Editor: Devona R
GEBRAK.ID,JAKARTA — Kelompok Perlawanan Islam (Hamas) secara resmi mengumumkan Khalil Al-Hayya sebagai Kepala Biro Politik baru mereka. Pengumuman ini menandai berakhirnya masa kepemimpinan kolektif sementara yang dijalankan sejak tewasnya pemimpin sebelumnya, Yahya Sinwar, pada Oktober 2024.
"Hamas mengumumkan pemilihan saudara mujahid Khalil Al-Hayya sebagai kepala biro politik gerakan tersebut, menggantikan pemimpin yang gugur, Yahya Al Sinwar," demikian pernyataan resmi Hamas sebagaimana dikutip oleh kantor berita AFP.
Proses pemilihan ini disebut berlangsung dengan mekanisme yang sangat kompleks dan rahasia, mengingat situasi keamanan yang sulit serta risiko pembunuhan yang mengintai para pemimpinnya. Al-Hayya dilaporkan berhasil mengalahkan kandidat kuat lainnya, Khaled Meshaal, dalam kontestasi kepemimpinan internal tersebut.
Figur Negosiator dan yang Selamat dari Serangan
Khalil Al-Hayya bukanlah nama baru dalam struktur kepemimpinan Hamas. Selama ini, ia dikenal sebagai figur sentral, terutama dalam perannya sebagai negosiator utama dalam pembicaraan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel . Ia menjadi ujung tombak perundingan yang pada Oktober 2025 lalu menghasilkan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat.
Lahir di Jalur Gaza pada tahun 1960, Al-Hayya adalah anggota veteran Hamas sejak organisasi ini didirikan pada 1987. Ia memiliki rekam jejak panjang dalam gerakan Islamis dan pernah mendekam di penjara Israel pada awal 1990-an.
Nasib pilu menyertainya sepanjang konflik. Al-Hayya kehilangan banyak anggota keluarga akibat serangan Israel. Pada 2007, serangan udara menghantam rumah keluarganya di Kota Gaza, menewaskan beberapa kerabat. Pada 2008, putranya Hamza gugur dalam serangan serupa . Pukulan terbesar terjadi pada perang 2014, di mana putra sulungnya, Osama, beserta istri dan tiga anaknya tewas ketika rumah mereka dibom. Selain itu, ia selamat dari upaya pembunuhan Israel di Doha pada September 2025, meskipun salah satu putranya menjadi korban dalam insiden tersebut.
Sinyal Kuat Pertahankan Aliansi dengan Iran
Terpilihnya Al-Hayya sebagai pemimpin Hamas juga membawa sinyal geopolitik yang kuat. Ia dikenal memiliki hubungan dekat dengan Iran, yang merupakan pemasok utama senjata dan dana bagi Hamas. Kemenangannya atas Khaled Meshaal, yang dianggap memiliki sikap lebih independen terhadap Teheran, menandakan bahwa pusat gravitasi politik Hamas akan tetap terkait erat dengan poros regional yang dipimpin Iran.
Posisi Al-Hayya sebagai perwakilan dari Jalur Gaza juga memastikan bahwa arah strategis kelompok tersebut akan tetap berpusat pada kantong Palestina tersebut, di tengah banyaknya pimpinan senior yang beroperasi dari luar. Tugas utamanya ke depan adalah memimpin rekonstruksi pasca-perang yang masif di Gaza serta mengelola hubungan dengan faksi-faksi Palestina lainnya.
( berbagai sumber)
