Konflik Iran-AS Kembali Memanas, Teheran Klaim Hantam Fasilitas Militer Amerika di Oman, Suriah, dan Yordania

Serangan rudal Iran ke fasilitas Amerika Serikat di Timur Tengah. (Foto ilustrasi: IRNA-OANA)
Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, JAKARTA -- Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeklaim telah melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Oman, Suriah, dan Yordania sebagai balasan atas serangan udara yang disebut dilakukan Washington terhadap wilayah Iran.

Dalam pernyataan resminya, Jumat (17/7/2026), IRGC menyebut pasukan Angkatan Laut Iran menghancurkan radar pemantau maritim di wilayah Salamah serta radar milik Amerika Serikat yang berada di Pulau Ghanam, Oman. Operasi tersebut disebut sebagai bagian dari gelombang ke-13 Operasi Nasr-2.

Tak hanya itu, Iran juga mengaku menyerang pusat komando operasi khusus Amerika Serikat di At Tanf, wilayah barat daya Suriah.

Menurut IRGC, serangan tersebut menghancurkan sistem radar, sejumlah helikopter operasi khusus, serta menimbulkan korban di pihak militer Amerika. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai klaim tersebut.

Iran menyatakan operasi militer itu merupakan respons atas serangan udara Amerika di sekitar Kota Iranshahr, Iran tenggara, yang diklaim menewaskan sedikitnya tujuh personel militer Iran, terdiri atas prajurit aktif dan anggota wajib militer.

Selain operasi di Oman dan Suriah, IRGC juga mengeklaim meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak atau drone ke fasilitas militer Amerika di Yordania. Dalam serangan itu, Iran menyebut berhasil menghancurkan beberapa pesawat pengisi bahan bakar serta jet tempur milik Amerika Serikat yang sedang disiagakan.

Eskalasi terbaru ini terjadi meski kedua negara sebelumnya sempat menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik militer pada pertengahan Juni 2026. Namun, situasi kembali memburuk setelah Iran menuduh Amerika Serikat melanjutkan serangan militernya sejak 8 Juli 2026.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militernya dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Iran yang dinilai mengganggu keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan jumlah korban akibat serangan Amerika Serikat terus bertambah.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengatakan hingga Jumat pagi waktu setempat, sedikitnya 38 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 400 lainnya mengalami luka-luka.

"Per pukul 06.30 pagi waktu setempat, jumlah orang yang terluka dalam serangan AS telah melampaui 400 orang, sementara 38 warga kami tewas," tulis Kermanpour melalui akun X.

Kermanpour menambahkan, korban meninggal dunia mencakup tiga perempuan, sementara 22 perempuan lainnya mengalami luka-luka. Di kalangan anak-anak dan remaja berusia di bawah 18 tahun, satu orang dilaporkan meninggal dunia dan sembilan lainnya terluka.

Sebelumnya, otoritas Iran melaporkan 35 korban jiwa dan sekitar 300 orang terluka. Bertambahnya jumlah korban menunjukkan konflik antara Teheran dan Washington masih terus meningkat.

Hingga saat ini, situasi di kawasan Timur Tengah masih berlangsung dinamis. Sejumlah klaim mengenai dampak serangan, khususnya terkait kerusakan fasilitas militer dan korban di pihak Amerika Serikat, belum dapat diverifikasi secara independen.

(Sumber: Sputnik/RIA Novosti)