaan sumber daya alam.
Di akhir sambutannya, Arif menekankan bahwa inspirasi tidak lahir hanya melalui pidato atau kata-kata, melainkan melalui karya nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. "Makanya tak mudah menjadi sumber inspirasi karena inspirasi itu bukan semata-mata karena kata-kata, tapi inspirasi harus berbasis pada karya. Sehingga kita harapkan para profesor seperti ini harus punya karya-karya yang menginspirasi."
Pelantikan lima profesor riset baru ini diharapkan semakin memperkuat kontribusi BRIN dalam menghasilkan riset berkualitas yang mampu menjawab tantangan pembangunan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
(Sumber: BRIN)